
"Dita.. Dani.. tender kalian menang. Klien sangat senang dengan kerja kalian. Ini ada tiket. Kalian boleh ajak keluarga kalian untuk wisata ke Bali."
Mas Dani dengan sigap langsung mengambil tiket itu dari tangan Tristan.
Aku tetap fokus ke layat komputer yang ada di hadapan ku.
" Dit, kamu gak mau ambil?" Tanya Tristan. Dari suaranya seperti ada kekecewaan atas cueknya aku.
Karena tidak mendapat respon yang baik dariku, Tristan mematikan layar yang menyala.
" Apa-apaan sih?" Tanyaku jutek.
Mood ku memang semakin jelek setelah kepergian papi. Aku seperti orang yang tidak mempunyai iman.
" Kamu gak mau ambil ini?" Tanyanya marah.
" Enggak." Jawabku santai.
" Lalu kamu mau apa?" Emosi Tristan mulai meninggi.
" Aku hanya ingin tenang, pak Tristan yang terhormat."
" Kamu hanya sedang butuh hiburan, Adita. Saya tahu itu."
Aku menatapnya tajam, " banyak hal yang kamu tidak tahu tentang aku, pak Tristan." Ucapku tajam.
" Kamu tidak akan tahu!" Bentakku
Ups! Aku menutup mulut. Karena emosi aku terlalu lancang berbicara dengan pak Tristan.
" Ma-maaf pak, saya sudah lancang."
" Gak papa, maaf kalau saya sudah mengganggu kalian." Tristan berlalu dari ruangan ini.
Huh! Aku menghembuskan napas lega. Aku hanya sedang tidak ingin di ganggu. Tapi tidak ada yang mengerti dengan keadaanku.
Aku melirik kearah mas Dani, aku seperti sedang diawasi olehnya. Ada perasaan tidak enak yang mengganjal di dalam dada. Takut sesuatu hal buruk terjadi bergegas aku memberesi meja kantor yang berantakan. Tak lupa kumatikan layar komputer yang menyala.
Saat hendak mengambil tas, tiba-tiba saja tanganku di tarik oleh mas Dani.
" Lepasin" bentakku keras.
Bukannya melepaskan, justru mas Dani membekap mulutku dengan tangannya dan mendorong tubuhku ke dinding. Aku di himpit dengan tubuhnya yang besar.
" Jangan coba teriak atau aku... Aku akan menikmatimu." Ucapnya tertawa konyol.
Sadar sesuatu buruk akan terjadi, sebisa mungkin aku mencoba untuk melepaskan diri, namun tenagaku tidak berarti apa-apa bagi mas Dani.
__ADS_1
Dengan lancangnya mas Dani mulai mengendus pipiku.
" Aku rindu menikmati tubuh mu." Ucap mas Dani dengan seringai menjijikkan.
" Lepaskan aku." Teriakku pelan karena tangan mas Dani masih menutup mulutku.
" Hari ini...adalah hari yang kutunggu-tunggu. Aku rindu dengan wangi keringatmu." Lagi-lagi mas Dani mulai ngawur. Tatapan seperti harimau yang sedang kelaparan.
Mas Dani mulai menjelajah setiap wajahku. Bukan kesenangan yang kudapat. Justru aku jijik dengan perlakuan dari mantan suamiku ini.
" Tolooong..." Teriakku sesak. Aku berharap ada seseorang yang dikirim Tuhan untuk menolongku agar aku bisa lepas dari iblis berwajah manusia ini.
Mas Dani mulai menarik hijab dari kepalaku. Kancing kemeja putihku mulai terlepas satu persatu. Kelakuan mas Dani mulai di luar nalar.
" Aku menyesal meninggalkan mutiara seperti dirimu. Ternyata mami mu tidak mampu lagi menghangatkan ranjang kami." Celotehnya sambil mencumbuku.
Aku berusaha mencari celah kelemahan mas Dani, ku kerahkan seluruh tenagaku. Aku menendang ******** milik mas Dani, sontak ia mengadu kesakitan. Aku segera berlari menuju pintu, berharap pintu segera terbuka, namun lelaki iblis itu sudah lebih dulu berhasil mendapatkan kunci.
" Kamu tidak akan pernah bisa lepas. Hari ini ku pastikan aku akan menikmati kamu seperti dulu." Ujarnya dengan seringai sinis.
" Tolong...." Aku kembali berteriak minta tolong. Berharap ada yang mendengar. Tak lupa aku menggedor-gedor pintu agar menimbulkan suara berisik.
