Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 16


__ADS_3

"Mami..." Aku berusaha bangun dari tidurku. Meski sakit tetap ku paksa.


Mata Tristan mendelik kaget saat aku memanggil wanita paruh baya itu dengan sebutan mami.


" Bangun mami.." pintaku sedih.


Mami bangun dari sujudnya. Anaya terlihat mulai rewel. Ia pasti tidak nyaman dengan situasi ini.


" Dita, tolong nak.. tolong cabut laporan kamu." Ucap mami dengan pilu.


Sebesar apa cintamu dengan mas Dani, mami? Hingga engkau tidak sedikit pun bertanya tentang keadaan anakmu ini. Padahal kondisi ku jauh lebih lemah saat ini.


" Dita akan mencabut laporannya nanti, mi." Ucapku lirih.


Tristan lagi-lagi mendelik kearahku. Ada rasa ketidaksukaan yang terpancar di wajahnya.


" Terima kasih, Dita. Mami percaya kamu anak baik. Jika mas Dani terlalu jahat buat kamu, jangan pandang dia, tapi.. pandanglah Anaya. Bagaimanapun dia adalah adikmu, Dita" ucap mami sambil terisak.


Mami memelukku erat. Tangan yang tertutup baju panjang itu sedikit tersingkap. Ada warna biru di pergelangan tangan mami.


Rasa penasaran membuatku memegang tangan mami dan menggulung baju lengan panjang milik mami.


Betapa terkejutnya aku, bukan hanya lebam, ternyata ada luka menganga di tangan milik mami.


" I-ini ke-kenapa mi..." Sumpah aku begitu terkejut sampai aku merasa gugup untuk bertanya.


" Bu-buukan.. bukan apa-apa. Hanya luka kecil yang sebentar lagi akan sembuh." Ucap mami meringis seperti menahan nyeri.


" Apa mami mengalami KDRT?" Selidikku geram.


Mami hanya menggeleng lemah membuat aku menjadi pitam. Rasa sakit di tubuhku tidak sebanding dengan luka di tubuh mami. Meski mami sudah menyakiti hatiku, aku tetap tidak tega melihat mami terluka seperti ini.


" Jika mami tetap tidak ingin jujur, aku akan berubah pikiran. Aku akan membuat lelaki itu bertahan lebih lama di dalam sel. Aku pastikan itu, mi." Ancamku.


" Jika kamu melakukan itu.. maka kamu akan menemukan nama mami tertulis di batu nisan." Ucap mami getir.


Oh Tuhan! Apa yang terjadi dengan mami? Rasa cintanya padablelaki iblis itu membuat mami kehilangan akal sehat.


" Mami hanya ingin ayah Ayana keluar. Setelah itu mami tidak akan mengganggu hidup kamu lagi, Dita. Mami pastikan itu." Ucap mami sambil mengusap air matanya yang semakin deras meluncur dari pipinya yang keriput dan tirus.


Mami dan Ayana berlalu dari hadapan ku dan Tristan. Dengan langkah terseok-seok, mami keluar dari ruang rawat ini.


Mami yang beberapa hari lalu tampak cantik, mengapa menjadi berubah? Apa yang selama ini di sembunyikan olehnya?


" Dit.. Dita.." panggil Tristan.


Aku tidak semangat untuk menjawab panggilan dari Tristan.


" Siapa ibu itu? Mami mu? Lalu apa hubungannya dengan lelaki itu?"

__ADS_1


Tristan memberondong beberapa pertanyaan yang membuat kepalaku semakin pening.


" Bisa enggak diam aja?" Bentakku.


" Kamu laki-laki atau perempuan sih? Suka banget bentak orang?" Tanya Tristan marah.


" Kalau kamu tidak suka saya disini, oke! Saya akan pulang sekarang."


Tristan memberesi barang-barangnya dan bersiap untuk pergi.


" Tristan.." panggilku lemah. Aku mengusap wajah, ada rasa nyeri yang menjalar.


Tristan tidak peduli dengan panggilanku, ia tetap akan pergi dari sini.


" Maaf, Tristan.. aku tidak bermaksud untuk membentak kamu. Maaf... Aku sedang berada di fase tidak nyaman. Tolong pahami aku.. terima kasih, karena kamu sudah mau peduli padaku. Jika bukan kamu yang datang tadi... Mungkin Dani akan berbuat kurang ajar padaku. Jangan marah..." Ucapku lagi.


Tristan berdiri membelakangi aku, mendengar setiap kata yang keluar dari mulut ku.


" Tristan, aku akan cerita kisah hidupku. Tapi nanti, setelah aku benar-benar sehat dan pulih." Ucapku lagi.


