
Aku menarik napas lalu menghembuskan dan ...
Terdengar suara tangisan bayi memenuhi ruangan ini.
Tristan mencium pipiku, " kamu hebat, sayang. Kamu berhasil. Dedek bayi sudah keluar." Ucap Tristan bahagia.
Aku terdiam..masih meresapi sisa-sisa perjuangan tadi.
Jadi ..inikah rasanya melahirkan anak?
Pantas saja surga ada di telapak kaki ibu. Aku merasakan kelelahan yang luar biasa.
Setelah selesai dalam segala hal, aku memasuki ruangan rawat. Sementara dedek bayi ada di ruangan bayi bersama suster.
Kata dokter, karena aku melahirkan normal, jadi besok sudah boleh pulang.
Itulah salah satu hal yang membuat aku ingin normal. Lagian tidak ada pilihan serius yang membuat aku harus operasi. Toh normal atau pun operasi memiliki tantangan yang berbeda? Jadi jangan bilang, ibu yang melahirkan operasi bukanlah ibu yang normal ya.. karena mereka sama-sama berjuang..
***
Kami sudah di rumah. Tristan mengambil cuti selama satu minggu. Dia masih ingin menemaniku, meski ada mama disini.
Selama punya bayi, tugas Tristan adalah mencuci popok dan bajuku.
Seperti pagi ini, " Tan.." panggilku.
" Jangan panggil nama lagi dong, aku sekarang sudah jadi ayah." Ucap Tristan sambil nyengir.
" Yah..." Panggilku.
" Iya bun.." jawab Tristan.
" Hehehhehe..." Aku tertawa malu.
" Lebih sopan dan enak didengar." Ucap Tristan lagi.
" Gak jijik?" Tanyaku
" Enggak." Jawabnya singkat tanpa melihatku.
" Meski ada pup nya dedek?"
" Dia darah dagingku, bun." Jelas Tristan.
" Ooo..." Aku manggut-manggut, lalu meninggalkannya.
Ayah siaga, batinku.
Melihat Tristan menimang bayi, aku terkadang tersenyum sendiri. Begitu bahagianya dia, mama dan papa pun tampak bahagia. Diusia mereka yang tidak muda lagi, akhirnya ada anak kecil di tengah-tengah keluarga kecil ini.
Mama meminta di panggil oma, sedangkan papa meminta di panggil kakek. Jika papi masih ada, kira-kira mau dipanggil apa ya sama cucu perempuannya?
__ADS_1
" Ah. Papi, Adita rindu." Aku mengusap pipiku yang basah.
***
Farah Karima, nama bayi perempuan kami. Sebagai orang tua kami berharap anak kami ini selalu bahagia dan selalu memiliki hati yang mulia.
Kebahagiaan kami bertambah dengan kehadiran putri kecil dirumah kami.
" Sayang..ayah berangkat kerja dulu ya..."
Aku tersenyum lucu saat mendengar Tristan mengobrol dengan Farah.
" Nanti kamu jangan nakal di rumah, jangan buat ibu capek ya.. kqmu mau titip apa nanti sama ayah? Boneka? Buah atau..."
" Rendang aja, yah." Celetukku hingga mengundang tawa dari Tristan.
" Ibu ikut-ikutan aja ya, dek." Tristan melirikku.
" Ayah gak nawarin ibu?" Aku melotot pada Tristan.
" Dek, ibu marah, kita tawari saja,ya. Ibu mau apa?" Tanya Tristan dengan bahasa lucu.
" Ibu mau ayah cepat pulang." Pintaku.
" Ayah pasti cepat pulang. Janji." Ucap Tristan.
Setelah puas bermain dengan Farah, Tristan lalu sarapan dan segera berangkat bekerja. Kini hanya aku berdua dengan Farah dirumah.
Aku memandikan Farah, kemudian memakaikan pakaian lucu tidak lupa bandonya. Ah ternyata menyenangkan sekali mempunyai anak.
Aku memilih bersantai di kamar. Farah sudah menyusu dan tertidur pulas. Iseng-iseng aku mencoba menelpon nomor mami, aku rindu sama mami. Aku...ingin curhat seperti dulu lagi xengan mami. Namun...suara operator yang muncul.
" Mami... Mami dimana sekarang? Kenapa kita harus saling membenci mi..." Aku nelangsa memikirkan nasibku dan mami.
***
Farah sudah berusia tiga bulan, Tristan ada acara di kantor. Karena ini acara keluarga, jadi Tristan mengajak kami untuk ikut serta.
Farah sudah cantik, begitu pun denganku.
