Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 39


__ADS_3

" Alexa." Ucapnya tersenyum penuh misteri.


" Adita, istri Tristan." Ucapku penuh penekanan. Kuharap dia tahu maksud dariku yang menyebutkan nama Tristan diakhir perkenalkan kami.


" Oh iya, apakah sudah siap acaranya? Farah sudah rewel dari tadi. Ku harap kita bisa pulang sekarang." Ajak ku pada Tristan tanpa basa basi.


" Eh i-iya kita sudah bisa pulang sekarang. Aku membereskan tas berisi perlengkapan Farah. Sementara Tristan tidak henti-hentinya diajak ngobrol oleh Alexa.


" Apa telinga mereka tuli, tidak bisa mendengar anak dalam gendongan ku menangis?" Aku mulai pitam menyaksikan ketidakpekaan Tristan pada Farah.


" Sudah siap ngobrolnya?" Aku bertanya dengan nada dingin.


" Alexa, aku pulang duluan. Sampai bertemu besok." Suamiku berpamitan pada Tristan.


" Oke, hati-hati Tan."


Cup..cup... Dengan santainya Alexa mengecup kedua pipi suamiku di depan mataku.


Mataku terbelalak hendak meloncat dari tempatnya. Di dadaku terasa panas seperti air yang baru mendidih. Jika tidak ingat ini tempat ramai, mungkin aku sudah mencakar wajah mulus Alexa. Ternyata Alexa mengibarkan bendera perang padaku. Dia sengaja membangunkan singa tidur. Dengan menahan amarah, aku berbalik melangkah kearah parkir mobil.


Setelah cupika cupiki Tristan segera menghampiri kami.


" Maaf sudah menunggu lama." Dia membuka pintu mobil.


Tanpa basa basi aku langsung naik dan mendaratkan bokongku di kursi mobil.


Ku nyalakan AC mobil dengan kekuatan tinggi. Farah sudah ku tutupi dengan selimut. Meski aku mulai gila, namun kesehatan Farah tidak ku abaikan.


" Kencang kali, yang." Tristan mengurangi kekuatan AC.


Cuih... Ingin muntah rasanya mendengar Tristan memanggilku sayang. Apa dia lupa kalau tadi mataku melihat dengan jelas, pipinya di cium oleh perempuan lain.


Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Untuk menghindari pembicaraan, sengaja aku menutup mata. Berpura-pura tidur.


***


Kami sudah sampai. Aku sudah mandi, begitu pun Farah. Aku memasang bendera perang pada Tristan dan juga Alexa.


Setelah memastikan Farah kenyang dan lelap. Aku pun ikut tidur disampingnya.


Aku todak ingin berbicara sepatah kata pun pada suami ku itu. Hingga dia datang dan duduk di kursi yang ada di kamar.


" Dit, kita butuh bicara." Ucap Tristan.


Aku tak menyahut, namun aku mendengar dengan jelas.


Melihat aku hanya diam, Tristan duduk di belakang punggung ku. " Kamu kenapa, Dit?"


Dasar lelaki tidak peka, sempat-sempatnya dia bertanya aku kenapa.


" Dit..." Dia menggoyang bahuku berkali-kali hingga aku melempar selimut kelantai. Tristan terkejut melihat aku menatapnya tajam.


" Kamu mau tahu aku kenapa?" Bentakku pada suamiku itu.

__ADS_1


" Jangan pakai emosi, Dit m kita selesaikan ini baik-baik." Tristan berusaha meraih tangan ku.


" Jangan pernah sentuh aku." Teriakku kencang.


" Kamu kenapa? Aku salah apa?"


" Dasar lelaki murahan. Kenapa tidak sekalian saja mesum didepan orang banyak. Apa kamu tidak bisa menjaga harga diri istrimu? Ada ikatan apa kalian, hingga kamu membiarkan perempuan sundel itu mencium pipimu?"


Tristan terduduk lemas di kursi sambil tangannya memijat keningnya.


Apa dia baru sadar kesalahannya?


" Dita, aku dan Alexa hanya rekan bisnis biasa. Tidak patut kamu cemburu. Papanya menanam bisnis di perusahaan kita. Dia mewakili papanya, hanya sebatas itu, Dit. Selama denganmu, tidak ada yang pernah aku tutupi." Tristan memberikan penjelasan.


Namun aku terlanjur tidak percaya pada suamiku sendiri.


