Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 6


__ADS_3

Dua penghianat itu menghentikan aktivitas makannya. Menatap kami.


Aku pura-pura cuek dan tidak mengenal mereka.


" Papi gak papa?" Tanyaku pelan.


" Enggak, tapi kayaknya berdarah deh, Dit."


Papi merunduk untuk melihat kakinya.


" Benarkan Dit, berdarah." Ucap papi.


" Nanti kita obati di rumah ya, pi." Sahutku cepat. Aku segera mengambil motor yang ada disamping mami dan mas Dani.


" Adita..."


Nama ku dipanggil oleh seseorang. Papi berpaling, mencari asal suara tersebut. Dan aku yakin seratus persen, papi belum lupa dengan asal suara itu.


" Adita.." suara itu semakin mendekat kearahku. Entah karena rindu, aku berdiri terpaku, kaki ku seperti berat untuk melangkah.


" Mami.."


Ya. Papi masih mengenali wanita paruh baya dengan perut membuncit.


" Dit, mami." Bisik papi di telingaku. Ada rona bahagia yang terpancar di wajah papi. Itu yang ku lihat.


Mau tidak mau aku berbalik ke arah mami.


" Dit, ini mami.. mami boleh peluk kamu?"


Aku diam, membiarkan mami merengkuh tubuhku. Mami memelukku dengan erat.


" Mami rindu, Dit." Bisik mami lemah.


Mami nangis, aku pun ikut menangis. Ada kesedihan mendalam yang kurasakan.


" Dit, maafin kesalahan mami, ya. Mami khilaf. Mami sayang sama kamu. Sayang banget Dit." Ucap mami lagi.


Aku memegang tubuh mami, mendorongnya pelan.


Ternyata aku belum bisa memaafkan mami. Segitu dalamnya mami menggoreskan luka di hatiku.


" Allah.. berdosa kah aku pada mami?" Jerit hatiku pilu.


" Pi, kita pulang sekarang." Aku melirik jam yang ada di pergelangan tanganku.


Karena papi tidak merespon ucapanku, akhirnya aku menarik tangan papi.


" Naik pi." Ucapku sedikit keras.


Aku hanya melirik wajah mami sekilas. Ada perasaan tidak tega, tapi aku ingin mengajarkan pada mami bahwa ia sudah melakukan kesalahan besar karena sudah meninggalkan papi dan merebut suamiku.


Papi sudah berada diatas sepeda motor. Lelaki penghianat itu mendekat kearah mami. Aneh, dia menatapku tajam. Tak mau kalah aku membalas tatapan tak kalah tajam.

__ADS_1


" Kamu pikir aku perduli pada kalian?" Bisik hatiku.


Aku melajukan motor matic ku dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalan aku dan papi tak berbicara. Pikiran kami masing-masing sedang sibuk berkelana.


" Sudah sampai pi."


" Eh.. oh.. iya." Papi turun dari sepeda motor.


Kami masuk kedalam rumah. Tanpa banyak kata, papi langsung masuk kedalam kamar dan menutup pintunya.


" Allah, kenapa harus engkau pertemukan lagi sih." Keluhku dalam hati.


Ada rasa sesal yang merasuk di relung hati. Andai aku dan papi tidak keluar rumah, mungkin papi tidak akan kembali mengenang masa lalunya yang suram.


Malam semakin larut. Mataku semakin suliit di ajak kompromi. Aku memilih masuk kedalam kamar dan beristirahat.


Tidak butuh waktu lama, mataku pun terpejam dengan lelap.


***


Alarm di kamar menjerit memekakkan telinga. Itu artinya waktu subuh sudah tiba. Aku bangun dan segera berjalan keluar kamar.


Aneh, kenapa sepi? Biasanya kalau jam segini papi pasti sudah bangun, sudah duduk di depan televisi menonton berita.


Aku melihat pintu kamar papi masih tertutup rapat. Apa papi masih tidur?


Perasaanku mulai tidak enak. Takut terjadi hal buruk pada papi.


Tok..tok..tok..


Berkali-kali namun tidak ada sahutan dari papi.


Aku berusaha membuka pintu kamar papi, namun kamar papi di kunci dari dalam.


Hal yang tidak pernah papi lakukan selama tinggal dirumah kontrakan ini.


Aku mulai panik. Tepatnya bingung harus melakukan apa.


" Papi...papi..." Teriakku sambil menggedor-gedor pintu kamar. Aku berusaha mendobrak, namun nihil tenagaku tidak sebanding dengan kekuatan pintu ini.


