Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 42


__ADS_3

" Dit, masak gih. Aku lapar." Tristan memegang perutnya.


Karena mood ku sudah membaik, akhirnya aku pun pergi memasak. Masak simple saja sayur bening bayam, dan sambal ayam. Salah satu makanan kesukaan Tristan.


Setelah drama panjang, sepertinya Tristan benaran lapar deh, buktinya dia lahap banget makannya.


Selesai berberes semua aku memilih mandi. Teringat dengan ucapan mama, selain jadi ibu yang baik bagi Farah, aku juga harus menjadi istri yang baik bagi Tristan.


Sebagai seorang isteri kita harus bisa menyervis maya suami, perut suami juga ranjang suami. Bukan seperti itu ibu-ibu?


***


Setelah melewati drama panjang pernikahan, perdamaian kami diakhiri di ranjang. Ternyata kunci guna ranjang bukan saja sebagai tempat peristirahatan tapi bisa di gunakan sebagai tempat perdamaian antara aku dan Tristan.


Pagi yang membagongkan, semalam kami rebutan Farah dan ingin berpisah, lalu pagi ini rambutku sudah basah karena kami melakukan senam ranjang. Tidak kubayangkan jika kami masih tinggal serumah dengan orang tua. Mau ditaruh dimana wajahku?


Aku mencoba merias wajahku dengan tampilan sederhana, namun tetap fresh. Ku tinggalkan kesan bik ijah pada diriku. Setidaknya saat Tristan dirumah.


Melihat aku tampil memukau, Tristan memujiku, " cantik. Ini yang ku mau, sayang..." Peluknya dari belakang.


" Terima kasih sayang..." Ucapku manja. Tidak salahkan sesekali manja dengan suami sendiri?


***


Tristan sudah berangkat bekerja. Aku dan Farah sedang bersantai di teras rumah. Menikmati waktu pagi dengan sinar matahari yang hangat. Aku suka membawa Farah duduk di teras, supaya Farah lebih aktif lagi.


Dari kejauhan ada seorang perempuan dengan pakaian kurang bahan masuk ke area halaman kami. Dan bodohnya satpam itu mempersilahkan dia masuk.


Alexa, ada apa dengan perempuan iti menyambangi dikediaman kami?


" Hai.. Adita.." sapanya ragu.


" Boleh aku masuk?" Tanyanya lagi.


" Silahkan masuk dan duduk." Aku mempersilahkan wanita sundel itu masuk.


Kami duduk di teras. Tidak akan ku biarkan dia masuk kedalam istana kami.


" Hanya disini?"


" Iya, ada yang salah?" Tanyaku balik.


" Aku pikir istri bos, akan tahu sopan santun ternyata...ups! Maaf keceplosan." Ucapnya dengan tawa mengejek.


" Ada perlu apa datang kemari? Mencari suami saya?" Tanyaku tanpa basa basi.


" Hm..cuma mau bilang, semalam aku dan suami mu... Bercinta." Bisiknya sambil cekikikan.


" Oh iya? Murah sekali harga diri anda?" Jawabku ceplas-ceplos.

__ADS_1


" Kamu tidak percaya? Ini buktinya." Alexa menunjukkan foto di ponselnya.


Ya..memang benar, ada wajah Tristan yang sedang berbagi selimut dengan Alexa.


Tubuh tanpa baju.. dengan wajah perempuan lain disampingnya menggunakan tank top tali kecil.


" Kamu tahu kan wanita dan pria jika satu kamar yang dilakukan?"


" Pergi sekarang atau aku akan membu*uhmu sekarang juga." Ancam ku.


" Kamu mengancamku?"


" Aku bukan saja mengancammu, tapi...aku akan membuktikannya jika kau berani merusak rumah tanggaku dengan Tristan." Ucapku lagi.


" Kau tahu Alexa, wanita gila sepertiku bisa saja berbuat nekat meski kau memiliki pengawalan sekalipun. Ku pastikan kau tidak akan panjang umur. Tidak masalah jika aku harus hidup di bui, anakku masih punya kakek dan nenek yang sayang padanya. Mungkin jika aku di bui, kau ma*i, Tristan akan menikah lagi, tapi bukan dengan wanita seperti kau. Kau... Kau akan di makan cacing di bawah timbunan tanah. Mengerti kan?"


Alexa bergidik ngeri melihatku. Tanpa basa-basi dia pulang dari rumahku.


