Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 13


__ADS_3

Pukul enam pagi aku sudah mandi. Aku sudah bersiap untuk bertemu klien pagi ini. Sesekali aku membetulkan hijabku. Bagaimana pun ini adalah tender besar yang harus di perjuangkan agar Tristan, bos kami yang paling baik hati itu bisa tersenyum puas Dan tidak segan-segan untuk memberikan bonus pada kami karyawannya ini.


Tok..tok..tok..


Pintu kamar di ketuk. Sudah pasti itu mas Dani.


Dengan berjalan sedikit malas aku membuka pintu.


Taraaa.....


Wajah tampan Tristan muncul di depan pintu. Hidung mancung, kulit putih dengan gigi yang berjajar rapi membuat senyumnya pagi ini mempesona.


" Selamat pagi tuan putri.." sapanya ramah.


" Kamu disini? Ngapain?" Ucapku sok judes.


" Sama bos gak usah jutek." Sahutnya kesal.


Aku tertawa, " ngambek ya?"


" Biasa aja. Sudah siap?" Tanyanya sambil menelisik penampilanku.


" Menurut kamu bagaimana?" Aku balik bertanya meminta pendapatnya.


Tristan mengangkat kedua jari jempolnya." Mempesona." Pujinya.


Karena terlalu asyik berdebat, kami sampai tidak sadar jika ada sepasang netra yang sedang memperhatikan kami.


" Yuk berangkat." Ucap Tristan. Ia menaruh tangannya dipinggang.


Aku melenggang didepan Tristan.


" Dita!" Panggilnya.


Aku menoleh, ada wajah cemberut Tristan disana. " Kita belum muhrim sayang.." sengaja aku sok mesra di depan mas Dani.


Akhirnya kami sudah tiba ruang rapat. Sudah ada beberapa klien yang sudah menunggu kami.


Aku menyalami para klien dengan sopan dan ramah.


Selanjutnya, kami memulai rapat membahas iklan apa yang cocok untuk klien kami.


Tidak butuh waktu lama untuk mengambil hati klien kami. Setelah mendengar dan melihat penjelasan dari ku dibantu mas Dani akhirnya rapat kali ini selesai dan berbuah manis. Para klien setuju dengan ide-ide yang kami berikan. Tristan tersenyum manis kearahku. Ia mengedipkan sebelah matanya. Heran! Ada apa dengannya.

__ADS_1


Selanjutnya kami diajak bersantai untuk menikmati makan siang.


" Kamu sudah lama bekerja di perusahaan Tristan?" Tanya ibu paruh baya yang mengaku bernama Ramita.


" Sebenarnya belum lama bu, cuma saya dulu pernah sempat bekerja di perusahaan pak Tristan, tapi saya harus resign dari pekerjaan karena papi saya mengalami stroke ringan."


" Oh ya? Jadi bagaimana dengan keadaan papimu sekarang?" Tanya beliau lagi.


" Alhamdulillah..sudah mulai membaik." Sahutku tersenyum sopan.


" Mami mu masih ada?" Tanya beliau lagi. Sepertinya ibu Ramita penasaran dengan riwayat hidupku.


Aku bingung harus menjelaskan apa... Haruskah aku mengatakan sejujurnya pada orang yang baru saja ku kenal?


" Kalau kamu keberatan, saya tidak memaksa kamu untuk cerita." Ucap bu Ramita lagi.


Aku hanya mengangguk. Belum saatnya aku bercerita apa pun pada orang yang baru ku kenal, karena ini aib keluarga yang harus ku jaga.


" Oh iya, apa kamu sudah menikah?"


Uhuukk.. aku terbatuk mendengar pertanyaan bu Ramita.


" Hati-hati Dita," Tristan menyodorkan segelas air putih padaku. Di ujung sana aku menatap mas Dani. Ia seperti jengah melihat aku mendapat perhatian dari orang lain.


" Suamimu meninggal?" Tebak bu Ramita.


Sial! Lagi-lagi aku harus melirik mas Dani. Aku ingin tahu reaksi wajahnya. Dan ternyata wajahnya sudah merah padam. Mungkin sedang menahan amarah.


" Suami saya berselingkuh dengan mami saya..."


