Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 25


__ADS_3

" Jangan sedih.. Anaya aman di tangan mama. Fokus saja merawat mami. Semoga mami cepat sembuh, ya. Biar bisa ngurus Anaya lagi."


Mama dan papa sudah pulang, aku dan Tristan duduk di sofa.


" Kira-kira kemana bajingan itu lari ya, Dit?"


" Entahlah, aku menyesal mengeluarkan bajingan itu dari dalam sel."


" Maaf.. aku ikut bersalah dalam hal ini." Ucap Tristan dengan penuh penyesalan.


" Semalam, waktu meninggalkan mami, perasaanku tidak enak, Tan. Entah mengapa tadi pagi niat untuk bertemu mami begitu kuat. Andai aku tidak datang...aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan mama..."


***


Sudah satu minggu mami dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah, keadaan mami semakin membaik.


" Dita, bagaimana kabar Anaya? Mami rindu."


" Anaya baik, mi. Dirawat sama mamanya Tristan. Mami fokus sembuh dulu, ya."


" Mami kapan bisa pulang ya, Dit?" Tanya mami gelisah.


" Tristan sedang bertemu dokter, mi. Mudah-mudahan nanti Tristan membawa kabar baik untuk kita."


Tidak berselang lama, Tristan masuk ke ruang rawat mami dengan wajah ceria.


" Seneng banget wajahnya, Tan?"


" Iya dong...hari ini mami kamu sudah boleh pulang. Administrasi sudah selesai di urus. Kita siap-siap, sambil menunggu obat ya. Seminggu lagi kita kontrol ya, tante."


" Terima kasih ya, nak Tristan. Kalau gak ada kamu.. tante tidak tahu nasib Tante sekarang." Ucap mami.


Aku yang tadinya biasa saja tiba-tiba merasa cemburu melihat mami menatap mesra ke arah Tristan.


Apa ini perasaan ku saja.. atau...mami mulai tertarik pada Tristan?


" Ehem..." Aku sengaja berdegem, Tristan labgsung membuang pandangannya ke arahku.


" Kamu tertarik sama mami?"


Tristan melongo mendengar ucapanku yang blak-blakan seperti tidak ada remnya.


" Kalau mami mau, ambil aja." Ucapku sambil menyusun barang-barang milik mami.


" Adita..Mungkin kamu pernah kecewa pada mami. Tapi...tolong jangan ungkit masalah itu lagi." Ucap mami menunduk sedih.


" Adita tidak lupa itu, mi. Tidak akan pernah lupa."


" Adita..!" Bentak Tristan padaku.


" Kenapa? Sekarang lebih berani bentak-bentak aku? Karena mami?"

__ADS_1


Tristan meremas rambutnya yang hitam. " Aku.. aku tidak tahu jalan pikiranmu." Tristan benar-benar marah padaku.


" Selamat sore..." Tiba-tiba saja mama dan Anaya datang.


Kami tidak ada yang menyahut. Semua diam. Suasana kamar ini hening bak kuburan.


" Loh, ada masalah apa?"tanya mama penasaran.


Mami mulai sesenggukan. Hingga membuat mama mendekat.


" Ada apa mbak?" Tanya mama kepada mami.


" Adita, ma.. selalu curiga pada mamanya sendiri." Adu Tristan pada mamanya.


Mama memberikan Anaya pada mami.


" Maaf loh mbak, bukan saya ingin membela Adita. Adita menjadi orang yang tidak percaya lagi pada siapa pun. Itu semua karena Adita pernah terluka. Tristan, jika kamu ingin menikahi Adita, coba pahami dia. Dia pernah terluka , Tristan. Dan bagi mama tidak mudah berdamai dengan diri sendiri. Mama paham itu. Tugas kamu Tristan, memberi kepercayaan pada Adita, bahwa kamu adalah lelaki baik-baik yang akan menyayangi Adita sampai akhir hayat. Bukan malah menyudutkan adita, Tristan."


Aku begitu terharu dengan pengertian mama, begitu paham dengan apa yangsedang ku alami.


" Oh iya, apa mbak sudah boleh pulang?"


Mami hanya mengangguk, mungkin malu pada wanita bijaksana yang ada di hadapannya sekarang. Di bandingkan dengan mama, mami tidak ada apa-apanya.


" Baiklah, berarti mbak akan pulang kerumah Adita, kan?" Tanya mama lagi.


" Sa-saya pulang kerumah kontrakan saja."


Aku emosi mendengar ucapan mami.


" Sabar Adita." Mama mengusap pundakku lembut.


