
Dita, mami berhak untuk bahagia. Kamu gak boleh jadi orang yang mengatur hidup mami."
" Aku hanya ingin mami panjang umur Tan. Hanya itu saja. Dani bukan lelaki baik-baik. Dan aku tidak rela, Tan. "
" Tidak rela karena kamu belum move on dari cintanya Dani?"
Aku mengernyitkan dahi, sejak kapan Tristan bersikap seperti ini? " Kamu cemburu?" Tanyaku.
" Tidak. Untuk apa cemburu pada hal yang tidak penting."
Ucapan Tristan begitu menyakitkan untukku. Setidaknya jadilah tim suporter buatku bukan malah menjatuhkan mentalku.
" Pernikahan kita masih seumur cambah, tapi kamu tidak perduli pada masalah yang terjadi sekarang."
Tristan hanya diam. Dan sepanjang perjalanan kami hanya diam sampai dirumah. Untung saja mama dan papa belum pulang. Jadi aku bisa leluasa untuk masuk ke kamar tanpa harus pura-pura ramah dan baik-baik saja.
Untuk pertama kalinya, tangis ku pecah di rumah ini. Masalah yang berlarut dan tiada habisnya membuat kepalaku rasanya ingin meledak.
Aku berharap Tristan datang dan meminta maaf padaku. Nyatanya sampai air mataku mengering dia belum juga masuk ke kamar ini. Apakah sifat lelaki memang seperti itu? Ketika dia sudah memiliki wanita itu, maka sifat buruknya akan keluar. Dan aku merasakan itu pada Tristan.
Aku memutuskan untuk tidur lebih dulu setelah puas menangis.
***
Suara alarm berbunyi memekakkan telinga. Lagi-lagi aku tersadar, Tristan sedang memelukku. Tangannya melingkar erat di pelukku.
Aku menyingkirkan tangan itu pelan-pelan agar sang pemiliknya tidak merasa terganggu.
" Mau kemana?"
Dasar! Tahu aja tangannya di pegang.
" Mau kemana yang?" Panggil Tristan lagi
" Sudah pagi. Sholat dulu. Nanti kalau mau tidur di lanjut lagi."
Entah kerasukan apa Tristan langsung bangun dan mengambil handuk.
" Aku mandi duluan ya." Ucapnya sambil menggeloyor pergi.
Hadeh.. aku yang bangun duluan. Dia yang mandi duluan. Aku pun berinisiatif untuk menyiapkan beberapa pakaian kerja milikku dan Tristan. Ini hari pertama kami kerja sebagai sepasang suami istri.
Tidak lama Tristan keluar dari kamar mandi. Dan langsung memakai baju koko dan sarung.
Aku bergegas mmpergi mandi. Takut Tristan terlalu lama menunggu untuk shalat berjamaah.
Setelah selesai mandi dan berwudhu aku segera keluar. Tidak ku dapati Tristan di kamar, kemana dia?
Karena takut tertinggal waktu subuh, aku segera shalat sendiri. Nanti akan kutanyakan setelah bertemu Tristan.
Selesai shalat, aku belum juga melihat Tristan. Dimana dia?
" Cari Tristan?"
Suara mama mengejutkanku.
" Eh iya ma. Mama ada lihat?"
" Lagi ke mesjid shalat subuh sama papa."
__ADS_1
Ada perasaan lega. Ternyata Tristan tidak pernah lupa pada Tuhannya.
" Masak yuk." Mama menarik tanganku ke dapur.
" Tristan suka sarapan apa, ma?"
" Kalau Tristan jarang sarapan. Pagi-pagi dia cuma sarapan roti aja sama kopi. Mama heran, tuh anak perutnya kayak orang bule. Sementara mama dan papa setiap pagi itu harus, bahkan wajib banget untuk sarapan." Mama tersenyum kecil.
" Assalamu'alaikum.." terdengar salam dari papa dan Tristan.
Masya Allah...betapa terpesonanya aku melihat penampilan Tristan.
" Biasa saja lihatnya, sayang." Tristan menggodaku hingga membuat aku malu.
" Oh ya ma, pa, rencananya Tristan nanti sore mau pindah rumah."
" Pindah kemana, Tan?" Sungguh aku tidak mengerti.
" Loh Tristan belum cerita sama kamu?" Mama keheranan.
Tristan hanya cengar-cengir mirip kerbau di saqah
" Sengaja ma, buat kejutan sama ayang istri."
Papa dan mama hanya geleng kepala melihat kekonyolan putranya.
" Rumahnya sudah bersih, Tan?" Papa mulai angkat bicara.
