
Aku terpesona dengan kecantikan mami.
" Dit..." Suara mami membuyarkan lamunanku.
" Ehm.. masuk mi." Aku mempersilahkan mami masuk.
Lelaki penghianat itu ikut masuk meski aku tak menyuruhnya.
" Dimana papi?" Tanya mama.
" Ada dikamar, ma." Aku mengajak mami ke kamar papi.
Aku membuka pintu, tampak papi sedang terbaring lemah di ranjang.
" Mas.." ucap mami sedih.
Mami menutup mulutnya, tak percaya dengan kondisi papi.
" Kenapa papi bisa begini?"
Aku menatap mami tanpa senyum. Ingin rasanya aku memaki mami hari ini juga.
Tapi aku tidak bisa melakukan ini sekarang demi papi. Ya. Semua yang kulakukan hanya demi papi. Bagiku kebahagian papi adalah segalanya.
Aku mendekati papi, "pi bangun! Mami sudah datang. Aku berhasil membawa mami kerumah kita pi." Ucapku dengan suara parau. Jujur datangnya mami dan mas Dani kerumah ini membuat luka lama ku terkuak lagi.
Papi membuka matanya perlahan-lahan.
" Ai..." Panggil papi lemah.
" Mi, sini." Aku memanggil mami agar lebih dekat.
Mami berjalan mendekati papi. Entah apa yang membuat mami menangis.
" Mas.." ucap mami tersedu-sedu.
" Amu emana ja.." ucap papi dengan bahasa yang terkadang hanya aku yang mengerti.
" Kamu kemana saja." Aku menerjemahkan bahasa papi.
" Maafkan aku mas..maaf.. maafkan aku..."
Mami seperti tak sanggup berkata-kata, sepanjang ini hanya kata maaf yang keluar dari mulut mami. Apa mami menyesal sekarang?
Aku tak kuasa berada diantara mereka berdua. Aku memilih keluar dari kamar itu.
Hanya mas Dani yang memergoki aku menangis.
" Dit, maafkan aku.." tiba-tiba saja mas Dani sudah berada di sampingku.
__ADS_1
Aku semakin sesenggukan mendengar kata maaf dari mas Dani.
" Aku janji Dit, demi papi kamu aku bakal ngebiarin mami buat ngurusi papi. Tapi tolong Dit, jangan paksa aku buat berpisah sama mami kamu. Aku cinta sama mami kamu, Dit."
Begitu terkejutnya aku mendengar penuturun lelaki penghianat yang ada didepanku.
" Dit, aku mencintai wanita yang usianya jauh lebih tua sejak dulu."
Plak! Aku menampar lelaki penghianat yang ada di sampingku.
" Tutup mulutmu! Jika kamu mencintai wanita paruh baya, bukan berarti kamu bisa mencintai mami ku. Sekarang kamu lihat, papi ku sakit, lihat sekarang!" Bentak ku pada mantan suamiku.
" Aku tahu Dit," Mas Dani menarik rambutnya. Sepertinya ia frustasi dengan keadaan rumit ini.
Aku dan mas Dani menangis berbarengan, hingga tidak sadar jika mami sudah ada diantara kami berdua.
" Ka-kalian kenapa?"
Cepat-cepat aku menghapus wajahku yang basah.
" Kamu nangis?" Tanya mami penuh selidik.
Mami memandang kami secara bergantian.
Mami merunduk, memelukku erat.
" Maafkan kesalahan mami dan mas Dani, ya. Karena ego kami, kamu dan papi harus menanggung semua akibatnya. Mami dan mas Dani saling mencintai, dan kini mami sedang mengandung buah cinta kami. Mami harap kamu bisa ikhlas menerima takdir ini, Dit. Mami janji akan bantu kamu mengurus papi. Mami janji Dit. Papi sudah makan dan sudah minum obat, mudah-mudahan papi cepat sembuh. Mami harus pulang sekarang, mami dan papi sudah tidak ada ikatan pernikahan, yang bisa mami lakukan adalah berkunjung kerumah ini jika di perlukan."
Aku memandang kepergian mereka dengan hati lara.
Seharusnya sejak awal aku paham, mami dan papi tidak bisa bersatu kembali meski papi menangis darah sekalipun.
Dan hari ini aku bertekad tidak akan meminta mami untuk berkunjung kerumah ini.
