Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 7


__ADS_3

Aku menggenggam tangan papi, " Pi, jangan sakit-sakitan. Aku takut kehilangan papi. Maafin aku ya, pi. Karena aku, papi harus kembali jumpa mami." Sesalku mendalam.


Jika papi lumpuh, tentu papi tidak bisa melakukan aktivitasnya sendiri. Jika bukan aku yang merawat, lalu siapa? Demi papi, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Aku ingin fokus merawat kesembuhan papi. Bisa saja aku menyewa jasa perawat untuk mengurus papi, tapi hal itu tidak akan pernah aku lakukan. Aku akan mengurus papi dengan kedua tanganku sendiri sebagaimana papi mengurusku sejak bayi hingga dewasa. Bersyukurnya aku, saat-saat di masa sulit seperti ini papi masih punya tabungan yang dapat ku manfaatkan untuk membawa papi berobat.


" Ai..ai..."


Aku mendekat kearah papi. Akibat stroke ringan, bicara papi seperti orang cadel.


" Pi..."


Mata papi terpejam, hanya ada air mata yang mengalir dari sudut mata papi.


Ternyata papi sedang mengigau.


" Ai.. ai.." ucap papi berkali-kali.


Apa yang papi ucap? aku berfikir keras mencoba mencari jawaban.


" Pi..demi papi, apa pun akan aku lakukan. Yang penting papi sehat." Gumam ku dalam hati.


***


Setelah beberapa minggu di rawat di rumah sakit, akhirnya sore ini papi sudah boleh pulang.


Aku mulai membereskan semua barang-barang papi, " pi, aku seneng deh, papi akhirnya boleh pulang. Papi seneng gak?" Tanyaku pada papi.


Papi hanya mengangguk saja. Tidak ada raut kegembiraan di wajah papi.


Aku mendekati papi, " papi sedih? Kenapa?"


" Ai.." ucap papi.


" Maaf ya pi, aku gak ngerti ucapan papi."


Papi membuat gerakan dari tangan sebelah kanan. Gerakan tangan itu di buat diatas perut dan di gerakan menyerupai gunung.


" Mami..?" Tebak ku.


Papi tersenyum mendengar jawabanku.


" Papi kangen mami?" Tanyaku lagi.


Papi mengangguk.


Ah. Kenapa harus bahas mami lagi sih?


" Papi mau ketemu papi?"


Papi kembali mengangguk.


" Oke papi.. nanti setelah kita sampai rumah, aku akan minta mami datang buat jengukin papi, ya." Janjiku pada papi.


Papi tersenyum bahagia, tapi tidak dengan ku. Tapi untuk saat ini aku harus berhasil mengalahkan egoku sendiri demi kesehatan papi.


" Selamat sore pak, mau pulang ya hari ini?"


" Eh.. anu.. iya Dok, Alhamdulillah."

__ADS_1


Aku terkejut dengan kedatangan Dokter Alfan yang datang secara tiba-tiba.


" Jangan lupa sering bawa bapak kontrol ya.." pesan Dokter Alfan.


Aku hanya mengangguk.


Dokter Alfan membantu papi duduk diatas kursi roda.


" Terima kasih atas bantuannya, Dok." Ucapku penuh haru.


" Saya saja yang dorong."


Aku hanya mengangguk pasrah. Ada rasa segan karena telah merepotkan Dokter Alfan. Apalagi para perawat memandangku seperti sinis.


" Sudah ada yang menjemput?" Tanya Dokter Alfan.


" Sudah Dok, mungkin sebentar lagi." Jawabku sopan.


Sambil menunggu jemputan, aku dan Dokter Alfan saling berbincang-bincang.


Menurut pengakuan Dokter Alfan, beliau masih single.


Lagi cari jodoh karena sudah di paksa ole orang tuanya.


Ada rasa iba mendengar cerita Dokter Alfan. Usia sudah tiga puluh tahun, ganteng, mapan, pekerjaan nya luar biasa, lalu apa yang menyebabkan Dokter ini belum bertemu dengan jodohnya?


" Kalau tidak keberatan, saya ingin mengenal kamu lebih jauh lagi. Barangkali saya dan kamu bisa cocok."


" Ah. Dokter bisa saja." Hanya itu jawabanku.


Jujur saat ini perasaanku sangat gembira, tapi aku tidak mau berharap lebih jauh. Mas Dani yang benar-benar ku kenal saja bisa menipu, apalagi Dokter Alfan.