Di luar dugaan ku, mas Dani menarik tanganku hingga aku harus terlempar Kedinding.
Sakit sekali rasanya dadaku. Mataku mulai berkunang-kunang, tenaga ku seperti habis. Mas Dani memberikan tamparan keras di wajahku.
Pi.. apa kita akan bertemu?
***
Aroma obat-obatan menyeruak di indera penciuman. Samar-samar pandanganku, netra ku perlahan-lahan membuka. Ruangan serba putih dan bersih.
Ada Tristan disampingku. Wajahnya serentak bahagia saat netea kami sama-sama bertemu.
" Aduh..." Badanku terasa sakit kalabaku mencoba untuk duduk.
" Baring saja dulu. Kamu masih sakit." Tristan membenarkan selimut yang tersibak.
" A-aku... Kenapa?" Tanyaku bingung.
Wajahku terasa linu, bahkan pergelangan tanganku tampak memar.
" Jangan pikir yang aneh-aneh, untuk saat ini yang penting kamu sembuh dulu. Aku sudah membawa bajingan itu mendekam di sel." Ucapnya geram. Tangannya pun ikut mengepal.
Aku mulai merangkai kejadian yang terjadi tadi siang di kantor. Wajah bemgis mas Dani menari-nari di pikiranku.
" Huuuhuu..." Tangisku pecah. Sedih rasanya mengalami penganiayaan oleh mantan suamiku yang tidak lain sekarang menjadi suami mamiku sendiri.
__ADS_1
" Cup.. kamu aman sekarang. Aku minta maaf.. karena menempatkanmu pada rekan kerja yang kurang ajar seperti Dani. Masih untung dia belum berhasil memyentuh kamu." Ucap Tristan lagi.
"Andai Tristan tahu kisah kelam rumah tanggaku bersama Dani." Ucap batinku pilu.
Tok..tok..tok..
Belum di persilahkan pintu kamar ini terbuka. Ada wanita paruh baya yang sedang menggendong anak bayi mungil. Aku mengenal mereka. Mami ku dan buah hatinya, Anaya.
Mami datang dengan mata memerah. Apa mami sudah tahu kejadian sebenarnya?
Mami berjalan tertatih-tatih. Kakinya seperti sakit, raut wajahnya pun nampak letih.
" Adita.." panggil mami pelan. Suaranya lemah.
" Tolong... Cabut laporan kamu di kantor polisi." Ucap mami lagi. Air mata turut membasahi pipinya yang mulai keriput.
Entah sejak kapan kecantikan mami mulai memudar. Tubuhnya pun tampak mulai kurus. Ada apa dengan mami?
Permintaan mami bukan saja membuat aku dan Tristan terkejut. Kami sama-sama seperti mendengar guntur di siang bolong.
" Ibu siapanya Dani? Mamanya?" Tanya Tristan nyolot.
Mami menatap Tristan dengan pandangan sayu.
" Ibu tahu tidak, anak ibu itu sudah menganiaya pegawai saya. Saya pastikan anak ibu akan mendekam di sel lebih lama." Ucap Tristan berapi-api.
" Tolong lepaskan mas Dani... Anak saya masih kecil." Ucap mami tersedu-sedu.
Mulut Tristan sontak membentuk huruf o. Dia pasti tidak percayaendengar ucapan mami.
" Biarpun cucu ibu masih kecil, saya tidak perduli." Ucap Tristan jutek.
" Saya mohon pak..tolong kasihani saya..saya akan lakukan apapun itu, yang terpenting mas Dani bisa bebas." Mami mulai sujud di kaki Tristan.
Tristan mundur beberapa langkah. Ia terkejut melihat kenekatan wanita paruh baya yang sedang bersujud di kakinya.
" Mami..." Aku berusaha bangun dari tidurku. Meski sakit tetap ku paksa.
Mata Tristan mendelik kaget saat aku memanggil wanita paruh baya itu dengan sebutan mami.
" Bangun mami.." pintaku sedih.
Mami bangun dari sujudnya. Anaya terlihat mulai rewel. Ia pasti tidak nyaman dengan situasi ini.
" Dita, tolong nak.. tolong cabut laporan kamu." Ucap mami dengan pilu.
Sebesar apa cintamu dengan mas Dani, mami? Hingga engkau tidak sedikit pun bertanya tentang keadaan anakmu ini. Padahal kondisi ku jauh lebih lemah saat ini.
__ADS_1