Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 44


__ADS_3

Setelah berpamitan aku dan Tristan pun langsung menuju bandara.


Sepanjang perjalanan, ia selalu menggenggam tanganku. Sesekali menciumnya.


" Kenapa?" Tanyaku.


" Aku takut..aku takut tidak bisa menggenggam tangan ini lagi.. aku takut.. tidak bisa menjadi sandaranmu lagi. Aku menyesal, Adita.. andai aku lebih dewasa..dan memilih untuk tetap di rumah.. "


Wajah Tristan tampak pias.


" Tan.. aku tidak bisa menjanjikan apa pun padamu. Jika Alexa benar mengandung anakmu, aku mundur menjadi pendamping mu..."


Tristan menjambak rambutnya. Wajahnya tampak kusut.


Setelah menempuh perjalanan lama akhirnya kami tiba di hotel yang kami maksud.


Susah payah kami menjelaskan maksud kedatangan kami pada pemilik hotel.


Dan akhirnya pemilik hotel bersedia memberikan petunjuk pada kami.


Jantungku berdegup kencang. Dalam hati berdoa meminta supaya semua ini tidak terbukti.


Dan benar saja, terlihat lima orang lelaki memapah tubuh Tristan. Ya, pada saat itu Tristan sedang mabuk berat. Dan keadaan itu dimanfaatkan oleh Alexa dan teman-temannya.


Setelah mengamankan Tristan di ranjang, barulah semua temannya masuk ke dalam kamar dan menutupnya.


Ah. Lega rasanya. Kesimpulannya jika teman-teman Alexa masuk kedalam kamar, tidak mungkin Alexa dan Tristan melakukan hubungan suami istri.


Huft! Aku menghela napas lega. Tristan memelukku erat, " sekarang percaya, kan? Aku tidak mungkin menghianati mu."


Kami meminta bukti rekaman cctv, dan bersyukurnya, pemilik hotel mempermudah urusan kami.


Setelah mengucapkan terima kasih, kami bergegas untuk pulang.


Langkah ku terasa ringan berjalan beriringan disamping Tristan.


Awal yang baik untuk memulai hubunganku dengan Tristan seperti dulu lagi.


" Farah.. ibu dan ayah akan pulang sayang..memvawa kabar gembira untuk kamu, oma dan kakek." Batinku berbicara sendiri. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah.


Sebelum sampai dirumah, kami memutuskan untuk mengisi kampung tengah yang mulai berdemo.


Bak dua insan yang sedang pacaran, Tristan begitu manis memperlakukan aku.


Memesan makan dan minum favorit kami.


" Kita perbaiki semua dari awal ya..." Bisik Tristan mesra.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum manis.


***


" Kenapa belok kesini, Tan?" Aku heran melihat Tristan salah arah.


" Kita harus bernostalgia dulu sayang.." Tristan mengedipkan matanya genit.

__ADS_1


" Tapi kasihan Farah. Kita jemput ya..." Aku memasang wajah memelas.


" Farah aman sama mama, sayang."


" Aku rindu sama Farah."


" Aku jauh lebih rindu dengan kamu. Setiap malam aku merenungi kesalahanku di kamar tamu, Dita."


Aku memilih mengalah. Ya, apa yang di bilang Tristan memang benar. Selama hubungan kami memburuk, kami tidak pernah tidur satu ranjang. Aku dan Farah di kamar utama, sedangkan Tristan memilih tidur di kamar tamu.


Sampai di rumah, aku segera membersihkan diri. Rasanya badanku terasa letih, mataku pun terasa berat. Mengantuk, itu yang kurasakan.


" Kamu mengantuk?" Tristan memasang wajah cemberut.


" Iya, Tan."


" Bisakah kita... Em.. " Tristan menggaruk kepalanya.


" Mau apa?" Aku pura-pura tidak tahu.


" Ya sudahlah," Tristan berbaring di sebelahku, menutup separuh tubuhnya. Aku melirik sekilas, ia menutup wajahnya.


Ah..bodoh amat. Urusan kita belum selesai, ferguso...


Entah sejak kapan bel berbunyi berkali-kali. Aku memandang jam di dinding, masih pukul tujuh. Lalu siapa yang bertamu? Aku mengecek ponsel, barangkali mama dan Farah yang datang.


Namun nihil, tidak ada pesan apa pun.


Aku bangkit sejenak, mencuci wajah dan gosok gigi.


Aku mengintip dari balik jendela kaca, " Alexa.."


Secepat kilat aku bangunkan Tristan, " ada apa yang?"