Akhirnya kalimat itu meluncur dengan bebas dari mulutku.


Mas Dani yang sedang meminum tehnya seketika tersedak. Mungkin ia terkejut mendengar kalimat manis yang keluar dari mulutku.


" Sama mamimu? Wanita sempurna sepertimu masih di selingkuhi? Berarti suamimu itu adalah lelaki yang kurang bersyukur, atau dia memang menyukai wanita tua." Ucap bu Ramita tertawa.


Aib ku ternyata bagai lelucon. Memang kalau di pikir secara logika, jarang ada menantu tertarik pada mertuanya sendiri. Lalu aku? Dunia seolah menertawakan kisahku.


***


Hari beratku sudah selesai. Aku lebih memilih untuk pulang lebih awal. Ternyata meninggalkan papi tiga hari lamanya sangat mengganggu pikiranku.


Sedang apa ya papi sekarang?

__ADS_1


Kutarik koper berisi pakaian kotor. Rumah dalam keadaan terkunci. Untung saja aku selalu membawa kunci duplikat rumah.


" Pi..." Panggilku beberapa kali. Namun tidak ada sahutan.


Keadaan rumah terasa pengap. Debu begitu banyak menempel di mana-mana.


Pikiran buruk mulai memenuhi isi kepalaku.


Aku berlari kedapur, ada suara air keran kamar mandi yang menyala. Itu artinya papi ada di kamar mandi.


" Pi..." Teriakku. Tak ada sahutan aku kembali memukul pintu kamar mandi berharap papi ada didalam. Tapi setelah lima menit hanya terdengar suara keran air yang berbunyi. Tidak ingin hal buruk terjadi pada papi, aku segera meminta tolong pada tetangga yang ada di sekitar rumah.


Mereka mendobrak pintu kamar mandi.


Naas... Ada papi yang hanya memakai celana pendek sedang terduduk di pinggir bak kamar mandi. Tubuh itu sudah kaku menandakan raganya tak ada lagi.


Tubuh papi di angkat ke atas kasur, aku berharap papi masih bisa membuka matanya. Berharap masih ada senyum tulus papi yang terpancar di wajahnya.


Dokter sudah datang untuk memeriksa papi.


" Bagaimana keadaan papi, dok?"


Pertanyaan bodoh yang tetap harus ku tanyakan. Meski aku sendiri tahu jawabannya.


" Beliau sudah meninggal dunia."


Papi..........


Duniaku runtuh bersama kepergian papi ke alam peristirahatan yang abadi. Proses pemakaman papi akan segera di laksanakan. Air mata duka masih menetes kala pelayat mulai berpamitan pulang. Bahkan hujan turut hadir mengantar kepergian papi.


***


Acara tahlilan di rumah sudah selesai. Tapi air mata duka ini belum kering. Bahkan aku masih suka menangis kala mengenang kepergian papi. Ada rasa penyesalan karena terlalu tega meninggalkan papi sendirian di rumah. Ya.. aku tidak sebaik yang ku kira. Aku tidak bisa membayangkan saat papi meregang nyawa sendirian, tanpa ada bimbingan untuk mengucapkan lafaz Allah di detik-detik akhir hidupnya.


Setelah kepergian papi, aku memilih cuti dari pekerjaan selama satu minggu. Untung saja Tristan mengerti dengan kondisi pikiranku sekarang yang hanya butuh ketenangan.


Aku menangis lagi kala memberesi pakaian papi yang ada di lemari. Sejak mami memilih menikah dengam mas Dani, dan papi memilih resign dari pekerjaannya, aku tidak pernah melihat penampilan papi senecis dulu. Pakaian bermerek milik papi hanya tergantung rapi tanpa pernah di sentuh. Sepatu mahal milik papi pun hanya menjadi pajangan yang tidak berguna. Sejak sendiri papi memilih menjadi orang yang sederhana. Yang penting papi nyaman dengan pakaiannya saja.


Rencananya pakaian dan sepatu milik papi akan aku berikan kepada para tetangga yang membutuhkan. Mudah-mudahan bisa menjadi penolong papi kelak. Amin...


Saat sedang asyik memilah barang milik papi, pintu rumah ku seperti di ketuk seseorang.


Siapa yang datang?

__ADS_1


__ADS_2