
"Jangan, Mad! Aku tidak mau dirawat. Aku masih banyak pekerjaan di kantor. Nanti, terbengkalai semua, Mad."
Achmad tidak memedulikan Natalia. Dia tetap berpakaian.
"Kamu mau pakai baju yang mana, Lia? Biar Aku ambil!"
Aku nggak mau!"
Kalau tidak mau, Aku pasti adukan ke bapak tentang hubungan kita!"
"Tapi, Safira--"
Aku sudah pernah bilang kalau Aku cinta wanita lain. Ingat?"
Natalia kalah telak. Dia teringat kalau Achmad pernah mengatakannya. Natalia segera berdiri.
"Mau kabur kemana, Lia?"
"Aku mau ke kamar mandi. Mandi dulu!
"Tidak usah mandi, Lia! Tadi sudah mandi, kan?"
"Ih, Aku nggak bakal betah, Mad! Lengket! Aku risih! Nanti Aku bakal diperiksa dokter."
Achmad tertawa. Dia menggendong Natalia ke kamar mandi lalu mendudukkannya di bathtub. Achmad mencepol rambut Natalia dengan jepitan rambut. Dia mengambil perlengkapan mandi kemudian menghidupkan air.
"Mau apa, Mad?"
__ADS_1
"Aku harus awasi supaya tidak bablas mandi lama!"
"Aku bisa mandi cepat! Aku janji! Keluar, Mad!"
"Sepuluh menit, Lia! Pintu dibuka! Kamu mau pakai
baju yang mana, Lia?"
Belum sepuluh menit, Achmad muncul. Dia berdiri bersandar di pintu kamar mandi. Natalia hampir selesai mandi. Achmad meminta Farid dan bik Ninis ikut ke RSPAD Gatot Subroto.
Achmad mengendarai mobil sementara Farid memberitahu Bambang. Setibanya di rumah sakit, kondisi Natalia memburuk. Achmad menggendongnya untuk dibaringkan di brankar dorong. Achmad mengurus administrasi. Bik Ninis dan Farid menemani Natalia yang diperiksa di IGD. Dokter IGD memutuskan Natalia dirawat. Achmad mendekati dokter itu untuk menanyakan diagnosis. Dokter itu mengatakan ciri-ciri Natalia seperti orang keracunan. Internis akan datang sebentar lagi berdasarkan keterangan dokter itu. Achmad kecewa mengetahui Natalia tidak hamil, namun terperanjat mendengar diagnosis dokter. Tiga jam kemudian, Bambang muncul di rumah sakit. Natalia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Dia diinfus. Bambang menangis melihat putrinya. Achmad membujuk Bambang pulang. Dia dan bik Ninis akan menjaga Natalia. Bambang bersikeras menginap dan tidak ada yang berani menentang. Farid pulang bersama Supardjo. Farid hendak mengambil pakaian serta perlengkapan Natalia, Bambang, Achmad, dan bik Ninis. Internis telah datang lalu berbicara dengan Bambang ditemani Achmad. Dua hari ini akan menjadi saat kritis untuk Natalia. Bambang bertanya dengan takut.
"Maksud dokter kalau Lia tidak melewati masa kritis, Lia akan--?"
Bambang menggebrak meja, tetapi dia kemudian memohon maaf kepada internis yang menangani Natalia. Internis itu memahami keadaan Bambang.
"Papa ...."
Bambang menggenggam erat tangan Natalia.
"Rocco ...."
Bambang terbahak. Bambang ingat pendapat seorang temannya jika nama-nama yang disebut seseorang waktu tertidur adalah mereka yang punya tempat khusus di hati orang itu.
"Achmad ...."
Bambang terkejut. Natalia menyebut nama Achmad.
__ADS_1
"Achmad ... Achmad ...."
