
Mata Tristan seketika membulat. Ia tidak percaya dengan status janda yang kusandang.
" Jangan main-main.."
" Siapa yang main-main? Sekarang kamu harus tahu kebenarannya, bahwa aku bukan gadis apalagi perawan. Aku pernah membina biduk rumah tangga dengan seorang pria. Namun semua harus berakhir. Ada yang salah dengan statusku?"
" Maaf.. mama kira kalian sudah saling mengenal." Bu Ramita merasa bersalah.
" Tidak perlu meminta maaf Bu, ibu tidak salah. Selama ini kami hanya teman tidak lebih dan tidak kurang. Kami tidak punya ikatan spesial. Bukan begitu, Tristan?
Tristan hanya mengangguk kaku.
" Lalu.. siapa lelaki yang pernah menikah denganmu?"
Lidahku terasa kelu. Badan pun ikut menggigil. Jika dengan Bu Ramita aku sudah jujur dengan lebih mudah,lain hal jujur dengan Tristan begitu menguras tenaga dan emosi.
Bu Ramita yang paham dengan situasi sulit yang ku rasakan. Beliau mencoba mengalihkan pembicaraan lain.
" Em.. Tristan..kalian enggak jalan-jalan? Masih jam segini loh " Bu Ramita melirik pergelangan tangan kirinya yang melingkar sebuah jam tangan.
" Gak usah bahas yang lain, ma. Aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang berhasil mencuri perhatian Adita." Lagi-lagi Tristan menunjukkan keras kepalanya.
" Untuk apa kamu ingin tahu?"
" Barangkali aku kenal. Atau... Malah bisa ngopi bareng." Sindirnya.
" Aku mendekatkan mulutku kearah lelaki pongah ini, " siapa pun itu mantan suamiku, kamu tidak perlu tahu karena kamu bukan siapa-siapa, kamu hanya bos di tempat saya bekerja. Dan satu hal yang harus kamu tahu.. tidak semua rahasia hidupku patut kamu ketahui.
Permisi bu, Ramita..pak.. Wijaya." Aku segera menyalami kedua orang tua Tristan lalu bergegas keluar dari istana ini. Sepertinya, ini bukan temat yang nyaman bagiku. Mungkin kedua orang tua Tristan tidak mempermasalahkan statusku. Namun Tristan, sepertinya mendamba seorang perawan.
Lagi-lagi air mata jatuh tergenang. Sedih. Hidup sebatang kara, tidak punya sandaran jiwa setelah kepergian papi. Ah. Ternyata cuma papi yang bisa menerima status jandaku, tanpa pernah mempermasalahkannya.
" Dit, tunggu!"
Bahu ku terasa ditarik seseorang.
Namun aku tidak peduli. Aku tetap jalan terus.
" Hei.. keras kepala banget sih?" Suara Tristan keras banget, sampai aku terkejut. Selama kenal Tristan, ia tidak pernah mengeluarkan suara sekeras itu.
" Apa lagi?" Kuusap wajahku yang basah. Jangan sampai dia tahu kalau aku menangis. Bisa gede rasa dia.
Tristan meraih kedua bahuku. Aku menunduk karena malu jika ketahuan menangis.
Tanpa bicara Tristan membawa aku kedalam pelukannya. " Jangan nangis."
Bukannya diam justru suara tangisku makin kencang. Untung saja sekitar kami hanya ada dinding berpagar.
" Maaf..jangan salah paham dulu. Bukan aku mau menghakimi status kamu. Aku cuma tidak menyangka jika bidadari yang cantik ini seorang janda. Aku pikir kamu masih single. Cantikmu mengalahkan gadis yang belum pernah bersuami." Gombal Tristan.
Aku memukul dadanya keras.
" Aduh... Sakit." Ia mengadu kesakitan.
" Biarin." Ucapku jutek.
Cup!
Tristan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
__ADS_1
" Apa sih? Main cup cup aja."
" Sayang." Ucapnya lagi.
Ia menarik erat tubuhku. Damai.. itu yang kurasa. Sama saat pertama kali aku merasakan pelukan dari mas Dani.
" Jangan pulang ya, nginap dirumah mama saja." Pinta Tristan menghiba.
" Aku harus pulang."
" Jangan keras kepala. Aku ingin bercerita banyak hal dengan mu."
" Di rumah saja."
" Oke, tunggu disini. Aku ambil motor dulu."
" Aku ikut."
" Ya sudah ayo!" Tristan mencubit hidungku gemas.
