
"Mami.. Adita rindu..." Ucapku sesak.
Mami memelukku erat. Pelukan seorang ibu terhadap anaknya kembali kurasakan.
" Mami kemana saja? Kenapa mami menghilang bak ditelan bumi?"
" Mami sengaja menjauh dari kehidupanmu."
" Kenapa mi?" Tanyaku tidak mengerti.
" Karena .. mami takut akan jatuh cinta lagi pada suami mu."
Aku mendorong mami, emosi tiba-tiba saja menguap mendengar celoteh mami.
" Murahan." Desis ku.
" Jadi biarkan mami menjauh dari kehidupanmu. Mami bukan orang baik. Mami rasa mami punya penyakit. Mami tidak ingin rumah tanggamu hancur untuk yang ke dua kali karena mami."
Aku seperti tidak percaya mendengar perkataan mami.
Mami menggendong Anaya. Tanpa menoleh, wanita paruh baya itu keluar dari istanaku.
Ya.. mami memang berubah sejak mengenal dan jatuh cinta pada Dani. Seharusnya aku bisa bertukar pikiran dengan mami. Atau setidaknya.. sebentar saja mami mendengar kabar kebahagiaan jika sekarang aku hamil. Tapi... Sedikit pun mami tidak bertanya perihal kehidupanku, kabarku .. Ibu macam apa dia?
Alu sesenggukan sendiri. Membenci mami seumur hidup ku itu pasti akan kulakukan.
***
" Kenapa wajahmu akhir-akhir ini kusut, yang?" Tanya Tristan kala itu disaat kami sedang santai.
Aku hanya tersenyum masam.
" Apa bulanan dari ku kurang?" Tanya Tristan menggodaku.
Aku meninju bahunya pelan. Aku tahu dia bercanda. Karena bulanan yang di berikan Tristan padaku lebih dari cukup. Bahkan saking banyaknya, aku bisa membeli apa yang aku mau tanpa harus menabung. Tapi aku bukan tipe wanita yang hobi foya-foya menghabiskan uang suami. Aku lebih suka menabung untuk masa depan anak ku nanti. Dan aku juga menyimpan hasil kerja Tristan dengan baik. Jadi, jika suatu saat ia membutuhkan, aku bisa menunjukkan hasil kerja kerasnya selama ini.
" Hei!" Tristan membuyarkan lamunan ku.
" Kok malah melamun sih?"
Aku menggenggam tangan suamiku. Tangan pekerja keras.
" Terima kasih sudah menyayangi aku dengan tulus sampai detik ini. Jika bukan karena kamu suamiku, mungkin aku masih memilih hidup sendiri." Ucapku sedih.
Ya jika mengenang perjalanan hidupku, mataku selalu basah.
" Sebelum ijab ku ucapkan, aku sudah ingin bertanggung jawab membahagiakan kamu, Adita. Bahkan jika papi mu ada.. aku akan ijinkan beliau tinggal bersama kita. Termasuk mami mu."
" Jangan pernah sebut mami ku pagi, Tan." Ucapku lirih.
" Apa yang terjadi? Bukankah kamu sudah memaafkan kesalahannya?"
__ADS_1
" Ya, kemarin aku memaafkannya. Tapi.. semalam aku bertemu mami di pasar. Saat mami melihatku.. mami malah pergi." Aku mulai menceritakan apa yang kualami.
Bahkan sesekali aku terisak. Sakit di hatiku mungkin sudah mendarah daging.
" Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah, saat mami bilang kalau ia takut akan jatuh cinta padamu. Mami macam apa itu Tristan? Mengapa aku bisa terlahir dari rahim wanita kejam seperti mami? Apa mami kira aku ini musuhnya? Tadinya aku mau berdamai dengan mami. Tapi.. rasa benci di hatiku muncul kembali. Aku mendorong mami. Mami pergi..sebelum aku bilang kalau aku hamil. Apa mami tidak ingin mendengar berita bahagia ini Tristan?" Tangisku pecah di hadapan suamiku.
Tak banyak menggurui, di lagi-lagi menarikku kedalam pelukannya.
" Sabar ya.. jangan banyak pikiran. Ingat.. kalau bundanya murung baby nya juga nanti akan ikut murung." Nasihat Tristan padaku.
Setelah tangisku reda, Tristan memutuskan untuk mengajak ku jalan-jalan kerumah mama.
Ditengah perjalanan, " Tan berhenti." Aku memukul tangan Tristan berkali kali berharap mobil yang di kemudikan Tristan berhenti.
" Ada apa sih? Mendadak banget."
Tanpa mempedulikan Tristan aku berlari keluar.
