Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 43


__ADS_3

" Maksudmu apa Alexa?" Suara Tristan meninggi.


Aku mencoba menguping pembicaraan Tristan dengan Alexa di halaman samping.


" Tidak mungkin kamu hamil, Alexa. Bahkan malam itu aku tidak ingat sedikitpun kejadiannya." Tristan mencoba membela dirinya.


" Kamu tidak mungkin hamil, Alexa. Kalau pun hamil sudah pasti itu bukan anakku." Ucap Tristan geram.


Ya Allah... Cobaan apa lagi ini,?


Apa benar Alexa sedang hamil anak Tristan?


Badanku terasa gemetar, dunia pun terasa gelap. Bumi yang ku pijak seakan goyang.


" Tan..." Panggil ku lemah.


Tristan terkejut melihat aku sudah ada di belakangnya.


Tubuhku lemas, hingga aku terjatuh di lantai.


***


Aku tersadar, indra penciumanku terasa mencium aroma minyak angin yang menusuk hidung.


Aku sudah diatas ranjang. Ada wajah Tristan yang tampak khawatir di sebelahku.


" Adita..maaf... Maafkan aku.." Tristan memohon ampun padaku.


Ku buang pandanganku. Ada rasa muak yang menjalar didiriku.


" Tolong jangan pernah bilang sama mama dan papa, Dit. Aku akan selesaikan semuanya."


" Ceraikan aku, Tan." Ya..pada akhirnya kalimat itu kembali keluar dari mulutku.


" Tidak Dit, kita tidak akan pernah cerai." Ucap Tristan lagi.


" Kenapa? Apa alasannya? Kamu saja sudah tidak setia, Tan. Kamu saja sudah menanam benih di rahim orang lain."


Ternyata sakit kali, sama rasanya saat aku bersama Dani.


" Dita, kamu harus percaya jika dia bukan hamil denganku. Percaya denganku Dit. Aku tidak seberngsek itu untuk melakukan zina." Tristan membela dirinya sendiri.


" Aku beri waktu satu bulan untuk kamu membuktikan padaku bahwa yang dikandung oleh Alexa bukan benih dari mu."


" Aku janji..akan membuktikan itu, Dit." Tristan meraih tanganku, namun rasa itu sudah hambar.


***


" Dit, kamu sakit? Kenapa kamu terlihat kurusan." Mama memperhatikan aku dengan seksama.


" Ah.. tidak ma." Aku berusaha menutupi semuanya dari mama sesuai dengan permintaan Tristan.


" Ayah Farah mana?" Mama celingukan mencari sosok anak semata wayangnya.


" Ada di kamar ma." Jawabku singkat.

__ADS_1


" Tumben sekali tidak keluar. Kalian sedang ribut?"


Aku menggeleng lemah. Aku tidak tahu harus jujur atau tetap diam seribu bahasa.


Mama masih asyik bermain dengan Farah, meski aku tahu mama tetap mencium bau bangkai diantarta kami.


Tristan keluar dari kamar, wajahnya tampak gugup.


" Mama..sudah lama?" Tristan basa basi kepada mama.


Mama menatap sekilas, " Tan, apa kamu tidak memperhatikan Adita. Lihat badannya kurusan." Sela mama.


Tristan menatapku lama, ada wajah bersalah disana.


" Kamu jangan cuek begitu, kalau tiba-tiba Adita sakit parah, kasihan loh farah." Mama ngedumel sambil sesekali tangannya mencolek Farah.


" Kamu sakit, yang?" Tanya Tristan.


Aku hanya menggeleng. Bahkan untuk berbicara dengannya saja aku malas.


Tristan memeriksa dahiku, " apaan sih?" Aku mengibaskan tangan Tristan. Jujur, semenjak Alexa hamil, aku tidak ingin bersentuhan dengan Tristan. Aku merasa jijik dengan lelaki yang asal celap celup.


Mama menatapku aneh, " kalian pasti ada ribut. Mama yakin, sampai-sampai Adita makan hati. Jujur Adita!" Bentak mama.


" Ma.. Adita bingung.. apa Adita harus jujur atau menyimpan semua ini dengan diam. Alexa hamil, ma."


" Hah? Hamil? Siapa pelakunya? Tristan?"


" Iya, ma."


" Dasar anak kurang ajar... Kurang apa istrimu, Tan? Huuuuuu..." Mama histeris.


" Kamu mama didik supaya menjadi anak yang terbaik tapi ..kok malah begini, Tan... Kamu tega sama mama dan papa... Tan..." Mama meraung.


" Ma... Ampun ma.. bukan Tristan pelakunya." Tristan bersujud di kaki mama.