" Ma, susah payah aku merawat mami disini sampai sembuh. Lalu dengan mudahnya mami ingin kembali kerumah itu. Apa mami tidak memikirkan Anaya? Mami egois mi. Jika tidak ada Anaya, silahkan mami tinggal dirumah itu. Lalu kalau mami mati di hajar bajingan itu, siapa yang harus mengurus Anaya? Aku? Aku gak bisa,mi. Wajah Anaya terlalu mirip dengan bajungan itu. Jika mami tidak mau berjuang demi aku, setidaknya demi Anaya. Buah hati mami dengan bajingan itu." Ucapku meledak-ledak. Untung saja ini kamar VIP, jadi todak ada yang mendengar perdebatan kami.


" Mbak.. tinggallah barang beberapa hari di rumah Adita. Setidaknya sampai mbak merasa benar-benar sehat. Bagaimana mbak bisa mengurus Anaya jika masih kondisi seperti ini?" Mama mencoba membantuku memberi nasihat.


" Mbak..saya malu jika haris merepotkan Adita." Ucap mami terisak.


" Tidak ada yang merepotkan mbak. Apa lagi mengiris ibunya sendiri." Ucap mama lagi.


" Ibu macam apa saya, mbak? Tega menancapkan luka di hati putri saya sendiri?" Sepertinya mami mulai menyesali perbuatannya selama ini.


" Semua itu masa lalu, mbak. Sekarang kita tatap masa depan. Ini saatnya mbak merangkul putri, mbak. Saya yakin, Adita pasti merindukan sosok ibunya." Nasihat mama.


" Dita, ayo peluk mami. Cium tangannya. Saatnya kalian menjalin tali silaturahim kembali. Ingat adita! Tidak ada mantan ibu, dan tidak ada mantan anak. Sampai matipun ini ibu mu. Tidak akan pernah berubah, sayang. Cobalah berdamai dengan diri mu sendiri dan berdamai dengan masa lalu mu. Buka hati mu untuk pria lain. Semua laki-laki tidak jahat, Adita. Hitam tidak selamanya hitam. Begitu pun putih.


Aku memeluk tubuh kurus dan keriput mami. Begitu banyak luka lebam di balik baju gamisnya. Apakah karma Tuhan sedang berjalan? Entahlah wallahu a'lam, hanya Allah yang maha mengetahui.


***


Malam sudah larut, tangis Anaya terdengar dari kamar papi yang di tempati mami.

__ADS_1


Aku memasuki kamar papi.


Terlihat mami sedang berusaha membujuk Anaya yang sedang rewel. Sesekali wajah mami menahan perih, mungkin lukanya masih terasa sakit.


" Anaya sakit, mi?"


" Eh.. Adita. Mami gak tahu kenapa rewel begini."


" Apa sudah minum susu?"


Mami terdiam, wajahnya berubah pilu.


Aku melihat beberapa dot Anaya yang berjejer rapi sudah bersih, namun terlihat kosong.


" Mi.. apa Anaya sudah minum susu?" Tanyaku lagi memecah lamunan mami.


" Su-sudah." Jawab mami gugup.


Karena penasaran dan tidak percaya dengan ucapan mami, akhirnya aku membuka bungkus susu di atas meja.


Bungkus susu itu terasa ringan. Aku membukanya, ternyata kosong.


" Susunya habis mi? Pantas saja Anaya rewel. Kenapa gak bilang sama aku sih, mi? Kan kasihan Anaya."


" Mami malu, Dit."


Aku hanya menggeleng melihat mami. Detik berikutnya aku segera meninggalkan mami.


Ku pakai jaket dan helm. Aku akan ke supermarket terdekat untuk membeli susu Anaya.


" Dit, mau kemana?"


" Beli susu, mi. Anaya tidak akan tenang sebelum minum susu."


" Bahaya Adita. Bisa saja di luar sana Dani sedang mengintai."


Seketika aku terdiam. Apa yang di bilang mami ada benarnya. Bisa saja Dani tidak melukai ku, tapi mami yang menjadi sasarannya.


" Jangan keluar ya..." Pinta mami memelas.


" Tapi mi..."


" Kamu punya gula?" Tanya mami.


" Untuk apa?"


" Kita coba pakai gula ya.. mudah-mudahan Anaya mau dan bisa tidur."


Mami pergi ke dapur untuk membuat air gula. Sementara aku mencoba mengajak Anaya berbicara agar tidak menangis.


Tidak lama mami muncul dengan membawa dot berisi air gula.

__ADS_1


" Bismillahirrahmanirrahim..." Mami memberikan dot berisi gula pada Anaya..namun Anaya menolaknya. Bahkan kini mulitnya di tutup. Anaya tidak suka air gula itu.


Aku duduk di ruang tamu. Kalut. Rengekan Anaya masih terdengar. Pasti bocah itu sekarang haus sekali. Apa yang bisa ku perbuat untuk adik tiriku itu?


__ADS_2