Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 14


__ADS_3

Aku menangis lagi kala memberesi pakaian papi yang ada di lemari. Sejak mami memilih menikah dengam mas Dani, dan papi memilih resign dari pekerjaannya, aku tidak pernah melihat penampilan papi senecis dulu. Pakaian bermerek milik papi hanya tergantung rapi tanpa pernah di sentuh. Sepatu mahal milik papi pun hanya menjadi pajangan yang tidak berguna. Sejak sendiri papi memilih menjadi orang yang sederhana. Yang penting papi nyaman dengan pakaiannya saja.


Rencananya pakaian dan sepatu milik papi akan aku berikan kepada para tetangga yang membutuhkan. Mudah-mudahan bisa menjadi penolong papi kelak. Amin...


Saat sedang asyik memilah barang milik papi, pintu rumah ku seperti di ketuk seseorang.


Siapa yang datang?


Seorang wanita paruh baya dengan gamis besar dan hijab lebar menutupi bagian dadanya. Wanita paruh baya itu menggendong seorang bayi perempuan imut. Disampingnya berdiri seorang lelaki yang pernah menancapkan duri dalam pernikahan kami, mas Dani.


Haruskah aku beramah tamah dengan mereka?


" Adita..."


" Em.. ma- mami.. ma- masuk mi.."


Aku mempersilahkan mami masuk.


Kami duduk di ruang tamu sederhana ini.


Wajah cantik anak mami dan mas Dani menarik perhatianku. Ingin rasanya menjawil wajah mulus milik adik tiri ku.


" Dita, mami turut berduka cita atas meninggalnya papi. Maaf jika mami terlambat menemani masa-masa sulit kamu." Ucap mami sambil mengusap bahuku lembut.


Bukan hanya itu yang kumau, aku rindu pelukan seorang ibu. Tapi dikala sulit seperti ini pun mami masih sibuk dengan dunianya sendiri.


Aku menghela napas berat, " terima kasih mi." Hanya kata itu yang mampu ku ucapkan untuk mami. Ini lebih baik dari pada aku mengungkit masa lalu mami.


Bayi dalam gendongan mami sepertinya rewel, " Dita, mami bisa minta tolong pegangin Anaya? Mami mau buat susu sebentar." Mami memberikan bayi manis itu padaku


" Sebentar ya sayang." Mama pergi ke dapur membawa dot dan toples berisi susu Anaya.


Dilahirkan sebagai anak tunggal membuat aku begitu menyayangi anak kecil. Tapi mengingat penghianat mereka nurani ku menolak.


Aku hanya mengendong bayi ini tanpa mau menyapanya hingga mas dani masuk kedalam rumah.


Melihat aku yang hanya diam memegang Anaya, mungkin mas Dani mengerti perasaanku.


" Dit, sini Anaya mas yang gendong."


Tanpa basa basi aku memberikan Anaya pada ayahnya.


Jika kalian jadi aku belum tentu kalian mampu batinku ngedumel.

__ADS_1


***


Ini hari ke dua mami menginap di rumah kontrakanku. Sebenarnya aku ingin menolak permintaan mami tapi balik lagi pada rasa tidak tega. Ya, bagaimana pun perangai mami, sampai mati pun beliau tetap mami yang melahirkan aku.


" Adita, sarapannya sudah siap." Teriak mami dari dapur.


Hari ini aku sedang bersiap untuk berangkat ke kantor. Setelah mematut penampilan ku di cermin, bergegas aku segera keluar.


Mami dan mas Dani sudah menunggu di meja makan. Tatapan mas Dani membuat aku salah tingkah. Ada apa dengannya?


" Dita, kamu kerja?" Tanya mami.


" Iya mi." Aku duduk di samping mami.


Mami segera mengisi nasi goreng ke piring mas Dani. Hal dulu yang sering aku lakukan, sekarang di gantikan oleh mami.


Perasaanku tiba-tiba berubah sedih. Air mata mulai tergenang. Sial! Perasaan apa ini. Mengapa aku harus sedih dengan pemandangan seperti ini.


" Ayolah Dita, semangat! Semua sudah berlalu.." batinku sibuk menggerutu karena sikapku yang lembek dan cengeng.


" Dita...ayo di makan." Suara mas Dani mengejutkanku.


Aku memakan nasi goreng buatan mami. Ya Allah... Akhirnya aku bisa merasakan nasi goreng buatan mami. Jika papi ada.. pasti papi akan bahagia.