***
Hari berganti hari, dengan sabar aku mengurusi papi. Tidak terhitung dalam sehari, entah berapa kali papi marah, ngambek tidak jelas. Juga sudah tidak terhitung, berapa banyak piring dan gelas pecah karena emosi papi yang tidak stabil.
Kerap kali kepala ku menjadi sasaran kemarahan papi. Pernah suatu hari, saat aku menolak permintaan papi untuk bertemu mami, papi melemparkan gelas kearahku. Terlambat menghindar, hingga kepalaku terluka kena hantaman gelas.
Ingin rasanya aku berkata lelah pada papi, tapi sebagai anak satu-satunya, aku harus merawat papi.
Hari ini kesehatan papi mulai membaik, papi sudah bisa berjalan, papi sudah bisa bicara dengan jelas. Dokter Alfan adalah dokter terbaik yang ku kenal. Aku sering bertanya pada Dokter Alfan mengenai sakit papi. Dan Alhamdulillah, Dokter Alfan selalu memberikan nasihat-nasihat yang membuat aku menjadi kuat.
Setelah pulang kontrol dari rumah sakit, papi beristirahat di kamar. Sementara aku masih harus beberes rumah. Sudah setahun papi sakit, tabungan kami juga mulai menipis. Biaya perobatan papi bukanlah murah, di tambah dengan kebutuhan hidup kami berdua. Ingin rasanya aku kembali bekerja,btapi aku belum tega untuk meninggalkan papi sendiri dirumah. Mungkin nanti setelah kesehatan papi lebihbaik lagi.
Tok..tok..tok..
Ada suara ketokan di pintu.
__ADS_1
Siapa yang bertamu? Aku mengintip dari balik horden.
Ya Allah...betapa terkejutnya aku, ada Dokter Alfan didepan rumah.
Ada apa gerangan? Jantungku berdebar tak menentu.
" Assalamu'alaikum.. Dita.." Dokter Alfan memanggil namaku dari luar.
Dengan langkah berat aku pun membuka pintu rumah.
" Hai, Dit." Sapa Dokter Alfan.
" Hai Dok. Silahkan masuk."
Aku dan Dokter Alfan pun duduk di ruang tamu.
" Em.. maaf Dok, kalau boleh tahu ada perlu apa ya, Dok?"
" Saya .. ingin mengenal kamu lebih dekat saja. Papi kamu kan sudah selesai kontrol, bisa jadi saya tidak akan bertemu dengan kamu lagi." Ucap dokter Alfan.
" Dokter bisa saja." Jawab ku malu-malu.
" Dit, saya mencintai kamu. Maukah kamu menjadi pacar saya?"
" Maksud Dokter apa?" Aku pura-pura bodoh.
" Tidak perlu pura-pura bodohlah, Dit. Aku dan kamu sudah sama-sama dewasa. Kamu pahamlah maksud saya." Ucap Dokter Alfan tanpa basa basi.
Aku termenung bingung. Apa yang harus aku jawab? Apakah secepat itu dokter Alfan mempunyai rasa padaku?
" Bagaimana Dit?" Dokter Alfan mulai tak sabar menunggu jawabanku.
" Kita jalani saja apa adanya Dok. Banyak hal yang tidak Dokter ketahui tentang kehidupan ku juga perihal statusku."
" Maksudmu?"
" Aku seorang janda Dok. Banyak orang tidak bisa menerima itu. Dan aku yakin, keluarga Dokter juga akan berfikir dua kali untuk menjadikan aku sebagai menantu."
" Ja-jadi kamu janda?" Tanya Dokter Alfan seperti tidak percaya.
" Ya, apa yang aku ucapkan benar adanya."
" O..oke, anggap ucapan saya tadi tidak benar. Maaf, saya harus pulang sekarang karena ada..."
" Silahkan keluar, Dok. Pintu rumah saya masih terbuka." Ucapku dingin.
Tanpa basa basi Dokter Alfan yang tampan keluar dari rumahku. Tanpa menunggu ia berlalu, aku segera menutup pintu rumah ini rapat-rapat.
Huh. Begitu keras hidupku. Apakah status janda itu hina? Bahkan aku menyandang status janda juga bukan keinginanku. Mana ada perempuan yang ingin menjadi janda. Takdirlah yang membuat perempuan menjadi janda.
__ADS_1
Bersyukurnya aku karena belum menjalin cinta dengan Dokter Alfan. Dia memang tampan dan berpendidikan, tapi itu tidak menjamin seseorang untuk mempunyai akhlak.
Allah... Aku lelah sekali...