Tidak ingin berdamai dengannya,aku memilih tidur. Hari ini bagiku sangat melelahkan. Bukan jiwaku saja yang lelah. Ragaku pun lelah sekali.


***


Pagi sudah datang, aku tidak menemui Tristan ada di ranjang. Mungkin dia memilih tidur sendiri.


" Silahkan saja, aku tidak perduli."


Ku cium pipi lembut Farah, malaikat kecilku. Dia masih tertidur pulas, seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada ibu dan ayahnya tadi malam.


Setelah mandi, aku keluar kamar. Sudah tercium aroma masakan dari dapur. Sudah ada Tristan dan papa yang sedang minum kopi.


" Dit..." Suara panggilan mama dari luar kamar.


" Masuk ma.." sahutku


Mama masuk kedalam kamar. Aku merasa kikuk dan tidak berani menatap wajah mama.


" Farah masih tidur, Dit?"


Mama mendekati cucu semata wayangnya. " Cucu oma... Persis sekali seperti ayahnya." Mama mengelus lembut pipi Farah sehingga dia menggeliat.


" Bangun yuk.. sudah siang loh ..masak anak gadis bangunnya siang..." Mama asyik sendiri mengajak Farah berbicara.


Ternyata berbicara sendiri dengan bayi sangat menyenangkan.


" Dit, makanlah lenih dulu. Biar mama yang mandikan Farah."


Ah..baik sekali bukan mama mertua ku? Tidak semua perempuan bisa seberuntung diriku.


" Kalau kita sedang memberi ASI, usahakan jangan sering terlambat makan." Nasihat mama padaku.


" Iya, ma."


Aku keluar dari kamar menuju meja makan. Papa dan Tristan sedang mengobrol. Saat pandangan ku bertemu dengan Tristan,aku segera membuangnya, pura-pura tidak perduli.


Aku makan dengan lahapnya. Masakan mama memang juara...

__ADS_1


Selesai makan ku beresi sisa - sisa piring kotor.


" Pa, lihat deh.. Farah sudah pandai telungkup sekarang... Duh.. mama tinggal disini saja. Mama pasti rindu setiap saat sama Farah." Ku dengar celoteh mama di ruang keluarga.


" Jangan aneh deh ma, kita kan punya rumah. Kalau kamu kangen sama Farah, ya datang saja setiap hari, iya kan cucu kakek.."


Sungguh keluarga yang hangat.


Selesai dari dapur, aku hanya melihat dari kejauhan.


" Adita..sini! Ngapain cuma berdiri."


Alamak..aku ketahuan. Tristan menatapku dalam.


Malu-malu, akhirnya aku mendekat.


" Ibu dan ayahmu sedang sakit gigi ya, Farah."


Mama menyindir kami melalui Farah.


" Enggak, ma. Iya kan sayang?" Tristan berusaha menutupi itu semua.


" Bagaimana oma bisa percaya, Farah. Sedangkan oma menemukan ayahmu sedang tertidur pulas di kamar tamu." Lagi-lagi mama menyerang kami melalui Farah.


" Kalau Farah sudah besar, pasti Farah akan mengadu sama oma." Ucap mama sendu.


Tanpa kata Tristan bangkit meninggalkan kami. Di ikuti oleh papa.


" Kalian berantem?" Tanya mama.


Aku menghela nafas berat, " boleh aku curhat, ma?"


" Tentu boleh. Kalian adalah anak mama, mama tidak ingin sesuatu terjadi pada pernikahan kalian."


" Ma.. mengapa begitu banyak perempuan tertarik pada ayah Farah?"


" Siapa lagi? Mengapa mama baru dengar?"


Aku menceritakan perihal Alexa pada mama. Tidak lebih dan tidak kurang. Termasuk saat Alexa dengan santai mengecup pipi Tristan.


" Serius Alexa mencium Tristan?" Tanya mama tidak percaya.


Aku mengangguk pilu, " iya ma."


" Kamu tenang, jangan banyak fikiran. Namti mama alan bantu kamu. Mama yang akan langsung menasihati Tristan." Ucap mama sambil mengusap bahu ku.


" Terima kasih ya, ma."


***


Mama dan papa sudah pulang. Namun aku dan Tristan belum berbaikan. Tristan masih enggan meminta maaf padaku. Bahkan Tristan tidak menggendong Farah saat menangis.


Tristan justru sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia tersenyum. Entah pada siap ia tersenyum? Hantukah? Setankah? Atau Alexa si perempuan gatal?

__ADS_1


__ADS_2