Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 24


__ADS_3

Mami dan Anaya melambaikan tangan pada kami. Sekilas aku melirik pada lelaki yang sedang duduk menunggu mami membuka pintu rumahnya. Wajahnya begitu keras seperti sedang menahan emosi.


Aku jadi kepikiran sama mami. Walaupun rasa benci ku begitu besar pada mami, tapi aku juga tidak ingin mati konyol di tangan lelaki itu.


" Sedang memikirkan apa Dit?"


Tristan membuka cerita diantara kami.


" Rumah mami, bukan rumah yang dulu pernah ku temui. Sepertinya banyak hal yang di sembunyikan mami dari kita. Tan, aku takut mami mati konyol di tangan lelaki itu.." ujarku kalut.


" Banyak berdoa buat mami, sayang.. belajar untuk memaafkan mami." Perkataan Tristan menyejukkan hatiku. Bak oase di padang tandus.


" Belajar berdamai, mungkin lebih baik. Agar kita bisa segera melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi."


" Insya Allah..aku mau minta petunjuk Allah dulu, Tan. Mudah-mudahan kamu jodoh terakhir tang di kirim Tuhan untukku.


Tristan mengamini ucapan baikku.


***


Tepat sebulan menggantung hubungan ini, akhirnya aku yakin jika Tristan adalah jodohku. Tristan tidak pernah meninggalkan aku dalam keadaan apa pun. Kerap kali Tristan memberikan dorongan padaku disaat aku terpuruk.


Hari ini, sebelum aku memberi tahu Tristan, aku berencana untuk kerumah mami. Untuk memulai hidup baru, aku harus berdamai terlebih dahulu dengan kisah masa laluku. Dan aku ingin meminta restu mami. Jika bukan dengan mami lalu pada siapa? Aku tidak punya saudara lagi.


Tidak ingin merepotkan Tristan, aku memesan ojek untuk sampai kerumah kontrakan mami.


Tidak susah mencari alamat mami, kebetulan kang ojek sudah paham dengan rute tang ingin ku tuju.


Sesampainya di depan rumah mami, aku segera turun dan membayar ojek.


Sebelum melangkah kerumah mami, aku mengamati sekeliling daerah di sini. Sepi.


Bahkan kiri dan kanan tetangga kami terlihat kosong.


Aku menenteng satu plastik buah-buahan sebagai oleh -oleh. Tapi..belum sempat aku mengetuk pintu, ku dengar teriakan mami menangis meminta ampun.


" Ampun mas... Jangan siksa aku lagi...ampun mas..." Teriak mami pilu dari dalam.


Seketika badanku gemetar, lidahku kelu bahkan tubuhku kaku. Aku hanya berdiri mematung tanpa harus tahu akan melakukan apa.


" Mas...ampun mas.. sakit mas.. sakit badanku mas..hentikan..."


" Dasar pelacur! Wanita murahan,cuih!" Kudengar Dani memaki mami.


Apa yang terjadi dengan mereka? Jatuh sudah air mataku, tidak ingin sesuatu terjadi aku segera mengirim pesan singkat pada Tristan. ( Tan, aku di rumah mami. Tolong cepat datang kesini. Sesuatu buruk terjadi pada mami.)


Aku berharap Tristan akan segera sampai untuk menolong mami. Aku tidak punya nyali untuk masuk sendiri kedalam rumah.

__ADS_1


Ku dengar lengkingan tangis Anaya, " Cukup mas, jangan sakiti juga Anaya, Anaya masih kecil. Kalau kamu mau bunuh saja aku sekarang." Teriak mami kencang.


" Iya..memang seharusnya begitu, kamu pantas mati. Aku menyesal menikah denganmu dan meninggalkan anakmu, Adita. Hari ini juga, kau akan mati di tanganku." Teriak Dani dari dalam.


Takut sesuatu hal terjadi dengan mami, dengan langkah gemetar, kuberanikan untuk menggedor pintu rumah mami.


Bug.. bug..bug...


" Mami... buka pintunya mami.." teriakku.


" Adita...tolong mami, nak." Suara mami seperti tercekik di tenggorokan dan tangisan anaya semakin histeris.


" Dani...jangan macam-macam kamu!" Aku semakin kuat memukul pintu berharap bisa terbuka sebelum terlambat.


Memang pada dasarnya perumahan kontrakan ini sepi, jadi tetap saja tidak ada yang menolong.


Aku mencoba mengintip mami dari kaca rumahnya yang tertutup horden. Ada Anaya yang sedang menangis kencang di lantai sementara mami dengan suara yang makin melemah. Aku mengambil ponsel berharap Tristan segera datang. Belum sempat aku menelpon, mobil tristan sudah terparkir di depan halaman rumah mami.


