Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 40


__ADS_3

Mama dan papa sudah pulang. Namun aku dan Tristan belum berbaikan. Tristan masih enggan meminta maaf padaku. Bahkan Tristan tidak menggendong Farah saat menangis.


Tristan justru sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia tersenyum. Entah pada siap ia tersenyum? Hantukah? Setankah? Atau Alexa si perempuan gatal?


" Besok aku mau keluar kota, tolong siapkan beberapa pasang baju. Mungkin menginap tiga hari." Ucap Tristan lalu melangkah pergi dari hadapanku.


Aku hanya diam, tidak menggubris ucapan Tristan. Malas rasanya untuk memulai percakapan dengannya. Hatiku masih sakit jika mengenang Alexa mencium pipi Tristan.


***


Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Mumpung Farah belum bangun. Lagi-lagi aku tidak menemukan Tristan tidur di ranjang bersama kami.


Aku membuka pintu kamar, menuju kamar tamu.


Pintu kamar tamu terkunci. Sejak kapan dia menjadi tertutup? Sejak kenal dengan Alexa? Tidak ingin ribut, aku memilih menyusun perlengkapan Tristan.


Sakit rasanya menjalani hidup seperti ini. Aku yang butuh bimbingan semangat, malah di jauhi oleh suamiku sendiri.


Pakaian sudah siap, sarapan sudah siap. Tristan juga sudah tampil mempesona.


" Aku tiga hari disana. Kalau kamu merasa repot, cari saja orang untuk bekerja di rumah ini. Cari yang sudah paru baya, supaya kamu tidak mati cemburu nantinya." Ujar Tristan penuh penekanan. Aku tahu ia sedang menyindirku.


Aku menggendong Farah, Tristan berpamitan pada putri kecilnya itu, namun mengabaikan ku. Kalian tahu rasanya? Sakit sekali, bagai luka namun tidak berdarah.


Ku tutup pintu rapat-rapat meski Tristan belum pergi. Aku berharap dia peka akan kekesalanku ini.


Namun...mobil yang dikendarai Tristan tetap melaju meninggalkan rumah ini.


Aku yakin.. Alexa ada dalam acara rapat ini. Jika didepan mataku saja berani, lalu bagaimana jika di belakangku?


Aku harus mengikuti kepergian Tristan keluar kota. Aku harus meminta bantuan Susi. Hanya Susi yang bisa membantuku saat ini.


Aku dan Farah mendatangi kantor Tristan. Benar saja, Susi tidak ada di tempat. Aku mencoba meminta nomor ponsel Susi pada teman kerjanya.


Sebelum menelpon Susi, terlebih dahulu aku mengirim pesan singkat.


( Susi, ini saya Adita. Istri pak Tristan. Tolong jangan bilang pak Tristan kalau saya chat kamu.)


Tanpa menunggu lama, Susi langsung menelpon ku.


Aku meminta alamat mereka sekarang. Ternyata mereka akan terbang ke Lampung. Kota yang sama sekali belum pernah ku sambangi.


Aku memutuskan untuk pulang. Jika memikirkan ego sendiri, mungkin aku akan terbang ke Lampung. Namun jika memikirkan Farah, aku memutuskan untuk pulang ke rumah menunggu kepulangan suamiku.


Ya..demi Farah..aku pulang.

__ADS_1


***


Tiga hari bukan waktu yang sebentar untuk menunggu kepulangan suamiku. Apalagi kini aku sedang dilanda cemburu. Tapi karena hadirnya Farah, aku merasa kuat dan tidak boleh cengeng.


Tring...


Satu pesan masuk.


Dari Susi ternyata. Mengirim gambar apa dia? Rasa penasaran ku mengalahkan apa pun hingga aku menghentikan aktivitas makanku.


" Tristan..." Gumam ku pelan menahan amarah.


Istri mana yang tidak marah jika melihat foto suaminya sedang memangku wanita lain.Sepertinya mereka sedang berada di diskotik Apa lagi wanita itu Alexa yang jelas-jelas punya rasa pada suamiku.


Alexa gadis bertubuh sintal dan mulus. Memakai pakaian merah menyala dengan tali tipis menutup bahunya. Alexa memang benar-benar ingin menggoda Tristan. Apa Tristan mampu menolak pesona Alexa?


Kepala ku berdenyut memikirkan suamiku dan Alexa. Kemungkinan kecil jika mereka tidak akan tidur bersama.


Air mataku menetes, namun mulutku tertutup. Sakit rasanya mendapatkan perlakuan seperti ini dari Tristan. Bahkan rasa laparku hilang seketika.


