Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 22


__ADS_3

Jam di ponselku sudah menunjukkan pukul delapan siang. Ya ampun..mimpi apa sih aku? Sampai bangun kesiangan gini. Cepat ku ambil handuk dan bergegas mandi. Tidak ada ritual mandi lama-lama yang sering kulakukan. Pagi ini semuanya kulakukan secara ekspres termasuk merias wajah. Hari ini juga aku lupa harus memakai baju warna apa, karena tidak ingin ribet, aku memilih memakai gamis dengan jilbab senada. Kuambil tas dan segera keluar dari kamar.


Aku berlari pontang panting ke arah danau yang dimaksud oleh Tristan tadi.


Ternyata semua orang sudah berkumpul disana menggunakan seragam warna hijau. Ya ampun... Kenapa bisa lupa sih?


Lalu aku memandang kakiku sendiri, aku masih mengenakan sandal hotel.


Ya Allah.... Apa yang terjadi denganku?


" Apa-apaan kamu, Dita? Ini caramu tampil di acara besar milikku?" Suara Tristan begitu lantang dan kencang menyindirku.


Antara malu dan mau nangis menyatu di wajahku.


Semua rekan kerja menertawakan kebodohan ku hari ini. Aku yang selalu tampil perfect kini bak keledai yang habis nyemplung di air comberan.


" Memalukan, Dita." Tristan mengusap wajahnya kasar.


Aku hanya bisa menunduk malu. Menyalahkan diri sendiri, karena tampil konyol di acara penting milik Tristan.


Rasanya kesalahan ku hari ini di kuliti mentah-mentah oleh Tristan.


" Adita..lihat aku!" Bentak Tristan.


Air mata yang jatuh membuat aku tidak berani menatap Tristan. Aku malu.. aku malu pada semua orang.


" Angkat wajahmu Adita!" Bentak Tristan lagi.


Mau tidak mau, aku mengangkat wajahku pelan-pelan.


(Hari ini.. hari yang kau tunggu, bertambah satu tahun usiamu bahagialah selalu...)


Lagu dari band terkenal memenuhi tempat ini. Sorak-sorai dar tepuk tangan dari rekan kerja membuat aku baru sadar, bahwa hari ini aku ulang tahun.


Tristan membawa tulisan...( Selamat ulang tahun Adita sayang... I love you..)


Tangisku pecah, tidak ku hiraukan lagi bagaimana hancurnya wajah dan penampilanku.


Tristan datang membawa sebuah cake cantik dengan hiasan lilin yang menyala dengan bertuliskan angka dua puluh lima.


" Ayo..berdoa.. dan segera tiup lilinnya." Ujar Tristan dengan senyum manisnya.


Aku menutup mata, memanjatkan doa yang baik dari yang paling baik terkhusus untuk papi.. dan Tristan.


Lilin sudah ku tiup. Tristan memelukku erat. Suara mereka menyoraki kami terdengar ramai.


Cup! Tristan mengecup keningku.


" Selamat ulang tahun sayang .. aku mencintaimu. Maaf karena aku berhasil membuat suprise untukmu." Bisiknya di telingaku.


" Lalu Rere?"


" Dia ikut bermain dalam drama ini." Bisiknya lagi.


Aku mencubit perutnya dengan keras.


" Sakit sayang..."


" Itu balasan buatmu." Ucapku tertawa senang.


" Happy birthday besti..." Rere memelukku erat.

__ADS_1


Ah. Aku sudah berfikiran buruk tentangnya.


" Maaf ya.. aku diajak sama dia buat menjalankan misinya." Ucap Rere mengadu.


" Tenang.. nanti aku eksekusi dia."


Tristan dan Rere tertawa kompak.


Sekarang aku bisa bernapas lega, Rere dan Tristan...hanya sandiwara. Dan ternyata, Tristan hanya mencintaiku.


***


Rekan kerja yang lain sedang berkaraoke. Aku dan Tristan menghabiskan waktu berdua.


" Aku mencintaimu, Adita."


Aku hanya diam, bingung harus bagaimana.


" Kenapa diam? Apa kamu tidak percaya?" Tanyanya lagi.


" Aku bingung, Tan." Ucapku lirih.


" Bingung kenapa? Sekian banyak aku menyatakan cinta, namun engkau sama sekali tidak pernah menanggapi. Atau..."


" Atau apa?" Aku memotong ucapan Tristan.


" Atau jangan-jangan kamu memang tidak punya rasa padaku." Raut wajahnya berubah sedih.


" Bu-bukan begitu Tristan. Aku..aku hanya..." Aku ragu untuk melanjutkan ucapanku.


" Hanya apa?"


" Aku hanya tidak percaya akan ada laki-laki yang setia. Aku trauma, Tan."


