
Cud 46
Seperti pembalap yang berada disirkuit, aku seperti lihai mengendarai mobil.
" Tan...bertahanlah...demi Farah."
Aku membelok kala ada rumah sakit terdekat.
Secepat kilat aku turun dan berteriak meminta tolong pada suster, " Sus.. tolong suami saya di mobil..."
Dengan sigap tenaga medis membantuku.
Aku sudah tidak mementingkan penampilanku yang penuh dengan darah. Yang terpenting saat ini nyawa Tristan bisa tertolong.
Setelah di tangani Dokter, aku bisa sedikit bernapas lega. Aku menunggu di depan ruangan Tristan. Tetesan air mata berkejaran untuk turun.
" Tan..setega itu kamu sama aku .."
Kusenderkan badanku pada dinding rumah sakit.
" Apa yang membuat mu putus asa, Tan.." gumamku pelan.
Aku tidak perduli menjadi tontonan pengunjung rumah sakit. Bajuku yang terasa amis, mungkin menjadi salah satu mereka menjauh dari ku.
Aku meraba dompet, mencari ponsel untuk menghubungi mama dan papa tapi...
" Kemana ponselku? Apa tertinggal di mobil?"
Mau tidak mau, aku berjalan menuju parkiran mobil. Namun aku tidak menemukan ponselku.
Aku mencoba mengingat-ingat, ah... Iya.. bukannya tadi berada di pos satpam.
Aku memijit kepalaku yang terasa pusing. Bahkan kini aku mulai mual karena mencium aroma tubuhku sendiri.
Akan ku pastikan dulu keadaan Tristan, baru aku kembali kerumah., Aku teringat pada lengkingan tangisan Farah. Jelas dia menolak untuk di tinggal begitu saja pada satpam di rumah. Semoga.. mereka adalah orang yang tepat untuk mengasuh Farah di keadaan darurat seperti ini.
Aku masih setia menunggu Tristan, hingga seorang Dokter muda keluar dari ruangan tempat dimana Tristan dirawat.
" Ibu adita?" Tanya dokter wanita itu ramah.
" Kita keruangan saya sekarang ya..."
Aku mengangguk, menuruti permintaan dokter Frida.
Kami duduk berhadapan, dokter Frida membuka kaca matanya, dan duduk bersender di kursi empuk berwarna hitam.
Aku tegang menanti setiap kata yang akan keluar dari mulut dokter cantik ini.
__ADS_1
" Pak Tristan depresi." Ucap dokter Frida.
Ya..tebakanku tidak meleset. Tristan memang depresi.
" Ibu Adita tahu permasalahannya?" Tanya Dokter Frida.
" Saya tahu Dok. Dan kejadian itu baru saja, Dok. Suami saya takut jika nanti perusahaan yang dia kelola selama ini bangkrut." Jelasku lagi.
" Dampingi terus, mohon jangan di biarkan sendirian. Beri semangat dan dukungan supaya pak Tristan bisa lebih cepat pulih. Beruntungnya, beliau tidak terlambat dibawa kesini." Tutur Dokter Frida.
Setelah berbincang-bincang dengan Dokter Frida, aku memilih pamit.
Kutemui sejenak Tristan yang masih terlelap dalam tidur. Wajahnya tampak pucat. Ku kecup pelan kening suamiku itu, " jangan nekat, sayang..."
Karena Tristan masih lelap, aku menitipkan dia pada suster, " sus... saya mau titip suami sebentar bisa? Saya mau pulang lihat anak saya. Tadi saya titipkan ke pak satpam." Jelasku mengharapkan belas kasih tenaga medis disini.
" Oh silahkan bu... Nanti kami akan menghubungi ibu bila Pak Tristan sudah siuman." Ucap suster tersebut ramah.
Satu permasalahan sudah selesai. Aku bisa pulang untuk melihat Farah. Ku laju kecepatan mobil dengan stabil. Tidak pernah terbayangkan aku harus berada di posisi seperti ini.
Mobil memasuki area rumah, pak satpam datang menghampiriku sambil menggendong Farah.
Segera aku turun dari mobil. Farah menatap ku dengan sedih. Ku raih malaikat kecilku dengan perasaaan sedih.
" Tan lihat Farah...dia ikut terdampak akibat perbuatan konyolmu." Ucap batin ku perih.