" Dita..."
Panggil Tristan, namun aku tetap berlari.
Gubrak!!
Aku menggulingkan sebuah meja di warung kaki lima. Tepatnya disebuah sepasang sejoli yang sedang menikmati semangkuk mie.
Seketika pengunjung disana terkejut lihat aksi ku.
Ya.. sepasang sejoli itu adalah Dani dan selingkuhannya.
Dani menatapku tajam, sementara wanita itu tampak ketakutan. Mungkin di kira aku adalah istrinya.
" Brengsek!." Maki Dani.
" Lu yang brengsek." Aku makinya juga.
Seketika tangan Dani terangkat ke udara.
Tangan itu diarahkan ke wajahku.
" Kalau sampai lu nyentuh Adita, gue pastikan lu akan membusuk di jeruji besi." Ancam Tristan.
Ya.. lagi-lagi Tristan melindungiku.
" Hei! Istri lu ajari adab sopan santun." Bentak Dani.
" Dasar brengsek, kamu.. kamu..." Tangisku pecah. Bukan karena sedih, tapi karena bayangan wajah mami bermain-main di benakku.
" Apa? Urusan kita sudah selesai beberapa tahun lalu. Sekarang lu mau apa?" Tanya bajingan itu padaku.
" Aku dan kamu memang sudah selesai, tapi..hubungan mu sama mami ku.."
__ADS_1
Ucapan ku terjeda karena terlalu sakit jika aku membahas mami.
Dani tertawa sini. Membuat aku semakin muak pada bajingan satu ini.
" Wanita tua itu? Dia sudah peot, tidak mampu melayaniku dengan baik. Bahkan sekarang wanita itu sudah seperti sampah. Aku tidak butuh wanita gatal seperti mami mu. Lagian dia sudah tidak punya harta lagi." Bisiknya pelan namun berhasil menusuk jantungku.
Ya..sakit hatiku mendengar perkataan Dani. Sekarang aku mengerti, mengapa Dani dulu memperjuangkan mami dan mengaku sok mencintai mami. Ternyata latar belakang semua ini adalah harta.
" Aku tidak sudi menemani wanita yang sebentar lagi akan mati." Dani berlalu dari hadapanku membawa perempuan selingkuhannya.
Aku terduduk sesenggukan. Ya Allah.. mengapa harus ada lelaki brengsek seperti Dani dimuka bumi ini?
Sementara Tristan sedang berbicara dengan pemilik warung. Mungkin sedang bicara ganti rugi.
Tristan membawa ku ke mobil, " tunggu disini sebentar saja. Aku mau menyelesaikan permasalahan ini dengan pemilik warung." Ucap Tristan sambil menyodorkan sebuah botol mineral.
Ya Allah..karen kecerobohanku, akhirnya Tristan menanggung semua permasalahannya. Aku jadi merasa bersalah pada Tristan.
" Nak.. maaf ya.. gara-gara bunda marah, akhirnya ayah kamu yang menanggungnya." Aku berbicara sendiri sambil mengusap perutku yang rata.
Tristan masuk kedalam mobil. Wajahnya tampak menahan amarah. Aku takut untuk memulai pembicaraan. Tanpa kata Tristan melajukan mobilnya. Hening, seperti kuburan.
Ku kumpulkan keberanian, " maaf..."
Hanya kata maaf yang meluncur bebas dari mulutku.
Tristan masih diam tidak menanggapi permintaan maaf ku, dada ku sesak seperti dihimpit batu melihat kemarahan Tristan.
Kami tidak jadi pergi kerumah mama, Tristan memutarkan mobilnya pulang kerumah kami.
Sampai dirumah Tristan langsung turun dan membanting pintu mobil dengan kencang, Bug!
Aku terkejut dan ketakutan.
" Tan..." Aku mengejar Tristan masuk kedalam rumah.
" Tan..maaf." aku memegang tangannya, namun Tristan menepis tanganku.
" Apa dengan kata maaf semua selesai? Pikir?" Tristan menunjuk kepalanya.
" Aku khilaf, Tan." Aku berusaha membela diri.
" Kalau orang berfikir jernih, pasti tidak pernah khilaf. Lagian apa sih untungnya melabrak lelaki seperti Dani? Apa untungnya?" Bentak Tristan.
Seumur pernikahan, tidak pernah ia marah sengeri ini. Nyaliku menciut dan memilih untuk masuk kedalam kamar.
Kutinggalkan Tristan di ruang tamu.
Namun..saat akan berjalan, ada cairan hangat yang mengalir membasahi pahaku.
" Darah...."
__ADS_1