Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 31


__ADS_3

" Yang, kayaknya aku salah besar deh nerima Devan kerja disini."


" Hah? Salah gimana maksudnya?"


" Kayaknya Devan sengaja deh menarik perhatian kamu."


Aku tertawa terbahak-bahak menghadapi kecemburuan Tristan.


" Ya ampun..gak siap-siap bahas Devan mulu. Eh,ada yang harus kamu tahu. Kalau memang iya Devan ada rasa sama aku, ya itu urusan dia. Bukan urusan aku. Yang paling penting hatiku uda aku persembahkan buat kamu. Aku setia loh orangnya."


" Serius?" Tanya Tristan tidak percaya.


Cup!


Aku mengecup bibir Tristan. Pelan namun memabukkan buat kami berdua.


" Sudah pandai ya?" Tristan menggodaku kala ciuman kami terhenti.


" Gurunya siapa dulu?"


" Siapa?" Tristan pura-pura bodoh.


" Devan." Bisikku.


Seketika Tristan menarikku kedalam pelukannya dan menghujaniku dengan ciu*an panasnya.


***


Tidak terasa pernikahan kami sudah berjalan enam bulan lamanya. Aku mulai mengenal kebiasaan Tristan. Aku mulai mengetahui makanan apa saja yang ia sukai, makan apa yang tidak di sukai, makan apa yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan.


Menyenangkan sekali menjadi istri Tristan.


Aku menyiapkan Seragam kerja Tristan.


" Yang, gimana tugas ke Bandung nanti ya?"


" Memangnya kenapa sih? Dulu sama buaya macam Dani kamu santai. Sekarang sama Devan ragu."


" Devan itu bar-bar banget kalau suka sama kamu."


" Itu hak dia sayang.. yang paling penting aku tidak pernah kirim sinyal apa pun padanya. Coba deh positif thinking." Ucapku sambil mengenakan dasi di leher Tristan.


" Kamu yakin aman?"


" Yakin sayang..."


Setelah sarapan kami langsung berangkat kerja. Masih terlalu pagi, karyawan Tristan belum banyak yang datang hanya beberapa orang saja, hingga kami melewati sebuah ruangan yang tertutup separuh pintunya.


" Terus terang, aku suka banget sama Adita."


Spontan Tristan menghentikan langkah kakinya.


Bukankah itu suara Devan?


" Gila lu.. itu istri bos. Berani lu?"


" Apa pun akan gue jabanin demi istri bos yang aduhai." Mereka berdua tertawa.


Tangan Tristan mengepal hongga detik berikutnya kaki Tristan sudah menendang pintu dengan sangat kuat hingga aku terkejut.


" Bajingan..." Tristan sudah menggapai leher baju milik Devan. Hingga tidak dapat terelakkan, Tristan sudah memukul wajah mulus Devan.


" Tristan...cukup!" Aku dan rekan Devan berusaha melerai mereka.


Tak bisa di hentikan, Devan dan Tristan sama-sama memiliki ego yang tinggi.


Wajah Devan dan Tristan sudah sama-sama lebam. Takut sesuatu terjadi, aku segera keluar meminta pertolongan satpam.


Aku dan dua pak satpam segera melerai.


Satu satpam memegang Tristan dan yang satu lagi memegang Devan. Sungguh, kami sangat kewalahan. Untung saja pata karyawan mulai banyak yang berdatangan. Jadi, pertengkaran bisa dengan sangat mudah di lerai.

__ADS_1


Devan dibawa keluar menjauh dari Tristan. Setelah cukup aman, pak satpam melepas tangan Tristan.


" Tolong, segera pecat bajinga* itu." Pinta Tristan ketus.


Aku segera menarik tangan Tristan, membawa suamiku itu ke ruangannya.


" Kenapa harus emosi, Tan?" Aku mulai mengompres luka Tristan dengan obat seadanya yang ada di ruangan ini.


" Bagaimana aku bisa diam? Dia mau merebut kamu dari aku, Dit."


" Gak usah pakai ngotot. Sudah aku bilang berkali-kali, kalau aku tidak mau, maka tidak akan pernah terjadi." Bentakku sebal.


" Kamu terlalu lugu, Dit. Bisa saja di Bandung dia akan..."


Bug..!


Tristan meninju meja dihadapannya.


" Tristan! Gila kamu ya? Lihat!" Aku menunjuk wajah dan buku-buku tanganya yang terluka.


Tristan diam. Mungkin baru terasa sakit.


" Kamu pulang sekarang ya? Istirahat di rumah mama atau di rumah kita."


" Aku tidak bisa meninggalkan kamu sendiri disini. Bisa saja bajingan itu kembali lagi disini. Bahkan bisa berbuat lebih."