Farah yang asyik bermain kini malah terdiam melihat Omanya menangis histeris.


Aku jadi merasa bersalah pada mama.


" Ma.. Adita gak papa... Mama jangan nangis.." aku berusaha memberi pengertian pada mama.


Entah karena terlalu lama menangis, tiba-tiba mama kejang-kejang dan pingsan. Aku panik, begitu pun Tristan.


" Tan.. bawa mama kerumah sakit sekarang." Perintahku.


" Kalau sampai terjadi apa-apa pada mama.."


" Aku akan tanggung jawab Tan. " Sela ku .


Kami membawa mama ke rumah sakit. Papa sudah kami kabari, papa meluncur dari rumah. Mama mrmang sengaja ingin menginap di rumah kami, dan papa langsung pulang setelah mengantar mama.


" Ma... Mama harus kuat.. mama harus sembuh..." Doa ku dalam hati.


Perjalanana kali ini terasa lama bagiku. Aku tidak sabar melihat mama di tangani oleh dokter.

__ADS_1


***


Mama terbaring lemah. Masih beristirahat.


" Sebenarnya ada apa? Kenapa mama bisa sakit? Padahal tadi pagi sehat-sehat saja."


Tristan bercerita perihal yang terjadi.


" Huft..." Papa menghela napas berat.


" Tapi aku tidak merasa melakukan itu pa.."


" Itulah .. papa pernah mengalami apa yang kamu alami dulu. Disaat jamu masih kecil. Dan sekarang, kamu merasakan juga. Papa harap rumah tangga kalian juga sekuat kami. Papa dulu di tuduh menghamili sekretaris papa. Tapi.. pada dasarnya papa tidak merasa. Papa juga berhasil membuktikan jika papa tidak bersalah. Dita..papa harap kamu lebih kuat dan sabar menghadapi cobaan pernikahan. Papa percaya jika Tristan tidak menghamili Alexa." Papa bercerita kisah masa lalunya.


" Tan.. Dit, mama mu dulu pun meminta cerai, bahkan hampir seratus kali sehari mengatakan cerai. Tapi papantetap gigih pada pendirian papa. Papa yakin jika todak menyentuh perempuan itu. Jadi..papa minta, bersabarlah sedikit menghadapi ujian-ujian rumah tangga." Pesan papa pada kami.


Aku termangu merenungi semua cerita papa. Jika mama pernah mengalami juga, berarti mama adalah wanita yang tegar. Aku harus bisa seperti mama, menjadi wanita hebat dan kuat demi rumah tangga kami.


Papa pergi masuk kedalam ruang rawat mama.


Aku dan Tristan menunggu diluar bersama Farah.


" Dit, maukan bersabar untukku?" Tristan meraih tanganku. Menggenggam erat.


" Apa aku bisa? Bagaimana jika itu benar anakmu?"


" Percaya sama aku. Aku tidak akan pernah memakan daging mentah yang bukan milikku,"


" Mau berjuang untukku?" Tanya Tristan penuh harap padaku.


Aku mengangguk mantap. Ya, apa salahnya aku yang berjuang untuk suamiku.


***


Keadaan mama sudah mulai membaik.


Rencana pagi ini kami akan pergi ke Lampung untuk kembali mendatangi hotel tempat mereka menginap. Aku yakin disana ada cctv yang dapat mengungkap fakta sesungguhnya.


Dengan keadaan berat hati, aku menitipkan Farah pada mama dan papa.


" Sayang..maaf ya, karena ibu harus nitipkan kamu sama oma. Ibu pergi bukan untuk bersenang-senang, nak. Ibu pergi untuk kebaikan kamu, nak. Kebaikan kita semua." Bisikku di telinga Farah.


Ini adalah kali pertama aku meninggalkan Farah, " ya Allah..semoga Farah bisa di ajak kerja sama. Tidak rewel saat di asuh oleh mama dan papa." Doaku dalam hati.


Setelah berpamitan aku dan Tristan pun langsung menuju bandara.


Sepanjang perjalanan, ia selalu menggenggam tanganku. Sesekali menciumnya.


" Kenapa?" Tanyaku.


" Aku takut..aku takut tidak bisa menggenggam tangan ini lagi.. aku takut.. tidak bisa menjadi sandaranmu lagi. Aku menyesal, Adita.. andai aku lebih dewasa..dan memilih untuk tetap di rumah.. "


Wajah Tristan tampak pias.


" Tan.. aku tidak bisa menjanjikan apa pun padamu. Jika Alexa benar mengandung anakmu, aku mundur menjadi pendamping mu..."

__ADS_1


__ADS_2