
Setelah cukup puas melampiaskan kekesalan ku dengan menangis, pelan-pelan aku keluar kamar. Aku mau mengintip aktivitas Dewi.
Aku mencari Dewi seperti pencuri. Bahkan jalan saja sampai tidak menimbulkan suara. Didapur enggak ada, lalu dimana dia? Apa di belakang?
Aku memutuskan untuk melihat Dewi ke belakang tempat penjemuran baju.
" Astaghfirullah.....ya Allah..." Aku tidak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapanku. Benarkah ini?
Dewi sudah pergi, aku segera menelpon si pemasang cctv
Tidak lama menunggunya, karena kami sudah diskusi sebelumnya.
Aku memberi tahu tempat-tempat yang sering di gunakan Dewi untuk mengurus baju Tristan. Di tempat pencucian baju dan penjemuran, di tempat setrika. Ya, aku yakin tempat itu adalah tempat untuk melampiaskan segala penyimpangan Dewi.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya cctv tersembunyi sudah terpasang dirumahku.
Aku tidak sabar menantikan kedatangan Dewi.
Sampai-sampai aku bolak balik berdiri di teras rumah untuk memastikan Dewi pulang.
Dan akhirnya...dari kejauhan Dewi pulang dengan membawa berbagai macam barang pesanan ku. " Memang enak." Batinku ngedumel sendiri.
Aku melihat Dewi sedang mencium cela*a dalam milik Tristan, suamiku. Ada perasaan jijik yang membuat aku menjadi mual dan ingin muntah.
Dewi begitu menghayati, seolah-olah cela*a dalam milik Tristan ada isinya.
Tuh kan, dari awal melihat Dewi, entah mengapa muncul rasa tidak suka yang berlebihan.
Aku lebih memilih menyingkir, menjauh dari penglihatan Dewi. Belum saatnya aku cerita pada Tristan atau pun mama jika aku belum punya bukti yang akurat bisa-bisa malah hubunganku yang memburuk dengan Tristan dan mama.
Aku juga yakin, Dewi bukan orang yang bodoh. Jangan sampai malah aku nantinya yang angkat kaki dari rumah ini.
" Bodoh..." Aku menyesali kebodohan ku karena lupa membawa ponsel. Seharusnya aku bisa langsung memvideokan perbuatan Dewi yang senonoh. Jadi dia tidak harus lama berada disini.
Apa yang harus ku lakukan? Otakku berfikir keras. Aku tidak ingin Dewi terlalu lama disini. Melihat wajahnya saja aku sudah ilfil. " Amit-amit..." Aku mengusap perutku berkali-kali. Takut saja karena terlalu benci sama Dewi, bisa - bisa wajahnya mirip. Lebih parahnya lagi, sifat. Oh ..aku tidak ingin itu terjadi padaku.
Ya. Aku harus memasang CCTV di rumah ini. Besok adalah gari yang tepat. Aku akan menyuruh Dewi untuk berbelanja kebutuhan sayur.
Secepat kilat aku mengambil ponsel. Lalu mulai mencari info pemasangan CCTV yang handal. Tetunya aku akan memasang CCTV secara tersembunyi. Aku juga harus merahasiakan ini dari Tristan atau siapa pun agar misi ku menangkap kelakuan aneh Dewi segera terungkap.
Cctv sudah dapat, besok tinggal kasih kabar saja kalau Dewi sudah pergi berbelanja.
" Lihat saja Dewi..." Umpatku kesal.
Untuk membuang suntuk, aku memilih untuk membuka aplikasi serba tahu, siapa lagi kalau bukan mbah susel. Aku mengetik sebuah kalimat.
Yah.. langsung muncul, ternyata Dewi mengidap sebuah penyakit Fetisisme. Dimana seseorang mempunyai kelainan *** dan akan merasa puas dengan benda-benda lain. Tapi..setahuku bukankah itu banyak menimpa kaum lelaki? Lalu Dewi? Mungkin Dewi adalah salah satu dari seribu wanita yang ada fi muka bumi ini.
***
Karena merasa lapar, aku memutuskan untuk memesan makanan instan saja. Aku merasa jijik jika harus makan hasil masakan dari Dewi.
Pesanan sudah datang, aku membawanya ke kamar. Hal yang tidak pernah kulakukan sebelum Dewi ada disini.
" Mbak mau makan? Dewi siapain ya?" Tawarnya padaku
__ADS_1
"Gak perlu. Aku bisa sendiri." Jawabku ketus.
Dewi menepuk bahuku kencang hingga aku spontan hampir mencakar wajah wanita sundel ini.
" Jangan songong jadi wanita, mbak." Ucapnya sambil tersenyum licik.
" Kalau aku mau, aku bisa saja mendepakmu dari rumah ini hari ini juga." Bentak Dewi.
" Ups. Kamu yakin dengan ucapan mu?" Tanyaku tidak percaya.
" Lihat saja. Mbak Dita sudah mengibarkan bendera perang dirumah ini." Ia tersenyum licik.
" Aku tunggu ya!" Aku melenggang pergi meninggalkan wanita sundel.
Hampir saja selera makan ku hilang. Ku nikmati nasi rendang dengan rebusan daun singkong dan sambal hijau kesukaanku. Dewi tidak penting sama sekali, kesehatan ku dan anakku adalah segalanya untukku.
