Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 26


__ADS_3

" Dit, mau kemana?"


" Beli susu, mi. Anaya tidak akan tenang sebelum minum susu."


" Bahaya Adita. Bisa saja di luar sana Dani sedang mengintai."


Seketika aku terdiam. Apa yang di bilang mami ada benarnya. Bisa saja Dani tidak melukai ku, tapi mami yang menjadi sasarannya.


" Jangan keluar ya..." Pinta mami memelas.


" Tapi mi..."


" Kamu punya gula?" Tanya mami.


" Untuk apa?"


" Kita coba pakai gula ya.. mudah-mudahan Anaya mau dan bisa tidur."


Mami pergi ke dapur untuk membuat air gula. Sementara aku mencoba mengajak Anaya berbicara agar tidak menangis.


Tidak lama mami muncul dengan membawa dot berisi air gula.


" Bismillahirrahmanirrahim..." Mami memberikan dot berisi gula pada Anaya..namun Anaya menolaknya. Bahkan kini mulitnya di tutup. Anaya tidak suka air gula itu.


Aku duduk di ruang tamu. Kalut. Rengekan Anaya masih terdengar. Pasti bocah itu sekarang haus sekali. Apa yang bisa ku perbuat untuk adik tiriku itu?


***


Tristan! Ya hanya Tristan yang bisa diandalkan dalam hal ini.


Aku mencari nomor Tristan dan menelponnya.


(Hallo Dita)


Terdengar suara sumbang Tristan, aku pun segera menceritakan masalah susu Anaya. Tanpa basa basi Tristan langsung menjawab oke dan segera meluncur.


Alhamdulillah, satu permasalahan selesai.


***


Suara deru mobil berhenti di depan rumah. Tanpa mengintip, aku segera membuka pintu. Ya benar. Tristan datang dengan menenteng kresek hitam.


" Maaf ya, sudah ngerepotin kamu."


" Biasa aja sayang." Tangan Tristan mencolek daguku.


" Nih." Tristan memberikan plastik berisi susu.


Tristan duduk di ruang tamu. Sementara aku segera membuat susu untuk Anaya.


" Mi, ini susunya." Aku memberikan dot berisi susu pada mami.


" Tristan sudah datang?"


" Sudah mi."


Aku melihat Anaya begitu menikmati setiap susu yang masuk kedalam mulutnya.


" Aku tinggal ya, mi."


Kasihan Tristan terlalu lama menunggu di ruang tamu.


" Lama ya?" Tanyaku basa basi.


" Lama nunggu di terima bidadari." Ucap Tristan lebay.

__ADS_1


Aku meninju bahu Lelaki tampan di sebelahku.


" Kamu mau jadi pemain tinju yang?" Tristan menggodaku.


" Iya." Jawabku asal.


" Anaya mana?"


" Masih dikasih susu sama mami."


" Kok bisa kehabisan susu sih? Kamu gak cek yang?"


" Enggak, mami juga gak cerita. Katanya sih malu mau minta susu sama aku. Oh iya ini uang susu Anaya." Aku memberikan dua lembar uang berwarna merah yang senilai dua ratus ribu.


" Enggak usah diganti." Tolak Tristan.


" Enggak bisa gitu sayang..." Aku tetap memasukkan uang ke kantung jaket Tristan.


" Aku ikhlas sayang..." Ucap Tristan lagi.


" Aku juga ikhlas sayang..."


" Nikah yuk?" Goda Tristan.


" Sabar sayang..." Aku tak mau kalah menggodanya.


" Sampai kapan?" Tristan meraih tanganku dan menggenggamnya.


" Sampai aku siap dan percaya."


Tristan mengecup punggung tanganku.


" Jangan pernah ragu, ya." Ucap Tristan.


" Aku coba untuk mempercayai kamu, Tan."


" Adita.. Tristan gak di buatkan minum?" Suara mami mengejutkan aku dan Tristan.


Ada rasa malu, karena mami memergoki kami sedang berpelukan.


" Enggak usah repot-repot tante, sebentat lagi saya juga pulang." Ucap Tristan sopan.


" Enggak repot dong, nak."


Mami memberi kode padaku agar segera membuat teh hangat untuk Tristan.