" Janji?" Tanya Tristan sambil menoleh kepadaku.


Aku mengangkat dua jari, dan mencoba memberikan senyuman manis pada lelaki tampan yang berdiri di hadapanku.


Sekarang aku bisa sedikit bernapas lega. Ku baringkan tubuhku yang letih.


Tristan membenarkan selimut di tubuhku.


Ia mengangguk dan cup! Bibirnya mengecup keningku lembut.


Ku tutup mataku, aku tidak mau Tristan memergoki aku menangis lagi.


***


Entah berapa lama aku tertidur, suara berisik orang berbicara membuat aku terbangun.


Netraku menatap dua orang yang pernah ku kenal. Klien yang pernah ku tangani bersama mas Dani.


Tristan dan dua orang klien itu mendekat kearahku.


" Bagaimana dengan keadaanmu sekarang, nak?"


" Ba- baik buk." Aku menyunggingkan senyum manis.


" Tristan yang memberikan kabar pada ibu. Kamu masih ingat ibu?" Tanyanya lagi.


" Em... Ibu klien kami waktu itu, kan?" Tanyaku meragu.


" Coba tebak siapa namanya?" Tristan mulai bermain tebak-tebakan.

__ADS_1


" Dasar anak nakal, teman sakit kok diajak tebak-tebakan." Ucap ibu tersebut sambil mengusap rambut Tristan.


Aku merasa aneh dengan kedekatan mereka. Ibu dan bapak tersebut pasti punya ikatan dengan Tristan. Aku mulai memperhatikan wajah mereka satu persatu.. seperti ada kemiripan.


" Ayo dong... Tebak.." Tristan tampak senang karena berhasil menjahili ku.


" Tidak usah di dengarkan ya, nduk. Tristan memang begitu orangnya. Jahil." Ucap ibu tersebut.


" Ah gak seru kamu." Tristan memasang wajah murung.


" Jangan murung, aku kenal kok. Namanya ibu Ramita kan?"


" Hahahha....yup benar." Tristan kembali ceria.


Dasar.


Tristan dan bapak tersebut mohon pamit, katanya ada keperluan. Kini tinggallah aku dan buk Ramita disini.


" Nduk.. ada yang mau ibu tanya."


" Silahkan buk, kalau saya bisa jawab, Insya Allah saya jawab, tapi kalau tidak.. akan saya jadikan pr." Aku sedikit bercanda agat tidak terjadi ketegangan diantara kami berdua.


" Kami sudah punya pacar? Atau..tunangan?"


Uhukk... Aku terbatuk mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut ibu Ramita.


" Aduh.. minum dulu." Buk Ramita memberikan segelas air putih padaku.


Aku segera meminum air pemberian dari ibu Ramita.


" Kalau keberatan ya ndak usah di jawab." Bu Ramita merasa tidak enak.


" Saya tidak punya pacar atau pun tunangan. Hanya saja status saya bukan gadis lagi. Saya janda buk." Akhirnya meluncur juga kata-kata itu dari mulutku. Aku menunduk. Ada rasa malu dengan status janda yang sudah kusandang beberapa tahun ini.


" Loh, kamu sudah pernah menikah?" Tanya bu Ramita penasaran.


Aku hanya mengangguk tidak berani menatap wajah keibuan yang terpancar dari wajahnya.


" Lalu kemana suamimu?"


" Suami saya selingkuh bu... Dengan..." Aku meragu untuk berkata jujur.


" Dengan...?" Bu Ramita tidak sabar melanjutkan ucapanku.


" Dengan.. ibu kandung saya sendiri." Air mata kembali meluncur dengan bebas. Masa kelam yang sudah ku kubur kembali ku bangkitkan lagi. Sesakit itukah? Hingga setiap masa itu di kulik aku selalu menangis.


" Ya Allah... Yang sabar ya, nduk. Ibu tidak menyangka jika luka masa lalu mu begitu dalam. Maaf.. ibu tidak bermaksud mengulik kisah masa lalu mu." Beliau mengusap rambut dan memelukku erat. Beliau merasa bersalah melihat keadaan ku yang rapuh.


Ya Allah.. sudah lama aku tidak mendapatkan pelukan kasih dari seorang ibu. Aku merasa menemukan ibu baru. Dan aku merasa nyaman berada dalam pelukan ibu Ramita. Ya Allah...terima kasih sudah mengirimkan wanita seperti bu Ramita.

__ADS_1


Sekarang aku pasrah jika suatu saat bu Ramita akan berubah karena tidak suka dengan status yang kusandang.


__ADS_2