Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 45


__ADS_3

Aku memilih masuk kerumah. Tristan tampak galau di sofa.


" Ada apa lagi Tan?"


" Bagaimana jika papa Alexa menarik saham dari kita?"


" Biarkan saja." Jawabku cuek.


" Tapi dia investor terbesar, sayang..." Tristan tampak tidak puas mendengar tanggapanku.


" Lalu kalau papanya investor terbesar kenapa? Kamu galau? Takut bangkrut? Jangan tukar keluarga mu dengan menciptakan kebahagian untuk orang lain, Tan. Aku tidak takut jika suatu saat kamu menjadi miskin. Aku juga tidak takut jika perusahaan kamu bangkrut. Kebahagiaan Farah jauh lebih penting. Mental Farah juga tidak kalah penting, Tan." Aku meninggalkan Tristan, memilih bersiap-siap untuk menjemput Farah.


Rasa rinduku sudah menggebu pada malaikat kecilku...


***


Aku pergi ke rumah mama untuk menjemput Farah, sedangkan Tristan tinggal di rumah. Dia merasa sedang tidak enak badan karena terlalu banyak pikiran.


" Farah..."


Gadis kecilku berlari sempoyongan kearah ku. Ya.. tidak terasa sekarang dia sudah tumbuh besar.


Ku peluk erat tubuh malaikat kecilku,


" Maafin mama ya, karena ninggalin kamu sama oma."


Farah hanya mengangguk sambil tersenyum. Ku bawakan makanan kesukaan Farah, coklat. Ya, Farah sangat suka pada coklat.


Mama baru siap mandi, " bagaimana Dit? Lancar urusannya? Tristan mana?"


" Di rumah, ma. Katanya sedang tidak enak makan."


Farah asyik menikmati coklat, tidak lupa ia juga mengajak timmy, boneka kesayangannya untuk ikut makan juga. Jangan tanya bagaimana bentuk timmy setelah dijejalkan coklat ke dalam mulutnya. Hihihi... Farah memang lucu.


Papa sudah gabung bersama kami, " tuntas Dit?"


" Ada titik terang, pa. Ternyata itu semua hanya akal-akalan Alexa saja. Tadi pagi juga Alexa nekat datang kerumah. Dan dia terkejut karena kami berhasil menemukan rekaman cctv. Alexa membawa kawan-kawannya untuk membantuelancarkan aksi mereka." Jelasku pada mama dan papa.


" Syukurlah..." Mama tampak lega. Aku mengerti bagaimana perasaan seorang ibu.


" Tapi..."


Aku ragu untuk memberitahu pada mama dan papa.


" Tapi apa Dita? " Seru papa tak sabar.


" Tristan galau, takut papanta Alexa menyabut investasi di perusahaan."


Huft! Papa membuka kaca mata yang bertengger di batang hidungnya.


" Itulah kelemahannya, Dit. Jika Tristan bangkrut, apa kamu masih bersedia mendampingi Tristan?" Tanya papa lesu.

__ADS_1


" Kapan saja perusahaan Tristan bisa bangkrut. Itulah kebanyakan diantara mereka sering menjodohkan pitra dan putrinya agar keuangan mereka tetap stabil." Jelas papa lagi.


" Apa papa menyesal Tristan menikah denganku?"


" Bukan..bukan begitu maksud papa...jangan salah paham dengan ucapan papa. Papa hanya takut, kamu tidak sanggup untuk menghadapi kehidupan yang jauh lebih buruk nantinya." Papa seperti tidak enak padaku.


" Pa, Adita mencintai Tristan karena Allah. Insya Allah.. Adita siap hidup susah jika itu kehendak Allah." Sahutku mantap.


Bukankah Allah tidak akan menguji iman hambanya di luar batas kemampuan?


Setelah cukup lama berada di rumah mama, aku memutuskan pulang kerumah bersama Farah.


Farah merasa senang, sebelum pulang, aku mengajak Farah bermain di arena anak-anak. Bukankah Farah butuh hiburan juga?


Aku memandang putei kecil yang sedang asyik bermain bola. Apakah kelak dia bisa menikmati sekolah favoritnya? Seperti aku dulu.


Beruntungnya aku dulu, tidak selalu foya-foya dengan uang Tristan. Tabungan itu bisa di gunakan untuk kehidupan kami beberapa tahun kedepan mungkin. Tabungan papa juga masih ada. Tapi...sebagian ingin aku berikan pada mami. Bukankah masih ada sebagian hak mami. Meski tidak menyukai mami, namun tidak terpikir olehku untuk menelan sendiri sisa-sisa harta warisan papi.