" Tan cepat Tan! Tolongi mami didalam."


Tanpa banyak tanya Tristan berusaha mendobrak pintu rumah ini. Hingga butuh tiga kali tendangan akhirnya pintu ini rubuh. Untung saja tidak mengenai Anaya.


Aku segera mengangkat tubuh kecil Anaya dari lantai. Sementara Tristan masuk kekamar untuk melihat keadaan mami.


" Dita, mami pingsan. Kemana Dani?" Teriak Tristan panik.


" Tan, kita harus bawa mami kerumah sakit sekarang."


Tristan memapah tubuh mami kedalam mobil. Kami segera membawa mami untuk mendapatkan pertolongan pertama.


***


Anaya sudah tertidup lelap dalam pangkuanku. Setelah mami mendapatkan perawatan, aku dan Tristan membeli susu dan dot baru. Tak lupa pampers, baju ganti Anaya dan mami.


Ku pandangi wajah mungil Anaya. Sekilas ada wajahku yang tertinggal disana. Kasihan dia, harus mengalami kegetiran hidup di usia yang masih sangat dini.


Ini untuk pertama kalinya aku mencium pipi putih dan lembut Anaya.


" Kakak akan merawatmu, Anaya." Janjiku pada bocah malang yang ada dalam pangkuanku.


Tristan duduk disebelahku. Dia baru saja memberi kabar pada mama, bahwa kami sekarang di rumah sakit.


" Apa kata mama, Tan?"


" Mama dan papa akan datang."


Aku mengangguk. Sesekali jemariku mengusap butiran air yang menetes di wajahku.

__ADS_1


" Jangan sedih, aku ada buat kamu." Ucap Tristan memelukku erat.


Pintu ruang rawat mami terbuka. Seorang Dokter keluar menemui kami.


Mami dinyatakan kritis, ini waktunya kami berdoa, agar mami di beri mukjizat kesembuhan.


Jika tidak ingat ini rumah sakit, ingin rasanya aku teriak.. aku belum sanggup kehilangan mami.. Anaya juga butuh mami.


Kami di perbolehkan masuk menjenguk mami. Sebenarnya Anaya tidak boleh masuk, tapi karena alasan dan lain hal dengan berat hati kami di perbolehkan merawat mami bersama Anaya.


Orang tua Tristan sudah datang, dengan penuh kasih sayang mama memelukku erat, " yang sabar ya, nak .. ini cobaan buat kamu. Ini siapa?" Mama heran melihat ada bayi mungil yang sedang tertidur.


" Ini.. ini adikku ma, anak mami bersama suaminya yang baru." Jawabku malu.


Mama mendekati Anaya, " kasihan sekali kamu sayang..." Mama menggendong Anaya yang terlelap dalam tidur.


" Bagaimana keadaan mami mu, Dit?" Tanya papa.


" Kritis pi. Berharap ada keajaiban." Ucapku sedih.


" Sabar dan banyak-banyak berdoa, Insya Allah di ijabah ya."


" Amin..makasih pi."


" Dita, kalau kamu tidak keberatan, adik kamu biar mama bawa pulang saja. Kasihan kalau dia berlama-lama disini. Bisa-bisanya dia ikut sakit."


" Apa tidak merepotkan mama?" Tanyaku sungkan.


" Tidak dong. Justru mama senang. Oh iya siapa namanya?"


" Anaya, ma."


" Wah ..bagus sekali namanya. Semoga selalu mendapat perlindungan ya, sayang." Ucap mama sambil mencium pipi adik tiriku.


Tidak terasa jam besuk sudah habis. Mama, papa juga Anaya bersiap untuk pulang.


" Hati-hati ya, ma." Ada rasa sedih karena Anaya harus di rawat oleh orang lain.


" Jangan sedih.. Anaya aman di tangan mama. Fokus saja merawat mami. Semoga mami cepat sembuh, ya. Biar bisa ngurus Anaya lagi."


Mama dan papa sudah pulang, aku dan Tristan duduk di sofa.


" Kira-kira kemana bajingan itu lari ya, Dit?"


" Entahlah, aku menyesal mengeluarkan bajingan itu dari dalam sel."


" Maaf.. aku ikut bersalah dalam hal ini." Ucap Tristan dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


" Semalam, waktu meninggalkan mami, perasaanku tidak enak, Tan. Entah mengapa tadi pagi niat untuk bertemu mami begitu kuat. Andai aku tidak datang...aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan mama..."


__ADS_2