" Bangun Tan! Ada Alexa di depan." Teriakku di telinga Tristan.


Mendengar nama Alexa keluar dari bibirku, Tristan langsung bangun.


" Serius yang?"


" Iya. Temui gih!"


Tanpa basa badi Tristan langsung berjalan keluar. Aku tersenyum kecil, rasain tuh jigong Tristan.


Aku menyusul Tristan ke depan. Serta merta Alexa langsung memeluk Tristan. Ia tidak peduli jika Tristan belum mandi ataupun cuci muka dan gosok gigi.


" Kangen Tan." Rengeknya manja.


" Eh..lepasin!" Aku menarik tangan Alexa dari pingga suamiku.


" Memang kenapa sih?" Alexa tampak tidak suka.


" Ini suami orang."


" Iya kali suami kambing." Alexa mencibir.

__ADS_1


" To the point aja, kamu ada perlu apa datang ke sini?" Tanya Tristan jutek.


" Mau minta pertanggungjawaban kamu, Tan."


" Tanggung jawab apa?" Tristan ogah-ogahan menanggapi Alexa.


" Aku hamil, Tan. Kita harus secepatnya menikah." Rengek Alexa.


" Oh iya? Mana buktinya?" Tanyaku menantang Alexa.


Alexa memberikan ponselnya padaku. Menunjukan foto wallpaper antara dirinya dan Tristan didalam selimut.


Aku masuk kedalam rumah mengambil ponselku. Lalu kembali menemui Alexa, " silahkan di lihat sampai selesai."


Mata Alexa terbelalak menonton dirinya di dalam rekaman cctv itu.


" Gimana? Sekarang masih mau nuntut pertanggungjawaban sama suami saya? Kalau masih iya, silahkan. Saya akan langsung laporkan anda ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik." Ancam ku asal.


" Da-dari mana kamu dapat ini?" Terbata-bata Alexa bertanya pada kami.


" Apa perduli mu? Yang jelas semua tuduhan mu itu palsu. Dan jangan pernah bermain-main denganku jika tidak ingin mendekam didalam jeruji besi." Ucapku bernada ancaman.


" Aku tidak takut, yang jelas Tristan garus menikah denganku. Aku sedang mengandung anaknya." Alexa tetap ngotot ingin menikah dengan Tristan. Sepertinya ia sudah terobsesi pada Tristan.


Derita punya suami tampan dan mapan ya begini.


" Alexa.. aku sudah katakan tidak pernah merasa menyentuhmu. Berhenti menuntutku. Biarkan aku hidup nyaman dengan anak dan istriku. Sampai sini paham kan?" Bentak Tristan. Sepwrtinya kesabaran Tristan kini hanya setipis tisu.


Alexa terdiam, matanya berkaca-kaca.." Tan, semua tidak akan berakhir disini. Aku pastikan kamu akan bersujud di kaki ku dan menikahi aku." Alexa menunjuk wajah Tristan, lalu pergi meninggalkan rumah kami.


Tristan mengusap wajahnya berkali-kali. Ia lelah dengan Alexa.


" Kenapa di bolehkan masuk sih?"


Aku meninggalkan Tristan, menemui pak satpam.


" Pak.. kenapa boleh masuk sih?" Tanyaku pada pak satpam.


" Maaf, bu.. tamunya maksa sekali. Ngakunya sebagai calon istri pak Tristan. Teriak-teriak mulu, buk. Saya malu sama tetangga." Pak satpam memberi penjelasan.


" Pak, lain kali tanya terlebih dahulu pada kami. Apa lagi sepagi ini bertamu."


" Maaf, bu."


Aku memilih masuk kerumah. Tristan tampak galau di sofa.


" Ada apa lagi Tan?"


" Bagaimana jika papa Alexa menarik saham dari kita?"


" Biarkan saja." Jawabku cuek.


" Tapi dia investor terbesar, sayang..." Tristan tampak tidak puas mendengar tanggapanku.


" Lalu kalau papanya investor terbesar kenapa? Kamu galau? Takut bangkrut? Jangan tukar keluarga mu dengan menciptakan kebahagian untuk orang lain, Tan. Aku tidak takut jika suatu saat kamu menjadi miskin. Aku juga tidak takut jika perusahaan kamu bangkrut. Kebahagiaan Farah jauh lebih penting. Mental Farah juga tidak kalah penting, Tan." Aku meninggalkan Tristan, memilih bersiap-siap untuk menjemput Farah.

__ADS_1


Rasa rinduku sudah menggebu pada malaikat kecilku...


__ADS_2