Achmad diminta Bambang mendekat. Achmad ingin menggenggam tangan Natalia, tetapi takut kepada Bambang. Untungnya, Natalia kembali tenang. Peter masuk dan menyampaikan bahwa internis menunggu di luar. Bambang segera keluar. Bik Ninis sudah tidur. Dia disuruh Bambang tidur lebih dulu. Begitu Bambang keluar, Achmad langsung memegang dan menciumi tangan Natalia sambil menangis sesenggukan. Achmad tidak menyadari jika Bambang mengintipnya dari jendela dekat pintu yang tirainya disingkapkan Bambang sedikit ketika keluar. Internis dan Peter sedikit bingung dengan tingkah Bambang. Bambang berbalik menghadap internis. Mereka membicarakan kondisi Natalia. Peter perlahan mundur agar berdiri dekat jendela. Dia mengintip dan menyaksikan Achmad menangis seraya memegang dan menciumi tangan Natalia.
Oh, Tuhan! Apa yang terjadi sebenarnya? Achmad dan Lia pacaran? So mo mati kita kalau begini, jo. Semoga bukan seperti kita pe penglihatan!"
Bambang selesai berbicara dengan internis saat Farid tiba. Setelah internis pergi, Bambang memerintahkan Farid menginap menggantikan Achmad.
"Habis sudah si Achmad! Aduh, Achmad ... Achmad. Kenapa kamu sampai terpikir punya hubungan cinta dengan putri atasan? Jadi rusak semuanya kalau seperti ini! Kasihan si Achmad kalau sampai om Bambang benci dia."
Bambang memasuki ruangan. Dia memerintahkan Achmad pulang. Baru kali ini Bambang menangkap sorot mata melawan Achmad. Dia seperti memohon diijinkan tinggal.
"Besok pagi jam 06.00 kamu jemput Saya dengan Pardjo sekalian bawa seragam Farid!"
"Siap, Jenderal! Saya mohon ijin menginap di sini, Jenderal."
"Pulang sekarang, Mad!"
Achmad terpaksa pamit. Farid memberikan kunci mobil kepada Achmad. Farid disuruh Bambang membeli tambahan snack.
"Peter, CCTV harus terpasang di kamar ini paling lambat besok siang! Tidak usah yang lain tahu!"
Bambang membisikkan perintah kepada Peter. Peter mengangguk. Kepalanya pusing tujuh keliling! Kisah klasik putri jenderal punya hubungan cinta gelap dengan ajudan ternyata terjadi pada putri jenderal yang menjadi atasannya. Dia tetap berharap kalau dugaan Bambang salah. Peter menyukai Achmad. Dia cerdas, cekatan, bertanggung jawab, pandai menyimpan rahasia, penembak jitu, dan kemampuan Taekwondo-nya terbaik di antara semua ajudan para jenderal Angkatan Darat. Padahal, Bambang merencanakan ingin menyekolahkan Achmad. Bambang pernah memberitahukan rencananya kepada Peter. Bambang menganggap Achmad seperti putranya sendiri. Peter mengakui kalau Natalia manis. Bahkan, Farid pun sempat menyukai Natalia. Tetapi, Farid akhirnya mundur karena Natalia yang waktu itu masih kuliah di Unpad ternyata sudah berpacaran dengan Nino yang kuliah di UI. Peter sempat kasihan terhadap Farid yang setiap akhir pekan harus mengantar Natalia dan Nino berpacaran. Ketika Peter mendapatkan Tedjo sebagai supir pribadi Natalia yang baru, barulah Farid terbebas dari menjalankan tugas tambahan penyiksa hatinya itu.
Achmad tidak dapat memejamkan mata. Dia terus memikirkan kondisi Natalia.
Achmad memutuskan menghadap pencipta dengan menjalankan salat. Dia berdoa untuk kesembuhan Natalia. Dia juga memohon ditunjukkan jodoh yang menerima keluarganya apa adanya, shalehah, baik budi pekerti, dan setia.
__ADS_1