" Sudah pa, semalam Tristan sudah menyuruh orang untuk membersihkannya." Jawab Tristan santai.
" Baguslah kalau begitu. Papa senang kamu sudah banyak berubah. Setidaknya jadilah lelaki yang peka dan bisa diandalkan oleh istrimu dan kelak anakmu." Papa menepuk punggung putra tunggal yang paling disayanginya.
" Tan.. deg-degan deh.."
" Malu punya suami kayak aku?"
Aku menepuk bahunya." Aku bangga punya suami kayal kamu."
Tristan meraih wajahku dan mengecupnya mesra.
Kami sudah tiba di kantor. Dengan pedenya Tristan menggandeng tanganku.
" Suit...suit... Pengantin baru ni ye..." Beberapa karyawan Tristan dengan sengaja menggoda kami."
" Gimana bos...sudah belah duren?"
Teriakan beberapa karyawan merangkap teman Tristan semakin santer. Tristan hanya tersenyum sambil mengangkat jari jempolnya.
Ya Allah...ingin rasanya aku menutup wajah ini. Malu...!.
Aku sampai di ruangan kerja, Tristan masih menemani aku.
" Kok masih disini?" Tanyaku manja.
" Mau ngontrol istri." Alis Tristan naik turun menggodaku.
" Apaan sih pakai di kontrol segala."
" Susah dapetin kamu.. butuh perjuangan. Jadi kalau sudah dapat ya mesti di jaga ketat." Kelakarnya.
__ADS_1
" Gombal."
" Sayang, sebentar lagi ada karyawan baru yang akan menjadi patner kamu kerja."
" Oh iya? Bagus dong."
" Tapi laki-laki." Ucapnya lesu.
" Terus kalau laki-laki memangnya kenapa?"
" Ya kalau bisa jangan. Aku tuh sebenarnya nyari perempuan, tapi kalau di bagian ini jarang ada yang mampu. Makanya aku tuh salut banget sama ide-ide kamu yang cemerlang."
" Kamu cemburu ya .." aku menggodanya.
" Ya karena aku cinta, kamu istriku.. ya iyalah aku cemburu. Aku hanya takut saja disaat ada tugas di luar kota, aku gak bisa nemenin kamu."
" Kalau lelaki itu baik.. Insya Allah..semua akan baik-baik saja, Tan. Beda hal kalau orangnya seperti Dani."
" Iya deh. Aku balik keruangan ya, nanti istirahat kita makan bareng." Tristan mengecup keningku.
Duh...ternyata enak ya kerja sekantor sama suami. Gak nyangka banget.
Aku mulai bekerja, banyak banget kerjaan yang menumpuk akibat dari cuti satu minggu.
***
Jam pulang kantor sudah tiba. Kami berjalan beriringan menuju mobil. Bagi karyawan yang lain aku adalah wanita beruntung karena berhasil menggaet bos perusahaan.
Tujuan kami saat ini bukan kerumah mama, tapi kerumah baru kami.
Tristan mengarahkan mobil ke perumahan elit. Begitu asri komplek perumahan ini. Dan kami berhenti di sebuah rumah bercat putih.
Pintu gerbang di buka oleh seorang satpam. Di bajunya tertulis nama Didin.
Aku menganggukkan kepala sebagai tanda menyapa.
Kami turun dari mobil. Kaki gemetar, ada perasaan haru yang menyelinap masuk ke dalam hati.
Mataku juga mengembun. Tristan menggenggam tangan ku.
" Dingin sekali tanganmu."
Ah. Malu rasanya karena ketahuan Tristan.
Tristan membuka pintu mewah ini. Ruang tamu yang sudah terisi sofa tertata dengan rapi. Tidak lupa ada foto kami berdua terpampang di dinding dengan ukuran yang besar. Jangan tanya lagi, mataku basah. Aku terharu. Kemudian kami melihat semua ruangan yang ada di rumah ini, aku suka.. semuanya aku suka. Apa lagi di ruangan kamar. Warna biru kesukaan ku menghiasi setiap sudut ruangan ini. Di tambah lemari pakaian dengan kaca terpasang disana.
Kamar impianku...dan Tristan sudah mewujudkan.
" Kamu suka?"
Aku memeluk Tristan erat. Berjinjit lalu mencium pipi suamiku ini.
" Terima kasih, sayang..."
Tristan lalu menunjukkan sebuah map padaku.
" Ambillah!"
Kuambil map itu, lalu ku buka. Ada namaku tertera disana.
__ADS_1
" Apa ini?"