" Oke.. kita pulang sekarang ya.. lupakan Deva.."


" Jangan sebut nama bajinga* itu di depanku." Bentak Tristan.


Aku hanya diam tidak lagi bamyak bicara.


Tristan menggenggam tanganku erat. Dan hari kami sukses menjadi tontonan orang.


***


Masalah Devan sudah selesai. Kami sudah bisa sedikit santai. Hingga suatu pagi, aku merasakan mual yang sangat luar biasa.


Tristan berulang kali memijat tengkukku.


" Mungkin."


" Sebentar ya, aku bil air hangat." Tristan pergi ke dapur. Tidak lama iauncul membawa segelas air hangat.


" Minumlah! Mudah-mudahan bisa sedikit lebih enak."


Aku terduduk di bibir ranjang. Pandangan ku mulai bergoyang-goyang. Aku sampai memijit keningku.


" Kepalanya sakit?" Lagi-lagi Tristan memberikan perhatian. Dia mulai memijit kepalaku.


" Boleh di tarik-tarik gak sih rambutnya?" Ucapku lemah.


" Nanti rontok, yang."


"Pusing." Keluhku.


" Kita ke dokter?"


Aku menggeleng lemah. Aku lebih memilih berbaring di ranjang. Menutup tubuhku dengan selimut. " Tolong matikan AC, Tan!"


" Serius?" Tristan sangat kaget mendengar permintaan ku.


" Aku mual, Tan." Bentakku.


Tidak ingin ribut, Tristan memilih mwmatikan AC. Aku merasa cukup nyaman. Hangat. Itu yang kurasakan pada tubuhku.


Tristan memilih keluar. Katanya ia kepanasan. Masa bodoh! Aku tidak perduli.


Pelan-pelan mataku terasa di tarik. Ya.. tidak seperti biasanya di jam seperti ini aku merasa ngantuk.


***

__ADS_1


" Yang..bangun!"


Badanku terasa di goyang kencang.


Aku membuka mata, ada Tristan dihadapanku dengan wangi parfum yang membuat aku merasa ingin muntah.


Huueeekkk... Hueeekk..


Aku berlari ke kamar mandi.


Tristan masuk, namun aku melarangnya.


" Jangan mendekat. Bauk!" Bentakku.


" Apanya yang bauk? Aku sudah mandi yang?"


" Pergi menjauh..." Ucapku lemas sambil memegangi perutku.


" Kamu kenapa sih? Aku salah apa?" Tristan tampak kesal melihatku.


" Pergi!!!" Bentak ku.


" Oke..aku pergi. Kamu baik-baik dirumah!" Tristan pun pegi menjauh dariku.


Ya Allah..kenapa sih aku?


Aku memilih mandi meski badanku terasa lemas. Tidak lama, yang penting badanku basah oleh air.


Selesai mandi aku memilih menggunakan daster. Saat akan memakai handbody, lagi-lagi aku mual. Ada apa dengan tubuhku?


Apa aku hamil?


Kucoba untuk mengingat tanggal menstruasi bulanan. Tidak salah lagi..aku sudah dua bulan tidak kedatangan tamu bulanan.


Aku menangis sendiri. Mudah-mudahan aku benaran hamil. Karena sudah tidak sabar akhirnya aku memesan sebuah testpack pada apotik langgananku.


Aku yang tadinya lemah kini menjadi kuat. Mudah-mudahan Allah menjawab doaku..


Bel pintu berbunyi, ternyata seorang kurir langgananku datang membawa testpack pesanku.


Setelah membayar, aku langsung melakukan tes...


Alhamdulillah...ternyata testpack ini muncul dua garis.


Bibirku terasa bergetar. Tidak henti-hentinya aku menyebut Asma Allah.


Kuraba perutku yang masih rata.


" Terima kasih ya Allah...engkau percayakan kami.."


Aku teringat Tristan, dengan buru-buru ketelpon Tristan.


(Halo yang...ada apa?)


Aku pura-pura menangis ( tolong pulang sekarang Tan...huuuuuuu)


( Ngomong yang jelas, sayang..)


( Tolong aku tan...) Aku langsung menekan tombol merah.


Hahahah.....aku tertawa sendiri. Tristan pasti panik.


Aku yakin dia pasti pulang.


Setelah menunggu kurang lebih dua puluh menit akhirnya... Suara deru mobil memasuki garasi.


Aku segera mengintip dari balik horden. Tristan berjalan tergesa-gesa masuk kerumah.


Aku berdiri dibalik pintu.


Satuuu... Dua... Tiga...

__ADS_1


__ADS_2