Tidak ingin kehilangan jejak perselingkuhan Tristan, aku mengabadikan foto mereka berdua pada sebuah kertas. Lalu menempelnya di balik lemari agar tidak kerahuan oleh Tristan.


***


Aku dan Farah sedang bersantai di ruang keluarga. Tristan sudah pulang. Ku biarkan dia bebas seperti harapannya.


Tristan sudah mandi, dia berjalan ke arah kami.


" Kamu gak masak hari ini?" Tanya Tristan sambil menjawil pipi gembul Farah.


" Enggak." Jawabku singkat dan jutek.


" Kenapa?" Tanyanya lagi.


" Aku repot. Kalau kamu lapar pesan saja secara online." Sungutku lagi.


" Mau kamu apa sih?" Tristan mencengkram rahangku.


" Ayo ngomong!" Ucap Tristan tanpa melepaskan tangannya dari wajahku.


Bagaimana aku bisa ngomong jika mulutku saja kamu cengkram Tristan? Bahkan untuk mengeluarkan suara saja aku tidak bisa.


Aku hanya diam pasrah. Hanya mataku saja yang memerah.


Setelah tersadar Tristan melepaskan tangannya dari rahangku, " itulah akibatnya. Sakitkan?" Bentaknya lagi.

__ADS_1


Rasa sakitku menerima setiap perlakuan Tristan seperti sudah berada di level tertinggi.


" Ayo ngomong! Jangan buat aku semakin emosi." Bentaknya lagi.


" Cukup!" Ucapku sambil terisak.


Tristan mendorongku. Hampir saja megenai Farah.


" Dasar wanita kurang bersyukur kamu. Cuma ongkang-ongkang kaki di rumah saja masih pencemburu. Wajarlah Alexa mencium pipiku, kami rekan bisnis."


Aku menatap Tristan dalam-dalam. Perubahannya begitu jau sejak ada Alexa.


" Wajar bagimu, Tan? Oke... Kita cari baby sister untuk menjaga Farah. Akan ku lakukan apa yang kamu lakukan bersama wanita lain." Ancamku.


" Dasar bodoh!" Maki Tristan padaku.


" Aku memang bodoh, Tan! Lalu kenapa kamu mau menikah denganku? Jika kamu sudah tidak suka, ayo bercerai!" Tantangku.


" Ayo, silahkan pergi dari rumah ini." Usirnya padaku.


Jadi seeprti ini sifatmu, Tan. Aku pergi ke kamar membawa perlengkapan Farah.


Ku bawa ATM berisi harta peninggalan papa, sementara gaji Tristan yang di bwri padaku, yang selama ini ku simpan, ku biarkan tinggal didalam ATM. Kuletakkan ATM itu diatas meja, supaya Tristan tahu bahwa aku bukan wanita murahan seperti wanita-wanita yang mengejarnya selama ini.


Tristan masih bermain dengan Farah, " mau kemana kamu? Kalau mau pergi, pergi saja sendiri! Jangan ajak-ajak Farah." Ucapnya tanpa melihatku.


" Kamu tahu Tan? Sampai tetes darah sekalipun aku tidak akan membiarkan Farah tinggal bersama mu." Ku angkat Farah yang sedang bermain di lantai.


" Aku ayahnya, dia lebih berhak dan sejahtera jika bersama ku, sedangkan kamu? Mau ngasih apa kamu sama Farah? Kamu sendiri saja tidak bekerja." Tristan tersenyum sinis ke arahku.


Memang benar, wanita yang tidak bekerja akan tampak kecil di depan seorang lelaki sombong. Dia tidak tahu jika selama ini aku menyimpan peninggalan harta warisan papi dengan baik dan aman. Bahkan sekalipun aku tidak pernah bercerita perihal itu pada Tristan.


Aku tidak mau Tristan tahu harta kekayaan papi. Lelaki baik sekali pun akan berubah, termasuk Tristan.


Dan yang Tristan tahu, jika aku keluar dari rumah ini akan bernasib sama dengan mami, pada kenyataannya,jika aku keluar dari rumah ini, aku bisa membangun rumah yang lebih mewah dari rumah yang sekarang aku tempati.


" Kenapa diam? Takut jadi gelandangan?"


Aku membawa Farah dan segera berlari.


Tristan mengejar ku hingga terjadi tarik menarik antara ak dan Tristan memperebutkan Farah.


Karena ketakutan Farah menangis sekencang-kencangnya, namun itu semua tidak mengurangi tekad kami untuk mendapatkan Farah seutuhnya.


Hingga...dari kejauhan mobil papa dan mama memasuki halaman rumah ini. Melihat kami yang memperebutkan Farah, mami berlari kearah kami, dan segera menggendong Farah.

__ADS_1


" Dasar orang tua gila...."


__ADS_2