" Dit, kamu nangis?" Mami menghentikan aktivitas makannya.


Aku tak kuasa menjawab pertanyaan mami. Semakin deras rasanya air mataku mengalir


Mami memelukku erat.


" Maaf..maafkan mami.. semua ini salah mami. Andai mami tidak khilaf pasti keluarga kita pasti masih utuh. Papi pasti sekarang masih ada." Ucap mami tersedu-sedu.


Mulutku bagai terkunci, hanya air mata yang mampu berbicara.


Mas Dani hanya menjadi penonton diantara kami.


" Senangkan mas, kamu sekarang? Hubunganku dengan mami sudah retak. Bahkan semua semakin rumit. Papi harus pergi dengan cara yang mengenaskan." Sindirku pada lelaki yang merusak hidupku.


" Ma-maaf A-adita.. maaf seribu maaf..Maafkan kesalahan kami. Tolong jangan ungkit masa lalu kami. Sudah ada Anaya di antara kami." Ucap lelaki pecundang itu terisak.


" Bisa nangis juga dia." Batinku sibuk ngedumel melihat tingkah lelaki memuakkan yang ada di depanku.


" Dita.. sebagai penebus dosa mami, ikutlah tinggal dirumah mami. Sekarang.. cuma kamu dan Anaya yang mami punya. Demi bakti mami ke almarhum papi, mami akan merawat kamu dengan penuh cinta."

__ADS_1


Aku terperangah mendengar penuturan mami. Berbakti seperti apa yang mami maksud? Bahkan di detik terakhir napas papi, beliau menyimpan kerinduan yang sangat besar pada mami.


" Bagaimana Dit?"


" Aku gak bisa. Aku enggak bisa hidup dengan dua penghianat. Lebih baik aku hidup sebatang kara dari pada tinggal bersama kalian. Bahkan sampai sekarang aku masih mencoba berdamai dengan keadaan. Lalu dengan mudahnya kalian mau merawatku. Kalian terlambat! Aku tidak butuh dirawat. Aku hanya butuh di sayangi dengan sepenuh hati. Tapi bagaimana aku bisa percaya dengan kalian? Lebih baik kalian pergi sekarang dari sini." Bentakku dengan garang.


" Kalian sedang membangunkan singa tidur. Pergi sekarang atau..." Aku memegang pisau yang ada diatas meja.


Mami dan mas Dani mundur beberapa langkah dariku.


" Pergi sekarang atau kalian akan mati juga di tanganku." Aku tertawa bengis.


Secepat kilat mami membereskan semua barang-barangnya. Tidak lupa mami menggendong buah cinta perselingkuhan nya, Anaya.


Tidak butuh waktu lama. Mas Dani dan mami segera meninggalkan rumah kontrakan ku.


Sepeninggal mereka, aku seperti orang gila. Sambil memeluk foto papi aku menangis dan tertawa. Begitu mirisnya takdir perjalanan hidupku. Kapan kebahagian itu datang untukku?


***


Keesokan paginya aku kembali bersiap untuk berangkat kerja. Motor matic tua menjadi teman setiaku.


Sampai di kantor aku langsung masuk keruanganku. Sudah ada wajah mas Dani disana. Namun ia tak seramah dulu setelah aku mengancam mereka menggunakan pisau. Dianggap gila lebih baik dari pada dianggap lemah.


Aku mulai mengerjakan pekerjaan kantor. Tiba-tiba Tristan masuk ke ruangan kami.


" Dita.. Dani.. tender kalian menang. Klien sangat senang dengan kerja kalian. Ini ada tiket. Kalian boleh ajak keluarga kalian untuk wisata ke Bali.


Mas Dani dengan sigap labgsing mengambil tiket itu dari tangan Tristan.


Aku tetap fokus ke layat komputer yang ada di hadapan ku.


" Dit, kamu gak mau ambil?" Tanya Tristan. Dari suaranya seperti ada kekecewaan atas cueknya aku.


Karena tidak mendapat respon yang baik dariku, Tristan mematikan layar yang menyala.


" Apa-apaan sih?" Tanyaku jutek.


Mood ku memang semakin jelek setelah kepergian papi. Aku seperti orang yang tidak mempunyai iman.


" Kamu gak mau ambil ini?" Tanyanya marah.


" Enggak." Jawabku santai.

__ADS_1


" Lalu kamu mau apa?"


__ADS_2