Huft ..seperti ada batu yang menghimpit dadaku. Sakit melihat kenyataan suamiku kembali satu ranjang dengan wanita lain.


Kapan aku akan bahagia?


***


Suatu malam, saat akan tertidur. Aku mengajak Tristan berbicara dari hati ke hati.


" Tanyalah, jangan disimpan jika akan menjadi gumpalan suatu saat nanti."


" Tan, tadi Alexa datang." Aku sedih sekali hari ini.


" Alexa? Untuk apa?" Tanyanya panik.


" Untuk menunjukkan kalau semalam kalian..." Aku meragu sendiri untuk menyampaikan kegundahan hati ini.


" Kalian tidur satu ranjang." Entah kekuatan dari mana. Tapi bersamaan juga air mataku meluncur deras.


" Maaf Adita...maafkan aku... Aku bukan suami yang baik..." Ucap Tristan.


" A-aku tidak tahu.. kenapa kami bisa tidur dalam satu kamar. Bahkan aku tidak ingat melakukan apa saja pada Alexa."


Tristan menyesali kebodohannya.


" Tan, aku tidak janji bisa memaafkanmu, aku juga tidak janji bisa menua bersama mu. Jika hatiku lelah, bisa saja aku melepaskannya." Ucapku sedih sambil menarik selimut menutupi tubuhku.


Hatiku terluka, terluka dengan semua penghianatan yang dilakukan oleh suamiku.


***


Sejak saat itu, saat aku mengetahui Tristan tidur bersama wanita lain, sifatku menjadi dingin. Bahkan hubungan kami pun beku seperti es batu.

__ADS_1


Alasan ku bertahan saat ini hanya karena Farah. Jika tidak ada Farah, sudah kupastikan hubungan ini ku bawa kemeja hijau.


" Sampai kapan hubungan kita seperti ini, Dit? Kita bagai orang yang tidak peenah kenal,." Tuntut Tristan.


" Bukankah kamu sendiri yang menyebabkan? Kamu pencipta itu, Tan." Sahutku sambil mencuci piring kotor yang menumpuk sisa semalam.


Ya, saat ini Farah sedang demam. Hampir semuanya kerjaan rumahku terbengkalai.


" Apa aku harus tidur kembali dengan Alexa? Baru kamu mau melayaniku? Sudah beberapa lama kamu mengabaikan itu?"


" Silahkan Tristan! Silahkan kalau kamu ingin mengulangi rasa haram itu bersama Alexa. Kamu tidak bisa memaksaki untuk melayani mu lagi, aku tidak bisa Tan. Rasaku untuk mu sudah mati. Jika bukan Farah.." aku menghentikan kalimatku.


" Jika bukan Farah..maksudmu apa?" Tanya Tristan tidak mengerti.


" Apa perlu ku perjelas?" Tanyaku tanpa melihatnya.


" Ya..supaya aku tahu."


" Jika bukan karena Farah ada diantara kita...sudah ku pastikan meja hijau akan menjadi saksi perjalanan rumah tangga kita." Ucapku tajam.


" Bukan seperti itu jalannya, Adita."


" Lalu seperti apa Tristan? Coba bayangkan jika itu terjadi padamu? Jika aku yang telah berbagi selimut dengan orang lain? Apa kau masih memaafkan aku? " Sindirku lagi.


Tristan terdiam.


" Tentu tidak Tristan, kau tidak akan memaafkanku. Bahkan kau bisa langsung membunuhku. Iya kan?"


Tristan terduduk di dapur. Mungkin dia tidak menyangka jika mulutku bisa setajam ini.


Aku menyiapkan pekerjaanku. Mumpung Farah masih tertidur.


Huft! Akhirnya rumah ini bisa kinclong kembali. Ini saatnya aku segera mandi jika tidak ingin kehilangan momen mandi lama.


" Tolong jaga sebentar Farah, aku mau mandi sebentar." Ucapku meninggalkan Tristan.


Biar saja dia menyesali nasibnya sendiri.


***


" Maksudmu apa Alexa?" Suara Tristan meninggi.


Aku mencoba menguping pembicaraan Tristan dengan Alexa di halaman samping.


" Tidak mungkin kamu hamil, Alexa. Bahkan malam itu aku tidak ingat sedikitpun kejadiannya." Tristan mencoba membela dirinya.


" Kamu tidak mungkin hamil, Alexa. Kalau pun hamil sudah pasti itu bukan anakku." Ucap Tristan geram.


Ya Allah... Cobaan apa lagi ini,?

__ADS_1


__ADS_2