" Huuuuuuuu..."


Farah terjatuh!


Aku segera berlari untuk menolongnya. Ya Allah...karena terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, aku tidak sadar jika Farah sudah menjauh dariku. Farah mencoba bermain perosotan.


" Maafkan ibu ya nak... Ibu lalai menjaga kamu." Menyesal sekali rasanya karena yelah mengabaikan Farah. Ake melihat ada benjolan di dahi Farah.


Aku memutuskan untuk pulang karena hari pun sudah sore.


***


Aku sempat kesal di buatnya. Anaknya pulang bukannya disambut ini malah angkrem di dalam rumah.


" Tan..." Rasanya ingin ku dobrak saja pintu rumah ini.


Karena merasa aneh, aku segera meminta bantuan satpam di depan rumah.


" Pak, apa ayah Farah ada keluar?"


" Tidak ada buk."


Aku tertegun sejenak, " pak, tolong saya deh. Buka paksa aja pintu rumahnya."


" Serius bu?"


" Iya..takutnya ada apa-apa." Insting seorang istri mulai tidak enak.


" Baik bu." Dua pak satpam mulai membawa perlengkapan untuk membuka paksa pintu rumah.


Hatiku rasanya dag dig tidak karuan.


" Tan..kamu sedang apa sih? Sampai gak buka pintu." Batinku menggerutu.

__ADS_1


Setelah butuh perjuangan akhirnya.. pintu rumah berhasil di buka. Aku segera berlari memanggil suamiku.


" Tan... Tristan..." Semua penjuru rumah sudah ku cari, namun nihil. Hanya pintu kamar yang masih terkunci rapat. Aku mencoba mengintip dari balik bolongan kunci, namun kunci tergantung, sehingga tidak ada celah sedikit pun untuk melihat situasi di dalam.


Aku kembali menggedor-gedor pintu kamar. Tetap tidak ada sahutan. Feeling ku mulai tak enak


" Pak sementara mencari kunci cadangannya, tolong buka paksa saja." Pintaku panik.


"Kenapa sih disaat darurat masih saja bisa lupa menyimpan kunci cadangan."


Dalam keadaan panik bisa-bisanya aku masih ngedumel pada diriku sendiri.


Ah. Aku menepuk keningku sendiri.


Bagaimana bisa ketemu jika aku menyimpannya di lemari kamar?


" Bodoh sekali kamu Dita...kenapa harus nyimpan di lemari.?"


Aku berlari ke kamar. Ke dua satpam rumah sedang berusaha mengakali pintu.


" Pak, buruan! " Aku merasa tidak sabar lagi menunggu pintu itu terbuka.


Satu detik.. satu menit... Sepuluh menit...dua puluh.. dan...


" Tan...." Aku berlari hingga tersungkur.


Farah terjatuh dari gendonganku. Iaenqngis kencang.


Aku tidak sempat menghiraukan tangisan Farah. Yang ada di otak ku saat ini adalah Tristan dan Tristan.


" Tan...bangun! Kamu kenapa..." Aku menggoyangkan badan Tristan yang tertidur di lantai kamar dengan darah yang berceceran.


Mata ku terperanjat kala melihat pergelangan tangan Tristan sudah di sayat. Juga tergeletak pisau dapur dan pengasahnya.


" Kamu gila Tristan.... pak tolong bantu saya angkat playah Farah ke mobil." Perintah ku dengan segala kekalutan.


Yang ada di fikiranku hanya dompet dan KTP.


" Pak tolong titip rumah dan Farah." Ku berikan farah pada pak satpameski tangisnya memekakkan telinga.


Seperti pembalap yang berada disirkuit, aku seperti lihai mengendarai mobil.


" Tan...bertahanlah...demi Farah."


Aku membelok kala ada rumah sakit terdekat.


Secepat kilat aku turun dan berteriak meminta tolong pada suster, " Sus.. tolong suami saya di mobil..."


Dengan sigap tenaga medis membantuku.


Aku sudah tidak mementingkan penampilanku yang penuh dengan darah. Yang terpenting saat ini nyawa Tristan bisa tertolong.

__ADS_1


Setelah di tangani Dokter, aku bisa sedikit bernapas lega. Aku menunggu di depan ruangan Tristan. Tetesan air mata berkejaran untuk turun.


" Tan..setega itu kamu sama aku .."


__ADS_2