
"Suami saya selingkuh bu... Dengan..." Aku meragu untuk berkata jujur.
" Dengan...?" Bu Ramita tidak sabar melanjutkan ucapanku.
" Dengan.. ibu kandung saya sendiri." Air mata kembali meluncur dengan bebas. Masa kelam yang sudah ku kubur kembali ku bangkitkan lagi. Sesakit itukah? Hingga setiap masa itu di kulik aku selalu menangis.
" Ya Allah... Yang sabar ya, nduk. Ibu tidak menyangka jika luka masa lalu mu begitu dalam. Maaf.. ibu tidak bermaksud mengulik kisah masa lalu mu." Beliau mengusap rambut dan memelukku erat. Beliau merasa bersalah melihat keadaan ku yang rapuh.
Ya Allah.. sudah lama aku tidak mendapatkan pelukan kasih dari seorang ibu. Aku merasa menemukan ibu baru. Dan aku merasa nyaman berada dalam pelukan ibu Ramita. Ya Allah...terima kasih sudah mengirimkan wanita seperti bu Ramita.
Sekarang aku pasrah jika suatu saat bu Ramita akan berubah karena tidak suka dengan status yang kusandang.
***
Hari ini aku sudah pulang dari rumah sakit. Bu Ramita dan pak Wijaya juga Tristan sudah menjemputku. Dengan sigap Bu Ramita mengumpulkan semua peralatanku.
" Ibu.. biar saya saja.." aku merasa rikuh dengan perlakuan baik yang diberikan bu Ramita padaku.
" Santai saja.. tidak usah segan."
Aku menatap Tristan, Tristan hanya menaik turunkan alisnya. Ia menggodaku.
Setelah mengurus biaya perobatan, akhirnya aku bisa pulang. Tristan menanggung semua biaya rumah sakit.
Karena belum bisa berjalan akhirnya aku di dorong Tristan menggunakan kursi roda. Terima kasih ya Allah...sudah mengirimkan oran baik padaku.
***
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya kami sampai dirumah kontrakan milikku.
Aku berjalan tertatih di bantu oleh Tristan masuk kedalam rumah sementara pak Wijaya dan Bu Ramita membawa tas perlengkapan dan juga obat untukku.
" Mau minum apa pak, buk?" Tawarku pada mereka.
Bukannya menjawab, mereka malah kompak tertawa. Aku menjadi serbah salah. Apanya yang lucu? Batinku menggerutu.
" Dita, kamu kan sedang sakit. Enggak perlu repot-repot nawarin kita minum. Kalau haus kita bisa ambil sendiri. Iya kan, ma?" Ucap pak Wijaya pad istrinya.
Bu Ramita tersenyum. " Iya nduk. Sekarang fokus pada pemulihan kamu. Sebenarnya ibu takut meninggalkan kamu sendirian disini dalam keadaan sakit. Andai kamu tidak keberatan, tinggallah di rumah kami barang beberapa hari saja. Sampai kamu benar-benar pulih."
__ADS_1
Nikmat Tuhan mana lagi yang ingin ku dustakan. Tuhan menggantikan orang lain untuk melindungiku.
Papi pasti sudah tenang disana melihat aku di lindungi.
" Bagaimana Dit? Kok malah melamun." Suara Tristan membuyarkan lamunanku.
" Pak, buk.. juga Tristan.. terima kasih.. terima kasih sekali ..sudah peduli dengan keadaan saya. Biarlah saya belajar mandiri. Keadaan saya juga sudah mulai membaik. Insya Allah saya akan segera pulih. Dan Tristan..saya mohon izin beberapa hati tidakasuk bekerja."
" Saya pasti akan rindu dengan kamu."
Hah! Dasar Tristan lebay. Bisa-bisanya dia ngomong seperti itu di depan orang tuanya. Aku menutup wajahku. Malu sama tingkah Tristan yang bar-bar.
Kurasa urat malunya sudah mulai putus satu persatu.
Akhirnya setelah sore Tristan dan keluarganya pamit dari rumah. Aku tidak bisa mengantar sampai didepan pintu. Setelah mereka benar-benar menghilang, dengan jalan tertatih-tatih aku mengunci pintu dengan rapat.
Jujur, aku trauma dengan hal yang ku alami. Dalam hidupku, tidak pernah terbayangkan akan mendapat perlakuan kasar dari mas Dani.
Entah bagaimana dengan nasib mami. Aku belum mencabut laporan mas Dani karena Tristan menolak mentah-mentah rencana itu. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah memaafkan perbuatan keji mas Dani. Bagi Tristan, mas dani adalah pecundang yang harus merasakan dinginnya jeruji besi. Entahlah.. aku dilema dengan semua ini.