Sudah hampir lima belas menit aku berusaha sendiri. Namun belum membuahkan hasil. Aku segera berlari keluar meminta pertolongan tetangga.


Beruntungnya aku, karena tetanggaku dengan sigap membawa peralatan untuk mendobrak pintu kamar papi.


Tidak butuh waktu lama, pintu kamar papi berhasil di buka. Papi tertidur dengan kondisi yang mengenaskan. Matanya terbuka, tapi mulutnya miring sebelah. Badannya tidak bisa di gerakkan. Celana papi juga basah, sepertinya papi ngompol di celana. Hanya air mata yang turun dengan deras membasahi wajah papi.


Aku memeluk papi sambil menangis. Hatiku hancur melihat kondisi papi.


" Papi..." Ucapku pelan.


" Dit, sepertinya papi kamu terkena stroke. Ayo bersiaplah sekarang. Kita bawa papi mu ke rumah sakit." Bu rt memberi saran yang baik padaku.


Setelah menyiapkan berbagai keperluan papi, akhirnya kami diantar oleh beberapa warga menuju rumah sakit.

__ADS_1


" Papi, papi dengar suara Dita kan? Papi jangan pernah tinggalin Adita sendiri. Adita tidak punya siapa-siapa lagi, pi."


" Sabar Adita, berdoa sama Allah." Bu rt mengusap bahuku.


Aku menangis kembali. Berat sekali jalan yang harus kulalui ya Allah... Kenapa harus papi yang sakit? Kenapa bukan mami, ya Allah..? Papi orang baik, ya Allah.. sembuhkan papi...


Kami sudah tiba di rumah sakit, papi langsung di tangani oleh dokter dan perawat. Aku hanya bisa pasrah menunggu kabar baik yang akan di sampaikan dokter perihal papi.


" Dit, kamu sabar ya. Ibu tidak bisa menemani kamu disini. Tapi kalau ada kabar terbaru papi kamu, tolong kabari ibu ya.. jangam pernah putus berdoa meminta kesembuhan sama Allah. Ingat ada Gusti Allah." Bu rt menyalami dan memelukku erat. Beliau memberi sebuah amplop coklat.


" Terima ya, buat bantu perobatan papi. Tidak banyak., Tapi insya Allah ibu ikhlas."


" Terima kasih banyak buk. Maaf kalau Dita merepotkan ibu dan beberapa warga."


***


Kini aku benar-benar sendiri, tanpa siapa pun.


" Allah, miris sekali nasibku." Aku mulai mengeluh.


" Hamba tidak sanggup menerima cobaan ini ya Allah."


Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya seorang Dokter datang menemui aku.


Kami berjalan beriringan menuju ruang dimana ayah dirawat.


Ayah masih tergolek lemah diatas ranjang rumah sakit.


" Ayah mu mengalami stroke ringan. Beruntung ayah kamu cepat mendapat pertolongan."


" Apa papi masih bisa sembuh dok?" Tanyaku harap-harap cemas.


" Berdoa saja, lakukan hal yang terbaik untuk ayah kamu."


Aku sedikit bernafas lega mendengar penjelasan dari Dokter Alfan.


" Ini kartu nama saya, kalau kamu butuh sesuatu jangan segan untuk menghubungi saya." Dokter Alfan mengedipkan matanya sebelah disusul senyum manis ia berikan untukku.


" Permisi."


Dokter Alfan berlalu dari hadapanku, namun aku masih menatap kepergiannya.


Apa aku terpesona dengan Dokter Alfan?


" Adita bangun!" Aku mengetok kepalaku berkali-kali.


Sempet-sempetnya kesemsem sama Dokter Alfan di situasi darurat.


" Dasar gak tahu diri." Aku mencemooh diriku sendiri.


***


Sepeninggal Dokter Alfan, aku duduk mendekati papi. Beliau masih tidur, tangannya masih terpasang infus

__ADS_1


Aku menggenggam tangan papi, " Pi, jangan sakit-sakitan. Aku takut kehilangan papi. Maafin aku ya, pi. Karena aku, papi harus kembali jumpa mami." Sesalku mendalam.


Jika papi lumpuh, tentu papi tidak bisa melakukan aktivitasnya sendiri. Jika bukan aku yang merawat, lalu siapa? Demi papi, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Aku ingin fokus merawat kesembuhan papi.


__ADS_2