
Tristan mengecup bibirku singkat. Untuk kedua kali aku membiarkan seorang lelaki berbuat lebih padaku.
Oh Tuhan...perasaan apa ini? Mengapa aku tidak mampu menolak pesona lelaki tampan ini?
Tidak menyudahi sampai disini, Tristan kembali mencium bibirku untuk ke sekian kali. Bahkan aku kini membalas ciuman itu. Entah siapa yang memulai hingga kami bisa terlibat dalam ciuman yang panjang dan panas.
Sebagai orang yang pernah merasakan surga dunia, jujur aku merindukan itu..
Tangan Tristan mulai menjelajah dengan nakal.
Aku mencoba mengembalikan akal sehatku meski itu susah. Dan sepertinya Tristan sudah di kuasai oleh nafsu.
Aku dilema sendiri, disatu sisi aku menikmati sentuhan dari Tristan, disatu sisi aku ingin menolak perbuatan u3ieiwjwjsTristan 38wiiajsjaiaiajajwkkwjwjsjsjsjjsjsjsjs.
Tuhan... Bantu aku...
"Cukup, Tan." Aku mendorong dengan kuat tubuh Tristan.
Tristan yang masih di kuasai oleh nafsu mencoba untuk memperdaya aku lagi.
" Cukup! Kita gak boleh melakukan hal yang lebih."
" Tapi kamu menikmati, kan?"
" Cukup Tristan! Sekarang kamu boleh pulang." Aku mendorong tubuh Tristan untuk keluar dari rumah.
" Oke! Aku pulang." Ia mengusap kepalaku dengan lembut.
" Baik-baik dirumah."
Aku mengangguk. Setelah Tristan pulang, aku segera menutup pintu dan menguncinya.
" Bodoh banget sih Dit.. bisa-bisanya pasrah di sentuh sama Tristan.. ingat Dit, kalian belum menikah. Jangan sampai hamidun duluan." Celoteh batinku sinis pada diriku sendiri.
"Dasar jendes! Kalau rindu belain lelaki gak gini caranya." Aku masih ngedumel sendiri.
***
Pagi sudah datang, aku sudah bersiap untuk berangkat kekantor. Saat hendak keluar rumah, ada sebuah mobil hitam yang sudah terparkir di depan rumah. Mobil siapa?
Aku mencoba mengingat nomor mobil yang tertera.
Mirip mobilnya Tristan, tapi apa iya? Untuk apa sepagi ini ada didepan rumah?
Belum habis rasa heran ku, sebuah wajah nongol dari bali kaca mobil yang di turunkan.
" Tristan?"
Pemilik nama yang ku sebut hanya cengengesan, " yuk naik." Ajaknya.
" Enggak bisa, aku naik motor aja." Tolakku.
Tristan turun dari mobil, " mau di paksa atau.."
" Iya..." Ucapku sebal. Setelah memastikan rumah sudah terkunci aku segera menyusul masuk kedalam mobil Tristan.
" Pagi bidadari..." Sapanya ramah.
" Enggak usah gombal, aku gak punya uang receh." Sahutku.
" Idih..apaan sih?"
Tristan melajukan mobilnya menuju kekantor.
__ADS_1
" Tan, kenapa jemput sih?"
" Kenapa? Malu?"
" Ya iyalah malu. Nanti dikira mereka kita punya hubungan lagi."
" Kamu single, aku pun single, salahnya dimana Dita? Sejak kapan sih kamu kepikiran sama omongan orang? Santai deh."
Mobil memasuki gerbang kantor. Aku semakin panik.
" Tristan, aku turun disini aja deh."
" Kamu kenapa sih? Malu jalan sama aku?"
" Bukan gitu..."
" Lalu?"
Aku memilih mengalah, tidak ada gunanya berdebat dengan Tristan.
" Yuk.."
" Iya duluan, aku mau nunggu Rere."
" Jangan banyak alasan." Tristan menggandeng tanganku erat.
Ya Allah... Tristan.. dimana akal sehatmu?
Saat melewati ruangan rekan kerja yang lain, mereka ramai menggoda kami.
" Suit..suit... Kapan nih?"
" Ayo dong.. segera di halalin..."
Dan masih banyak lagi godaan yang di lontarkan oleh teman kerja kami.
Tristan adalah bos yang humble, jadi siapa pun yang dekat dengannya akan merasa nyaman.
Tristan mengantar aku sampai kedepan pintu ruangan kerjaku. Tanganku dilepaskan.