***
Ini hari ketujuh setelah mas Dani melakukan kekerasan padaku. Hari ini kesehatan ku sudah benar-benar pulih. Hari ini aku akan kembali berangkat bekerja. Sebelum berangkat, pagi-pagi sekali aku sudah masak. Rencana makanan ini akan ku bawa ke rumah bu Ramita. Sebagai balas budi dan ucapan terima kasih dariku untuk bu Ramita dan pak Wijaya, karena sudah peduli padaku di masa sulit kemarin. Setelah ku tata dengan rapi, aku mulai melajukan motor maticku kerumah Bu Ramita. Mudahan-mudahan beliau sekeluarga senang dengan buah tangan yang ku bawa hari ini. Sengaja aku datang lebih pagi, supaya makanan ini bisa di makan saat sarapan.
" Permisi.." aku memanggil satpam yang sedang duduk di pos.
Pak satpam mendekat ke arahku.
" Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pak satpam dengan ramah.
" Em.. anu pak.. saya mau ngasih ini untuk bu Ramita." Aku memberikan rantang berisi makanan pada pak satpam.
" Dari siapa ya non?"
" Bilang saja dari Adita."
Pak satpam itu membawa rantang berisi makanan ke dalam rumah. Aku segera memacu sepeda motorku dengan kencang. " Ya Allah... mudah-mudahan mereka suka." Doaku dalam hati.
Kuarahkan laju motorku ke arah kantor. Tidak butuh waktu lama aku sudah sampai. Setelah ku parkir, aku segera menuju ruang kerja. Beberapa sahabat menyambut kedatanganku.
__ADS_1
" Selamat bekerja kembali Adita..." Kata mereka sambil memelukku erat.
***
Aku berdiri mematung di depan pintu ruang kerja ku. Ada rasa trauma untuk masuk kedalam. Peristiwa itu berputar-putar di kepala ku. Ya Allah..aku tidak bisa masuk keruangan itu..
" Adita..," Tristan menepuk bahuku.
Wajahku langsung berubah bete.
" Pagi-pagi sudah bete aja. Nih.." Tristan memberikan rantang kosong milikku.
" Terima kasih ya. Bubur ayamnya enak, mama sama papa suka. Bahkan aku cuma kebagian sedikit."
Aku hanya tersenyum, dalam hati merasa senang mendengar pujian dari Tristan.
" Kenapa duduk disini? Kok gak masuk?"
" Aku... Aku takut."
" Disini aman, bajingan itu sudah mendekam di sel. Dan ku pastikan ia takkan menginjakkan kakinya di kantor ini lagi."
Aku bisa sedikit bernapas lega.
" Oh iya, bagaimana dengan permintaan mamimu? Apa kamu akan mencabut laporan itu? Kalau aku sih inginnya dia tetap berada dalam tahanan. Ya minimal sebulanan lah."
Aku hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Tristan menemani aku bekerja hari ini. Meski ia hanya sekedar bermain ponselnya, tapi kehadirannya disini menimbulkan rasa nyaman.
***
Waktu pulang kerja telah tiba. Hari ini aku diajak Tristan kerumahnya. Tadinya aku menolak, tapi bukan Tristan namanya kalau ia tidak berhasil membujukku. Kami pulang terlebih dahulu keeumahku untuk mengantat sepeda motor milikku, lalu setelah itu kami akan berbarengan kerumah Tristan.
Sepeda motor sudah beres. Aku izin mandi sebentar dan merias wajah agar lebih menarik.
Karena ini acara informal, aku memilih jeans yang tidak terlalu santai kemudian kupadukan dengan kemeja yang lagi ngetrend sekarang. Tidak lupa jilbab warna senada bertengger menutupi kepalaku.aku juga merias wajah dengan riasan sederhana, namun tetap tampil segar.
Merasa sudah puas dengan penampilanku, aku segera keluar dari kamar untuk menemui Tristan yang sedang menunggu di ruang tamu.
" Ya ampun..malah tidur." Aku tertawa cekikikan. Karena merasa tidak tega, aku membiarkan Tristan tidur. Aku duduk disampingnya sambil bermain ponsel.
__ADS_1
Butuh kesabaran sekitar dua puluh menit agar Tristan bangun sendiri. Ia mengucek-ngucek matanya.
Dan saat netra jami bertemu tiba-tiba, " Hah!" Tristan terlonjak kaget.