Aku melangkah ke arah dapur untuk membuat minuman. Namun tiba-tiba masa lalu itu seperti terulang kembali. Dulu setiap datang kerumah mami bersama mas Dani, aku selalu disuruh membuat minuman, dan mami menemanias Dani. Tak jarang aku melihat mami dan mas Dani sangat intim. Tapi tidak pernah terbayangkan oleh ku jika mami dan mas Dani saling tertarik. Tidak ingin kejadian kedua terulang lagi, aku segera berlari kedepan.


Mami terkejut melihat aku berlari tanpa ada minuman di tanganku.


" Loh, Adita..mana minumnya?"


Wajahku sudah tidak karuan. Rasanya aku sudah ingin memaki wanita yang sudah melahirkan ku.


Degup jantungku berdetak kencang, keringat dingin membasahi wajahku.


" Adita, kenapa?" Tristan bangkit dari duduknya. Ia panik dan segera mendekat ke arahku.


" Minumnya mana sayang?" Tanya mami lembut.


Aku menatap mami penuh kebencian.


Aku melangkah maju mendekati mami, seketika mami mundur beberapa langkah.


" A-adita.. a-ada aapa?" Mami terlihat gugup.

__ADS_1


" Kenapa aku yang harus buat minum? Kenapa gak mami saja? Mami mau duduk berduaan dengan Tristan? Mami berusaha menarik perhatian Tristan?" Cecarku pada mami.


Seketika Tristan menari tanganku, membawa aku kedalam pelukannya.


" I love you, Adita..." Bisik Tristan di telingaku.


" Aku mencintaimu... Sampai nanti aku mati." Bisiknya lagi.


Cukup lama ia memelukku... Hingga.. aku menangis sesenggukan.


" Adita... Kita berdamai dengan masa lalu kamu ya..." Bisik Tristan lembut.


" Aku tidak akan tergoda dengan wanita mana pun. Lihat dia, Adita. Wanita itu...menangis di pojokan. Wanita itu merasa bersalah, Adita. Dia mami mu, sampai kapan pun tetap mami mu... Dia sudah tobat, Adita..."


Aku melepas pelukan Tristan dan berlari ke arah mami.


" Mami... Maafkan aku... Aku belum berdamai mami.."


" Mami yang harusnya minta maaf sayang... Mami janji tidak akan membuay kamu terluka lagi." Janji mami padaku.


Suasana yang hangat harus menjadi mengharu biru.


Mami memilih masuk ke kamar karena Anaya terbangun. Sedangkan Tristan masih menemani, memberi nasihat padaku.


" Adita, aku pulang ya. Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu, Adita."


" Tan, aku siap menikah denganmu."


" Serius?"


" Yah. Aku siap." Ulangku lagi.


Tristan kegirangan bak anak kecil yang mendapat mainan baru.


Berulangkali Tristan memelukku.


" Aku akan mempersiapkan acara lamarannya. Apabyang kamu minta dariku, sayang? Rumah, uang, apartemen villa? Ayo...bilang!"


" Tristan,aku tidak butuh semua itu. Aku cuma butuh kasih sayang dan setiamu."


" Aku miliki semua itu, sayang. Ini hari terindah yang buat aku bahagia."


" Aku pulang ya."


" Hati-hati."


Aku melambaikan tangan, hingga lelaki itu hilang di telan kegelapan.


Aku yakin, keputusan yang aku buat kali ini adalah benar. Mungkin menikah dengan Tristan adalah pilihan terbaik. Salah satunya adalah aku bisa move on dari kisah masa laluku.


Semoga.


***


Setelah melewati proses lamaran yang mewah, kini Tristan tengah mempersiapkan pesta pernikahan kami dengan megah bak raja dan ratu.


Mami begitu bahagia melihat aku dan Tristan akan segera bersanding di pelaminan. Saking bahagianya, mami sampai lupa pada kisah rumah tangganya yang sudah berada di ujung tanduk


Bahkan mami sekarang lebih gemukan dari yang kemarin. Terlebih perubahan terjadi juga pada Anaya, adik tiriku. Sekarang pipinya lebih berisi karena asupan susu formulanya tercukupi dengan baik.


Hari berganti hari.. Besok adalah hari pernikahan ku dan Tristan. Meski bukan gadis lagi, namun tetap saja aku merasa gugup menyambut hari spesial itu.


Sudah beberapa hari Tristan tidak memberikan kabar padaku. Apakah Tristan ingin fokus dalam menghadapi babak baru yang akan segera kami tempuh bersama?


Tring...

__ADS_1


Satu pesan masuk dari nomor baru. Ada gambar yang dikirim seseorang.


Gambar siapakah itu?


__ADS_2