" Selamat kerja sayang..nanti makan siang bareng ya. Aku jemput jam dua belas."
Pintu di tutup, barulah aku bisa bernapas lega.
Tristan..lelaki dambaan setiap perempuan. Siapa pun ingin menjadi pendampingnya. Aku yakin itu.
Tristan adalah laki-laki dewasa, dia tidak pernah mengatakan cinta atau sayang, tapi.. perlakuannya padaku sudah membuktikan bahwa Tristan punya rasa yang lebih padaku.
Ah.. kenapa harus Tristan yang memenuhi pikiranku.
Aku memulai aktivitas ku. Mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk sendirian. Tristan belum mencarikan rekan kerja untukku.
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Duh.. sebentar lagi Tristan akan datang menjemput. Apa yang harus kulakukan? Menolak? Jelas tidak bisa.
Pintu kerja terbuka, " tara..." Tiga cewek-cewek cantik membuat heboh diruangan.
" Sejak kapan?" Tanya Rere penasaran.
" Apaan sih?"
" Duh..minta halalin dong sama si tampan.." seru mereka serentak.
__ADS_1
" Apaan sih?"
" Yuk makan ke kantin." Ajak Rere.
" Em.. aku... Enggak bisa. Uda janji sama.."
" Sama Tristan?" Wajah Rere terlihat murung.
" Dita, sudah siap? Yuk makan." Tiba-tiba Tristan muncul di balik pintu.
Aku jadi merasa serba salah dengan teman-teman ku yang lain.
" Maaf ya, saya sudah ada janji sama Dita. " Ucap Tristan tanpa rasa bersalah.
Rere dan teman-teman yang lain akhirnya keluar.
" Tan..aku gak enak sama mereka."
" Santai dong, Dita."
" Bagaimana bisa santai? Mereka teman aku loh, Tan."
" Kamu pikir mereka bukan teman aku? Jangan buat suasana gak enak, Dita."
Tristan menarik tanganku.
" Lepaskan!" Aku menghempaskan tangan Tristan.
Tristan terkejut dengan perlakuan kasar dariku.
" Kami jangan posesif, Tan. Kamu bukan siapa-siapa ku. Bukan pacarku, bukan tunanganku, bukan juga suamiku. Kamu tidak berhak mengekang pergaulanku." Bentakku.
" Oh..jadi kamu tidak suka dengan caraku. Oke.. besok kita menikah. Aku akan urus semua administrasi yang di butuhkan. Mana dokumen kamu?"
Aku ternganga tidak percaya memdengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. " Tidak semudah itu bagiku untuk menjalin hubungan dengan seorang pria, Tristan. Aku belum mengenal kamu, kamu juga belum mengenalku aku. Jangan segampang itu mengatakan nikah pada seorang janda. Kamu tahu Tristan? Aku akan menikah dengan laki-laki yang tepat. Aku tidak ingin gagal kembali dalam membina bahtera rumah tangga.
" Jadi apa arti ciuman kita semalam jika tidak ada dasar cinta? Apa semudah itu kamu di sentuh oleh lelaki? Ck.. ternyata kamu murahan." Tristan membawa amarahnya menjauh dariku.
Kenapa harus seperti itu?
***
Sejak pertengkaran di kantor, hubunganku dengan Tristan mulai renggang. Kami juga sudah saling tidak menyapa. Bahkan sekarang Rere dan Tristan mulai dekat. Apa Rere punya rasa dengan Tristan? Apa mereka sudah jadian? Semudah itu Tristan menjatuhkan rasa pada perempuan lain.
Hari ini weekend, Tristan mengadakan acara kantor di sebuah villa.
Aku sudah menyusun beberapa setel pakaian juga obat-obatan.
Kami akan berangkat menggunakan bus yang sudah di persiapkan.
" Ayo... Kita berangkat sekarang.." teriak Tristan.
Kami mulai berjalan ke arah bus dan memilih tempat masing-masing.
Netraku dan Tristan bertemu pandang. Namun secepat kilat, ia membuang pandangannya.
Sakit rasanya melihat sikap Tristan terhadapku. Jadi selama ini aku salah menilai Tristan.
Aku duduk sendiri sedangkan Tristan duduk bersama Rere persis di bangku sebelahku.
Rere menyenderkan kepalanya di bahu Tristan. Semesra itu mereka?
Api cemburu seperti ingin meledak didadaku.
__ADS_1
Apa aku mulai jatuh cinta pada Tristan?