CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
CINTA SEGITIGA (1)


__ADS_3

Arvina berhati-hati mengawasi pria yang sangat mirip Bambang itu. Mendadak, pria itu mendongak ke jendela dimana Arvina berdiri. Pria itu membuka kacamata hitamnya.


"Ya, dia benar mas Bambang. Mengapa dia melakukan itu?"


Dendam amarah menguasai Arvina. Dia ingin menelepon Bambang untuk memaki-makinya, namun Arvina mengurungkan niat akhirnya. Arvina dan Bambang terus saling menatap. Bambang mencoba tersenyum melambaikan tangan kepada Arvina, tetapi Arvina tidak bereaksi membalas perbuatan sang jenderal. Bambang mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Ponsel Arvina berbunyi. Arvina terkaget. Dia melihat siapa yang menelepon. Nama Bambang lagi. Arvina menggeleng-gelengkan kepalanya di depan mata Bambang. Arvina membuka pengait tirai jendela. Tirai menutupi jendela besar di ruang kerja Arvina. Bambang terenyak tidak percaya.


"Arvina! Mengapa dia menutup jendela? Dia tidak memedulikan kehadiranku! Dia menantangku!"


Bambang gelisah menahan emosi. Arvina menghubungi Gabriella.


"Gabby, I would like to have my lunch here! I prefer nasi padang now!"


"You will get it, Bu. Is it the usual menu, Bu?"


"Yes, it is."


"Would you like to order another food, Bu?"

__ADS_1


"No, I would not. it is enough for me!"


Gabriella memastikan pesanan bosnya. Begitu bosnya memutus sambungan telepon ekstensi, Gabriella segera menghubungi rumah makan masakan padang langganan Arvina. Bambang kembali menelepon. Arvina bersikeras tidak menanggapi. Bambang luar biasa geram kali ini. Wajahnya memancarkan kemurkaan hebat. Dia tidak berhenti menelepon Arvina. Bambang tidak mau menerima penolakan Arvina dengan alasan apapun. Bambang tersulut amarahnya. Dia tidak menyangka jika Arvina tega tidak mengacuhkan dirinya. Namun, tindakan Arvina melepaskan pengait tirai jendela ruangannya merupakan penghinaan terbesar menurut Bambang. Kedua telapak tangan Bambang terkepal. Dia berjalan memasuki lobi gedung kantor Arvina dengan langkah-langkah lebar. Hampir setengah perjalanan lagi mencapai lobi, Bambang berhenti. Dia tersadar jika dia baru saja akan melakukan tindakan yang memalukan. Keangkuhannya hampir berhasil menggerakkan cara berpikir yang pendek menguasai dirinya. Bambang menarik napas panjang kemudian berbalik menuju ke mobilnya. Arvina mengamati tingkah Bambang dari balik tirai sampai dia meninggalkan gedung kantor Arvina.


"Mas Bambang seperti hilang akal sehat! Mengapa dia tidak dapat menguasai dirinya? Mencoba melupakan kejadian itu! Apa tujuan dia sebenarnya, sih? Apa yang sesungguhnya ingin dia yakinkan kepada Aku? Apa dia mengejar-ngejar Aku hanya untuk pemuasan egonya? Bagaimana kepribadian mas Bambang sesungguhnya? Aku benci dia!"


Arvina tidak habis pikir menghadapi tingkah pria itu. Bambang terlalu nekat mendatangi kantornya menurut Arvina. Bambang seperti kehilangan akal sehat! Bambang menyetir mobil dalam keadaan murka. Tetapi, lama-kelamaan emosinya mereda. Sewaktu berhenti di lampu merah, Bambang memilih untuk menghubungi Arvida. Bambang mengajak Arvida berjumpa saat itu juga. Bambang berkilah kalau dia sedang mengambil cuti sehari jadi tidak ke kantor hari itu karena tadinya dia berencana mengurus pendaftaran SIMAK UI. Arvida mengetahui bahwa Bambang sudah lama berniat mengambil program kuliah doktoral di UI, tetapi selalu tertunda. Bambang berbohong kepada Arvida jika Natalia, rupanya, berjanji membantu pendaftaran online dan salah satu ajudan Bambang yang akan menyetor biaya pendaftaran ke BNI terdekat jadi Bambang tidak perlu repot melakukan pendaftaran sendiri. Arvida meminta maaf sebab tidak dapat menemui Bambang siang itu. Bambang memukul kemudinya. Kegusarannya kembali muncul. Perasaan rendah diri sedikit menguasainya. Dia bertanya-tanya mengapa dirinya kalah telak dalam percintaan, keadaan yang tidak pernah dihadapinya. Selama ini, para wanitalah yang mengejar-ngejar dirinya. Bahkan di masa awal perkenalan dengan Arvida, walaupun Bambang yang menelepon Arvida pertama kali, namun selanjutnya Arvidalah yang lebih aktif menelepon dirinya.


"Apakah Aku sudah kehilangan daya tarikku sebagai seorang pria? Arvina sepertinya tidak menginginkanku! Haruskah Aku menghentikan niatku mengejar Arvina, satu-satunya wanita yang kucintai dan melamar Arvida?"


Lampu hijau sudah menyala. Mobil Bambang kembali bergerak. Dia akhirnya memutuskan menuju kantor Natalia. Dalam kegalauannya, dia tiba-tiba merindukan putrinya, Natalia. Bambang ingin melewatkan waktu hanya bersama putrinya, Natalia. Dia ingin membicarakan banyak hal tentang Natalia, dirinya maupun berbagai gosip terkini yang beredar. Natalia selalu tahu fakta tersembunyi setiap gosip.


Bambang telah berada di seberang kantor Natalia. Dia menelepon Natalia sampai lima kali. Natalia tidak menjawab satu pun telepon papanya.


"Astaga! Apa yang terjadi dengan semua wanita ini? Mengapa mereka menunjukkan keangkuhan terhadapku? Seberapa sibuk Lia sampai tidak sempat menjawab teleponku?"


Suara alat musik Kolintang yang menjadi nada panggil ponsel Bambang terdengar. Bambang melihat ke layar ponselnya. Peter menelepon.

__ADS_1


"Ada apa, Peter?"


"Om, Kitorang so lupa! Hari Minggu ini ada arisan keluarga besar Lumintang. Harusnya giliran diadakan di Om pe rumah!"


"Aduh, Aku juga baru ingat, Peter! Kamu kasih tahu om Ellon. Bilang minta maaf karena kita mendadak ke Bandung jadi tidak bisa ada acara di rumah! Tapi, konsumsi Aku yang bayar full! Nanti, semua yang hadir tidak perlu bawa makanan. Kamu pesan katering masakan Manado, Pit! Kamu yang atur tiap menunya, ya, Pit!"


"Iyo, Om!"


KAMUS



BNI


Bank Negara Indonesia; salah satu BUMN (Badan Usaha Milik Negara)


SIMAK UI

__ADS_1


Seleksi Masuk Universitas Indonesia. Sistem penerimaan yang dilakukan UI mulai dari program diploma sampai dengan doktoral.



__ADS_2