" Kita coba ya, Tan. Sebisa mungkin aku akan belajar mengenalmu terlebih dahulu."


" Butuh berapa lama untuk mengenali ku? Seminggu atau dua minggu?"


" Mungkin setahun dua tahunan." Jawabku santai.


" Aku tidak bisa selama itu menunggumu, Adita. Tolong kalau ngomong pakailah logika sedikit. Mulutmu asal jangan berucap. Bagaimana kalau Tuhan berubah fikiran, merubah jodoh kita?"


" Berarti kamu bukan jodohku, Tristan." Lagi-lagi aku santai menanggapi Tristan.


" Ayolah baby... Aku ingin segera menyandang status sebagai suamimu." Tristan menggenggam erat tangan ku.


" Percaya padaku, aku bukan lelaki buaya. Atau belah saja dadaku! Kau akan menemukan nama mu di hatiku." Gombalnya.


" Kata-kata mu semakin membuat aku tidak percaya padamu Tristan."


" Huh! Terlalu susah mendahulukan dirimu."


" Ku tunggu keseriusanmu dalam menghadapiku, Tristan."


***


Setelah pulang dari villa, hubunganku dengan Tristan semakin membaik. Dia bukan lagi menjadi bos, namun sekarang merangkap menjadi kekasihku. Kemana pun Tristan rapat, aku selalu diajak. Terkadang kedekatan kami yang sangat intens membuat Bu Ramita semakin ketar-ketir.


Hingga pada suatu hari saat aku berkunjung ke rumah Tristan, Bu Ramita datang menegurku, " Adita, hubungan kalian semakin dekat. Kalau boleh mama memberi saran sebaiknya kalian menikah saja secepatnya."


" Tapi ma..."

__ADS_1


" Apa kamu belum sepenuhnya mencintai Tristan?"


" Bukan begitu, ma?"


" Mama takut jika kalian nanti .. khilaf dan melakukan zina. Kamu tahu Adita, jika zina itu masuk kedalam dosa besar." Tanya mama lagi.


" Mama percaya dengan kami, kan? Sebisa mungkin kami menjauhi zina, mama." Aku mencoba untuk menepis semua kegalauan mama.


" Kamu yakin, Adita?"


" Iya ma." Jawabku pasti.


" Sayang, yuk jalan." Ajak Tristan.


" Uda siap mandinya?" Tanyaku.


" Uda ganteng belum?"


" Belum."


" Masak?" Tanya Tristan sambil mencium pipiku.


" Tristan!" Bentak mama.


Aku yang tidak pernah melihat mama marah sontak menjadi ketakutan.


" Tolong jaga etika kamu, Tristan. Kalian belum halal. Kamu tidak bisa seenaknya saja main nyosor." Ucap mama menasihati putranya.


" Dan kamu, Dita..tolong pikirkan lagi. Mama tidak ingin kalian menikah setelah nantinya hamil di luar nikah." Ucap mama tegas meninggalkanku.


Sepertinya kali ini mama benar-benar marah pada kami.


" Mama kenapa sih yang?" Tanya Tristan padaku.


Aku hanya mengangkat kedua bahuku sebagai tanda bahwa aku tidak mengerti.


" Loh, bukannya kalian dari tadi ngobrol?"


Tanya Tristan bingung.


" Anterin aku pulang yuk?" Ucapku lesu.


" Kok pulang? Kita kan mau nonton."


"Sudah gak minat." Jawabku singkat.


" Kamu sakit hati dengan perkataan mama, Dit?"


" Enggak, yang di bilang mama benar semua. Cuma aku saja yang belum siap untuk menikah."


" Aku kurang apa sih buat mendampingi kamu? Apa yang harus aku punya supaya kamu yakin?"


" Kamu sempurna Tristan. Aku saja yang tidak pandai bersyukur."


" Jangan selalu menyalahkan dirimu, Dita."


" Memang begitukan?"


Aku berjalan meninggalkan Tristan.


" Adita... Jangan begini dong.." Tristan menarik tanganku.

__ADS_1


" Kita selesaikan masalah ini dengan kepala yang dingin. Maaf kalau mama menuntut kita untuk menikah. Bukan hanya mama dan papa yang takut.. aku pun takut jika terlalu sering bersama. Andai kamu tahu Dita, aku selalu merasa bersalah jika kita bersentuhan, berpelukan bahkan saat kita berciuman. Aku takut jika setan mendorong kita untuk melakukan hubungan suami istri tanpa ikatan pernikahan. Tolong Adit, pikirkan ini baik-baik." Pinta Tristan menghiba.


Tristan menyentuh wajahku dengan kedua tangannya, " Aku mencintaimu.. Adita."


__ADS_2