" Sama-sama." Jawab Dokter Alfan.


***


Huft. Lega rasanya. Akhirnya bisa kembali kerumah.


Papi sedang istirahat di kamar. Agar lebih nyaman, aku memakaikan pampres pada papi. Awalnya papu menolak, namun papi tahu aku tidak punya tenagan untuk menggendong papu kekamar mandi.


Aku juga sudah tidak jijik membersihkan kotoran papi, rasa malu ku pun sudah hilang. Hanya papi yang terkadang risih, namun stroke ringan yang di derita papi, membuat papi hanya bisa pasrah.


Setelah selesai membereskan rumah, aku berniat istirahat. Namun aku di kejutkan oleh beberapa sahabatku yang datang kerumah.


Aku menyuguhkan makanan dan minuman ala kadarnya.


" Gak perlu repot-repot, Dit. Tapi kalau ada keluarin aja semua." Ucap Tristan.


Tristan adalah manager di tempat aku bekerja. Aku tidak menyangka jika Tristan bisa bersikap ramah padaku. Biasanya ia dingin bak salju.


" Bapak bisa saja." Sahutku sopan. Bagaimana pun Tristan adalah bos.


" Sopan banget sih lu, Dit." Sahut Serli cekikikan.


" Jadi harus panggil apa?"


" Mas mungkin lebih bersahabat." Tiba-tiba Tristan nyeletuk.

__ADS_1


Racherl, Meli dan Serli kompak cekikikan.


Dasar teman eror. Batinku sebel.


" Jadi kamu serius mau berhenti bekerja?" Tanya Tristan.


" Iya,pak. Papi gak ada yang merawat." Sahutku beralasan.


" Kan bisa pakai jasa perawat? Tanya meli.


" Kurang percaya saja, lagian aku pengin berbakti sama papi disaat seperti ini."


" Baik banget sih kamu, semoga papi kamu bisa sehat seperti dulu lagi ya.. biar kamu bisa kerja lagi bareng-bareng sama kita." Ucap Rachel sedih.


" Tan, elu bakal terima Dita kan kalau kerja lagi di perusahaan?" Tanya Serli penasaran.


" Pastilah. Dita itu orang yang bisa diandalkan di perusahaan. Jadi... Aku akan welcome banget kalau kamu kembali lagi bekerja di perusahaan."


Kata-kata pak Tristan bagai air mengalir di tanah gersang. Aku terharu, mataku mulai berkaca-kaca. Ternyata orang lain aja bisa sebaik itu denganku.


" Jangan sedih dong..." Sahut Meli.


Kami berpelukan berempat. Baru kali ini aku punya sahabat yang benar-benar sejati.


Tanpa terasa mereka pun berpamitan pulang. Kini aku kembali kesepian.


***


Malam kembali datang, tiba-tiba saja papi menangis. Beliau tidak mau makan. Papi benar-benar ngambek.


" Papi kenapa? Jangan buat Dita panik, pi." Aku jadi ikut-ikutan menangis lihat papi.


" Ai...." Ucap papi sesenggukan.


" Papi mau mami? Oke Dita akan cari mami malam ini. Tapi papi harus makan dan minum obat." Ucapku membujuk.


Mendengar janjiku, papi mulai membuka mulutnya. Aku menyuapi papi makan hingga habis dan memberinya obat.


Papi menatapku, seperti menagih janji padaku.


" Papi istirahat ya, Dita keluar sebentar cari mami. Malam ini Dita akan bawa mami kerumah ini."


Papi mengangguk bahagia.


Setelah papi tidur, aku mengeluarkan motor maticku. Tak lupa memakai jaket dan helm aku mulai menyusuri alun-alun taman kota ini.


" Ya Allah...pertemukan aku dengan mami." Doa ku dalam hati.


Namun setelah dua jam berkeliling, aku tidak juga melihat batang hidung mami. Aku sudah merasa lelah. Mataku pun mulai berat. Jika bukan karena papi, ingin rasanya aku pulang dan tidur. Namun.. aku tidak sanggup menghadapi kerewelan papi besok pagi.


Untuk mengusir rasa ngantuk, aku memesan satu gelas kopi pahit. Kulirik jam yang ada di pergelangan tanganku.


Sudah pukul sepuluh, pikiranku makin kalut. Dimana aku bisa menemukan mami?


Aku hampir putus asa, saat mataku melihat sosok itu.


Mami...

__ADS_1


Tinggalin jejak yuk di kolom komentar.


__ADS_2