
"Tristan meraih tanganku, " aku..aku takut tidak bisa membahagiakan mu jika..jika perusahaan ku bangkrut." Jelasnya.
" Yang ada dipikiranmu hanya perusahaan perusahaan dan perusahaan. Tidak pernakah Farah ada dalam pikiranmu? Tidak pernahkah engkau memikirkan, jika kau mati nanti, siapa yang akan menyayangi Farah? Ckck... Picik sekali, Tan." Aku mulai mengomeli Tristan.
" Aku takut, Dita.."
" Apa yang kau takutkan, Tan?" Tanyaku lebih tegas. Aku tidak percaya jika suamiku adalah lelaki yang lemah. Padahal dulu aku menikah dengan Tristan karena aku percaya bahwa ia akan mampu menjadi imam untuk keluarga kami, namun nyatanya ia sangat labil sekali.
" Apa yang kamu takutkan, Tan? Harta bisa kita cari bersama-sama, tapi kalau kamu mati karena hal konyol, aku akan menghidupi Farah sendirian. Kamu ngertikan maksud ku?"
Tristan hanya mengangguk angguk. Setelah itu tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia diam bak patung.
***
Tristan sudah boleh pulang, untuk sementara waktu kami tinggal di rumah mama. Menurut ku, itu jauh lebih baik. Jadi aku sendirian mengawasi Tristan. Ada mama dan papa yang bisa membantuku dalam menemani kesembuhan Tristan.
Beberapa telepon masuk pada ponselnya Tristan, selama sakit Tristan dilarang memegang ponsel. Jadi aku berusaha menghandle semua pekerjaan Tristan. Dan Tristan tidak keberatan.
Jadi sekarang aktivitasku adalah IRT sekaligus wanita karier. Meski berat, demi suami aku nekat melakukannya.
Setelah berpamitan pada suami juga Farah, aku berangkat ke kantor mengendarai mobil Tristan.
Ada rasa dag dig dug, karena sudah lama terbebas dari pekerjaan seperti ini.
Baru saja mobil terparkir, Alexa sudah berdiri menyambut disisi pintu sebelah kanan dengan senyum manis sekali.
__ADS_1
" Kamu akan kena prank, Alexa.." aku tersenyum sendiri.
Satu..dua...tiga... Aku membuka pintu. Bemar saja, saat melihat wajahku, senyum manis Alexa menghilang dari wajah cantiknya.
" Selamat pagi, Alexa..." Sapaku ramah. Ya. Tetaplah ramah meski bagimu Alexa adalah musuh. Mungkin itu motto hidupku yang tidak di ketahui oleh orang.
" Kenapa? Kaget?" Tanyaku sambil tersenyum.
Alexa celingak-celinguk, menunggu sosok Tristan muncul.
" Cari siapa sih?" Tanyaku lagi. Meski setiap pertanyaan ku tidak pernah di jawab.
" Mana calon suamiku?" Tanya Alexa dengan pongahnya.
" Calon suamimu? Yang mana Alexa? Apa kamu demam?" Tanyaku sambil tanganku berusaha memegang keningnya. Namun dengan cepat di tepis oleh Alexa.
Aku mengajak semua karyawan Tristan untuk berkumpul sejenak. Memberi informasi bahwa untuk beberapa waktu kedepan, sampai waktu yang tidak bisa di tentukan, akulah yang akan mengurus perusahaan.
Dan semua karyawan nampak terkejut, termasuk wanita sundel bolong yang mencintai suami orang. Akan ku pastikan dalam waktu dua hari dia akan keluar dari perusahaan ini.
***
Huft! Lelah sekali rasanya. Wajah manis Farah membuat aku ingin segera pulang. Rindu! Seperti inikah jika sudah menjadi ibu, namun dengan keterpaksaan harus meninggalkannya. " Ini berat sekali sayang..tapi ibu pasti bisa.." ucapku dalam hati penuh semangat.
" Bagaimana kerjaanmu hari ini Dit?" Tanya Tristan.
__ADS_1
" Baik, mas. Kamu cepat sembuh ya... Biar cepat kerja lagi." Ucapku lembut memberi semangat.
" Lalu Alexa?"
" Suttt... Jangan pikirkan wanita itu. Ada aku disini." Bisikku lembut. Ya.. memperlakukan Tristan dengan lembut bisa mempercepat depresinya berkurang.
Kami melewatkan malam ini dengan malam yang panjang. Bukankah itu suatu ibadah yang halal bagi suami istri dimata Allah?
***
Setelah setahun aku memegang perusahaan, akhirnya hari ini Tristan bisa kembali bekerja. Tristan sudah sehat, masalah Alexa sudah terselesaikan dengan baik. Kabarnya wanita sundel itu sudah pindah keluar negeri. Mungkin gantian depresi. Hihihi... Takdir memang tiada yang tahu ya.
Aku juga menggunakan sebagian tabungan almarhum papa untuk menyokong kemajuan perusahaan Tristan, tentu tanpa sepengetahuannya. Aku tidak mau jika ia akan merasa berhutang budi seumur hidupnya padaku.
Farah sudah besar, sudah pandai bicara meski belum jelas. Dan aku berharap bisa kembali memberikan adik, tentu aku berharap berjenis kelamin laki-laki nantinya.
Aku sedang santai menikmati hari-hari sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan Farah lebih sering berada di rumah mama. Kata mama supaya rumahnya tidak sepi. Sebagai menantu yang baik, aku tidak keberatan. Aku percaya mama dan papa bisa mendidik Farah dengan baik.
Ternyata benar ya, setelah melewati badai, maka pelangi akan muncul dalam kehidupan kita.
Baru kali ini aku menikmati hidup seperti orang lain. Aman tentram dan nyaman.
Dan aku percaya setiap pernikahan pasti akan ada ujiannya, aku percaya itu.
Meski sampai sekarang aku tidak bisa menemukan kabar mami dan Anaya namun aku percaya mereka pasti akan baik-baik saja. Karena meski mami menanam luka di hatiku, setiap detik aku berusaha untuk memaafkan semua masa lalu yang terjadi pada kami.
__ADS_1
Mami.. aku merindukan mu...
I love you Tristan.. Farah.. almarhum papi, papa dan mama, mami dan Anaya...