"Bu..ini ponsel ibu tertinggal." Pak satpam mengangsurkan ponsel milikku.
" Pak.. terima kasih sudah membantu kami .. terima kasih sudah baik kepada keluarga kami. Terima kasih sudah menjaga Farah hari ini. Ini buat bapak.. tolong di terima." Aku memberikan uang tiga lembar berwarna merah.
" Maaf bu, tidak perlu. Saya ikhlas..." Pak satpam berusaha menolak, namun aku tetap memaksa mereka buat menerima tips dari ku.
Aku membawa Farah masuk dan segera memandikannya. Tak lupa memberikan makan. Farah pasti lapar.
Setelah menidurkan Farah, aku segera mandi. Badanku terasa lengket dan bau.
***
Huft...sudah malam saja. Aku baru saja memberi kabar pada mama dan papa perihal Tristan. Mama dan papa tidak terkejut, mereka tampak biasa saja. Apa Tristan sudah terlalu sering melakukan ini? Atau...masih banyak hal yang aku tidak ketahui.
Aku menuruti perintah mama untuk tetap di rumah saja. Katanya, mereka saja yang akan menjaga Tristan. Kasihan dengan Farah, kata mama.
Beruntungnya aku mempunya ibu mertua yang sangat mengerti dengan keadaan ku.
Malam ini, mataku tidak bisa terpejam, kembali aku bangun untuk menghidupkan lampu kamar. Namun mataku menangkap sebuah tulisan di kertas.
Surat dari Tristan,
__ADS_1
Untuk istriku tersayang..
Mungkin saat membaca surat ini, aku sudah berada di dunia yang berbeda.
Maaf... Maaf kalau aku menempuh jalan pintas ini. Aku tidak sanggup menjalani hidup bersama denganmu dan Farah. Aku tidak sanggup melihat kalian hidup kesusahan jika nanti perusahaan ku bangkrut. Adita istriku tersayang...carilah penggantiku yang mampu membuat kalian hidup berkecukupan.
Dari suami yang sangat menyayangi mu, Tristan.
Aku bingung harus sedih atau malah tertawa setelah membaca surat yang di tulis oleh Tristan.
Bagaiman bisa ia menyebutkan sayang jika ia memilih jalan pintas seperti ini? Ternyata banyak hal yang tidak ku ketahui perihal suamiku sendiri.
***
Hari ini aku dan Farah bersiap-siap untuk menjenguk Tristan. Tidak lupa aku membawa bekal untuk mama dan papa.
Begitu banyak pesan masuk ke ponsel Tristan, menanyakan kehadirannya. Sebagian ada rapat yang di batalkan. Aku bingung harus membalas apa, jadi kubiarkan saja.
Kami sudah sampai di rumah sakit, mama sedang menyuapi Tristan makan.
Melihat kedatangan kami, Tristan hanya bisa diam.
" Ma, biar aku saja yang menyuapi ayah Farah makan." Ucapku sambil mengambil piring dari tangan mama.
Seolah mengerti, tanpa banyak protes mama dan papa mengajak Farah untuk keluar dari ruangan dengan alasan mencari makan. Mama mengerti jika aku dan Tristan butuh ngobrol. Beruntung sekali aku mempunyai mertua yang tidak suka ikut campur urusan orang lain.
Aku menyuapi Tristan sampai piring ini bersih tanpa sebutir nasi. Hanya ada keheningan diantara kami.
Aku memberikan obat pada suamiku, lalu menyuruhnya berbaring.
" Dita..."
Yah! Akhirnya Tristan bersuara juga.
Aku hanya menatap sekilas. Hatiku masih iengkel menghadapi kenekatan dan kegilaannya.
" Maafkan aku yang konyol." Ucapnya penuh penyesalan.
" Tidak masalah." Jawabku cuek.
Tristan meraih tanganku, " aku..aku takut tidak bisa membahagiakan mu jika..jika perusahaan ku bangkrut." Jelasnya.
" Yang ada dipikiranmu hanya perusahaan perusahaan dan perusahaan. Tidak pernakah Farah ada dalam pikiranmu? Tidak pernahkah engkau memikirkan, jika kau mati nanti, siapa yang akan menyayangi Farah? Ckck... Picik sekali, Tan." Aku mulai mengomeli Tristan.
" Aku takut, Dita.."
" Apa yang kau takutkan, Tan?"
__ADS_1