Sesampainya di rumah Tristan, sudah ada wajah panik papa dan mamanya Tristan di teras rumah.
" Syukurlah kamu gak nekat, Dit." Ucap mamanya lega.
" Maaf bu, saya masih labil." Ada perasaan malu karena aku belum berhasil mengontrol emosi.
" Yuk!" Ajak Tristan.
Aku pun segera berpamitan kepada kedua orang tua Tristan.
Naik motor bersama Tristan,aku merasa Dejavu. Karena seperti mengulang masa indah dengan mas Dani dulu.
" Pegangan, nanti jatuh."
" Modus." Teriakku di telinganya.
Aku bukan lagi gadis muda yang langsung percaya pada ucapan lelaki. Tristan memegang tangan ku yang melingkar di perutnya. Ada getaran aneh yang kurasakan. Seperti aliran listrik yang menjalar di tubuhku. Apa aku mulai memiliki perasaan terhadap Tristan?
" Kita mau kemana?"
" Jalan-jalan."
" Kemana?"
" Kemana aja."
Aku ikut saja maunya dia. Bukankah aku juga butuh hiburan? Tristan mengarahkan motornya ke alun-alun taman kota. Banyak pasangan muda-mudi seperti kami.
Motor di berhentikan, aku segera turun. Begitu juga Tristan, ia tidak lupa untuk melepas helm.
Tanpa aba-aba Tristan menggandeng tanganku. Kami layaknya sepasang kekasih yang sedang melewati malam weekend.
Aku dan Tristan memilih untuk duduk di sudut taman kota. Kami memesan makanan ringan dan minum. Malam ini kami menikmati alunan dari penyanyi daerah. Diam tanpa kata, menikmati alunan musik. Tangan Tristan semakin eerat menggenggam.
Terbawa perasaan, aku menyenderkan kepalaku di bahu milik Tristan. Damai dan nyaman.
Tidak terasa kami sudah satu jam berada di alun-alun.
" Pulang?"
__ADS_1
" Iya, nanti kemalaman."
" Memang sudah malam. Kita cari penginapan?"
09r3w Q2 ph da
" Untuk?" Wajah ku mulai mengeras.
". Ya ampun sayang...emosian banget sih? Nanti stroke loh kamu." Godanya sambil mencolek dagu ku.
Aku hanya tersenyum masam. Kami pun akhirnya pulang kerumah kontrakan milikku.
***
" Yakin berani?" Tanya Tristan.
Kami masih duduk di ruang tamu.
" Iya." Jawabku yakin.
" Kalau kamu ragu, aku mau kok nemenin kamu tidur disini." Godanya lagi.
" Enggak perlu. Cepat pulang deh! Nanti pak RT datang gerebek kita." Ucapku asal
" Enak dong, langsung anu."
" Anu apa?" Mataku melotot ke arah lelaki menyebalkan ini.
" Ya anulah.." jawabnya lagi.
" Sana pulang.." usirku sambil menarik tangan Tristan.
" Dasar galak." Ia bangkit dari duduknya.
" Aku pulang ya. Hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa,kabari aku cepat."
" Oke." Ucapku sambil mengangkat jari jempol.
Di luar dugaanku, Tristan menarik tubuhku kedalam pelukannya. Antara bingung, kaget, juga malu berbaur menjadi satu.
Niat hati menolak, tapi..tubuh dan hati kenapa jadi gak sinkron gini sih?
Wajah Tristan mulai mendekati wajahku, bahkan arima wangi napasnya terasa di wajahku. Jantungku terasa dag dig dug ingin melompat dari tempatnya.
Tristan mengecup bibirku singkat. Untuk kedua kali aku membiarkan seorang lelaki berbuat lebih padaku.
Oh Tuhan...perasaan apa ini? Mengapa aku tidak mampu menolak pesona lelaki tampan ini?
Tidak menyudahi sampai disini, Tristan kembali mencium bibirku untuk ke sekian kali. Bahkan aku kini membalas ciuman itu. Entah siapa yang memulai hingga kami bisa terlibat dalam ciuman yang panjang dan panas.
Sebagai orang yang pernah merasakan surga dunia, jujur aku merindukan itu..
Tangan Tristan mulai menjelajah dengan nakal.
Aku mencoba mengembalikan akal sehatku meski itu susah. Dan sepertinya Tristan sudah di kuasai oleh nafsu.
Aku dilema sendiri, disatu sisi aku menikmati sentuhan dari Tristan, disatu sisi aku ingin menolak perbuatan Tristan.
Tuhan... Bantu aku...
__ADS_1