" Sudah siap?" Tanya Tristan.
" Sudah." Kami pun memutuskan untuk berangkat.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai.
Ternyata sudah seramai itu orang yang hadir.
" Yang, aku gak bisa nemenin kamu. Kalau butuh sesuatu minta saja sama dia." Tristan menunjuk seorang wanita cantik yang sedang melambai tangan kearah kami dengan senyum menawan.
Aku mengangguk mengerti, aku juga bukan wanita yang terlalu kolot. Jadi tidak merasa takut untuk di tinggal oleh Tristan.
__ADS_1
Wanita cantik itu memberikan tempat duduk padaku.
" Istrinya pak bos ya buk?" Tanyanya ramah dan sopan.
" Iya." Jawabku ramah.
" Saya Susi,buk. Sekretaris pak bos." Ia memperkenalkan diri padaku.
Aku menelisik penampilan Susi dari atas ke bawah. " Kenapa Tristan tidak pernah berbicara tentang Susi? Apa ia takut aku cemburu?" Pikirku dalam hati.
Duh..kenapa pikiran kotor lagi sih yang datang... Bisa cepat tua aku.
Karena Farah tidur dalam gendongan ku, aku bisa sedikit santai menikmati setiap acara yang di tampilkan.
Hingga... Aku menatap seorang perempuan yang selalu menempel pada Tristan. Bahkan sepanjang acara berlangsung tidak sedikitpun perempuan itu menjauh dari Tristan.
" Sus..kamu tahu perempuan yang duduk di dekat suami saya?"
" Oh...itu Nona Alexa." Jawab susi singkat.
Aku terdiam sejenak. Jadi namanya Alexa. Nama yang tidak pernah ia sebutkan sekalipun di rumah. Tapi..mengapa begitu lengket dengan Tristan. Insting wanita ku mulai mengendus sesuatu yang tidak beres mengenai perempuan satu ini.
Dewi sudah berhasil ku bereskan, sekarang datang lagi Alexa. Kenapa sih terlalu banyak wanita yang dekat dengan Tristan? Apa karena Tristan tampan dan mapan?
Sepanjang acara berlangsung aku jadi bertanya-tanya. Acara apa ini sesungguhnya? Bahkan Tristan sama sekali tidak menemuiku saat makan siang. Hanya Susi yang membantuku dalam segala hal. Termasuk menjaga Farah saat aku makan. Jika ada teman-teman ku dulu disini, mungkin aku bisa menggali banyak informasi dari mereka. Sedangkan sama Susi aku baru kenal, jika aku banyak bertanya, tentu ia akan menilai aku adalah wanita pencemburu.
Sudah banyak perempuan-perempuan yang diajak oleh suaminya memilih pulang terlebih dahulu dengan alasan banyak anak-anak yang rewel akibat kepanasan.
Tristan- Tristan.. kenapa sih gak bisa handle dengan baik. Bikin malu saja.
Sore sudah tiba, Tristan dan perempuan itu menghampiri ku. Aku yang sudah kelelahan, tidak bisa menampilkan wajah ramah pada mereka berdua.
Farah juga mulai rewel, mungkin sydah tidak nyaman.
" Sayang..kenalkan ini Alexa." Tristan memperkenalkan perempuan iti padaku.
Kami berjabatan tangan. Tangan yang sangat mulus. Itu yang kurasakan. Tangan itu pasti tidak pwrnah terkontaminasi detergen dan kotoran bayi seperti tanganku.
" Alexa." Ucapnya tersenyum penuh misteri.
" Adita, istri Tristan." Ucapku penuh penekanan. Kuharap dia tahu maksud dariku yang menyebutkan nama Tristan diakhir perkenalkan kami.
" Oh iya, apakah sudah siap acaranya? Farah sudah rewel dari tadi. Ku harap kita bisa pulang sekarang." Ajak ku pada Tristan tanpa basa basi.
" Eh i-iya kita sudah bisa pulang sekarang. Aku membereskan tas berisi perlengkapan Farah. Sementara Tristan tidak henti-hentinya diajak ngobrol oleh Alexa.
" Apa telinga mereka tuli, tidak bisa mendengar anak dalam gendongan ku menangis?" Aku mulai pitam menyaksikan ketidakpekaan Tristan pada Farah.
" Sudah siap ngobrolnya?" Aku bertanya dengan nada dingin.
" Alexa, aku pulang duluan. Sampai bertemu besok." Suamiku berpamitan pada Tristan.
__ADS_1
" Oke, hati-hati Tan."
Cup..cup... Dengan santainya Alexa mengecup kedua pipi suamiku di depan mataku.