Makan sudah siap, perut sudah kenyang. Waktunya minum susu hamil dan tidur siang. Nikmat hidup mana yang ku dustakan lagi.
Kubuang sampah, kuletakkan piring kotor begitu saja di westafel. Lalu lanjut buat susu dan membawanya kekamar. Semenjak ada ada Dewi, kamar menjadi tempat favorit ku.
Tring...
Satu pesan masuk dari Tristan, ( Dita jangan mengibarkan bendera perang dengan Dewi
Dewi itu wanita baik-baik. )
Cuihh... Jijik banget baca pesan dari Tristan. Aku menekan tombol blokir. " Biar tahu rasa. Aku bisa lebih gila, Tristan."
Ku baringkan tubuhku di atas ranjang.
" Jangan stres ya, Adita... Kamu harus sehat, kuat, juga bahagia." Aku mensugesti diri ki sendiri.
***
Malam sudah datang, aku terbangun kala lampu kamar di hidupkan.
Tristan sudah pulang, sedang berdiri menatapku. " Mau sampai kapan?" Ucapnya pelan.
Aku bangun, ada keheningan diantara kami berdua. " Tristan.. Tristan.. baru beberapa hari saja Dewi disini, kamu hampir tidak pernah membela ku sedikit saja. Bagaimana kalau sebulan saja dia di sini? Mungkin.. kamu akan mengusirku dari rumah ini." Aku mengambil handuk dan memilih masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhku juga supaya otakku lebih fresh.
Jujur... Aku kembali pada fase yang menyakitkan. Cukup lama aku berada dalam kamar mandi. Ketukan dari Tristan menyudahi mandiku malam ini.
Aku menunduk, menyembunyikan mataku yang sembab dan merah. Aku tidak perduli pada Tristan untuk saat ini. Sampai aku nanti bisa membuktikan siapa Dewi sesungguhnya.
Selesai mandi, aku melanjutkan lagi tidurku. Aku tidak berniat untuk makan. Diluar dugaanku, Tristan tidak makan malam. Dia ikut berbaring di sebelahku.
Yang aku tahu.. terdengar dengkuran halus dari Tristan yang menandakan bahwa dia sudah pulas tertidur.
Aku berbalik kearah Tristan. Kasihan sekali suamiku, dia harus ikut terdampak oleh problema yang terjadi.
Aku membelai pipi Tristan yang sekarang tampak tidak terurus.
Rambut -rambut halus yang biasa kita sebut jambang atau kumis mulai bertumbuhan di wajahnya. Padahal wajah ini selalu mulus seperti wajah opa-opa korea yang banyak di Gandrungi anak -anak remaja.
" Maaf ya, Tan." Bisikku lembut sambil mengecup pipinya.
__ADS_1
" Dimaafkan sayang.."
" Kamu belum tidur?"
" Sudah, tapi terasa ada yang nyayang."
Aku merasa malu karena ketahuan minta maaf sama Tristan. Tidak membuang waktu Tristan menarikku dalam pelukannya.
" Jangan marah-marah, jangan sedih-sedih, ya. Aku padamu." Ucap Tristan sambil mengecup keningku pelan.
Malam ini aku tertidur dalam pelukan hangat Tristan. Nyaman...hingga aku terlelap dalam buaian kebahagiaan.
***
Pagi sudah datang. Tidak ingin membuat masalah, aku beramah tamah pada Dewi. Aku juga tidak marah saat Dewi menuangkan nasi kedalam piring Tristan.
Aku hanya tertawa kecil di dalam hati.
" Lihat saja... Sebentar lagi , Dewi. Nikmati apa yang mau kau nikmati. " Ucap batinku tertawa girang.
Selesai makan, aku mengantar kepergian Tristan, " hati-hati ya, sayang." Ucapku mesra.
" Tumben mood kamu bagus banget pagi ini. Gak ada juteknya sama Dewi?"
Aku tersenyum penuh kepalsuan, namun masih ku buat senatural mungkin.
Aku melambaikan tangan pada Tristan.
Huft! Lega rasanya melihat Tristan sudah berangkat kerja. Sekarang waktunya membereskan kutu kupret.
" Dewi..!" Panggil ku.
Dewi datang dengan wajah arogannya, " belanja dong!" Perintahku sambil mberi uang dan daftar belanjaan.
" Kenapa sekarang sih? Aku mau nyici baju dulu."
Aku terdiam sejenak. Gawat kalau Dewi haris nyuci baju dulu sebelum aku memasang cctv.
" Em.. aku lagi pengen buah. Jadi nyucinya siangan aja." Aku mencari alasan.
Dewi menghentakkan kakinya ke lantai. Heran aku, siapa sih nyonya nya sebenarnya?
Dewi pergi membawa keranjang belanjaan. Dia mengeluarkan motor matik yang dulu sering kupakai.
" Sebentar lagi .." aku kegirangan membayangkan itu.
Aku tidak sabar menunggu dewi pulang.
Hingga dari kejauhan, Dewi tampak kesusahan membawa barang-barang pesananku. " Memangnya enak." Aku mengejek dalam hati.
Dewi masuk dengan wajah yang masam.
Dia langsung menyusun belanjaan.
Aku pura-pura mau tidur kedalam kamar.
__ADS_1
Padahal aku sedang memantaunya di kamar.
Satu...dua..tiga...