CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
SAKIT JIWA


__ADS_3

Wenny tidak menemukan apa pun yang aneh di ruang tamu. Dia mencoba membuka pintu kamar tidur pertama yang bersebelahan dengan ruang tamu, namun terkunci. Dia menuju ruang makan dan kembali tidak mendapati hal aneh. Tetapi, pintu kamar tidur yang berdampingan dengan ruang makan terbuka lebar. Kedua lutut Wenny bergetar. Dia mendekati pintu itu seraya terus berdoa dalam hati agar dia tidak melihat Safira dalam kondisi menggenaskan. Jantung Wenny berdegup kencang saat dia akan menyaksikan apa gerangan yang terjadi di balik pintu. Wenny menghitung sampai dengan tiga lalu cepat berdiri di dekat pintu.


"Alhamdulillah, ya, Allah .... Tidak ada mbak Safira di sini."


Wenny bernapas lega. Tiba-tiba, Wenny terjerembab karena didorong dari belakang. Belum sempat Wenny membalikkan tubuh, sesuatu ditempelkan ke hidungnya setelah itu semuanya gelap bagi Wenny. Safira segera berlari untuk mengunci pintu depan.


"Dasar anak bodoh kamu, Wen! Katanya, anak Psikologi UI, tapi kamu malah Aku kalahkan. Otak kamu tidak kamu pakai, Wen!"

__ADS_1


Safira menyeret Wenny ke dalam kamar tidur itu. Dia mengikat tangan serta kaki Wenny dan menyumpal mulut Wenny pula dengan sepotong kain. Safira terkikik puas menyaksikan hasil kerjanya. Dia membuka tas Wenny lalu mengambil ponselnya. Safira menempelkan jempol kanan Wenny ke layar ponsel untuk membuka kunci layar. Dia memeriksa ponsel Wenny. Rasa perih menusuk hati Safira melihat beberapa foto Achmad. Dua pria yang dicintainya tidak ada yang berhasil didapatnya. Gatot belum juga menunjukkan reaksi ingin mendekati Safira padahal Safira yakin kalau Gatot selama ini menyukainya jauh sebelum penyakit Safina terungkap sementara Achmad sudah terbang jauh dari sisinya begitu dia tahu kalau Safira yang mencelakai Natalia. Achmad memutuskan pertunangan dengan Safira sejak Maret lalu setelah Natalia keluar dari rumah sakit. Peristiwa itu terjadi tiga hari sebelum peringatan hari jadi Kostrad. Gatot yang ikut menghadiri terheran menyaksikan sikap dingin Achmad kepadanya ketika dia menyinggung Safira dan rencana pernikahannya. Achmad justru tampak seakan terlalu posesif melindungi Natalia. Safira mengetahui hal itu karena Gatot yang menginformasikan. Sejak saat itu, dendam Safira terhadap Natalia semakin menumpuk. Safira memvonis Natalia sebagai penghancur semua angannya. Bukan hanya Natalia, tetapi juga Wenny. Safira keluar dari kamar tidur itu. Dia membuka kulkas dan mengambil semangkuk kecil puding lalu dia duduk di kursi yang tepat berada di depan kamar tidur yang dibiarkannya terbuka. Safira menilkmati puding buatannya sambil menonton semua video tidak senonoh Natalia dan Achmad. Safira meneteskan air mata. Dia dapat menyimpulkan perasaan Achmad terhadap Natalia dari pancaran sinar tatapan mata Achmad yang begitu spesial kepada Natalia.


"Mas Achmad memang cinta sama si Lia, meskipun dia juga menginginkan Aku. Aku benci tidak berhasil menjadi satu-satunya wanita di hati mas Achmad. Aku benci dikalahkan! Apalagi yang mengalahkan Aku selevel Natalia yang wajahnya jauh di bawah kualitas wajah Aku."


Wenny membuka matanya. Kepalanya sangat pusing. Dia ingin muntah. Mulutnya kering. Dia berusaha berpikir, namun masih sulit baginya mengingat apa saja yang telah terjadi. Wenny mencoba menenangkan dirinya. Perlahan, kesadaran Wenny berangsur memulih. Akhirnya, dia menyadari keadaan dirinya yang terikat dan mulutnya disumpal pula. Wenny meronta-ronta hendak melepaskan diri, tetapi ikatan di tangan dan kakinya sungguh kuat. Dia mengentak-entakkan kedua kakinya. Ternyata tidak berguna menurutnya. Dia menggeser tubuhnya ke dinding supaya bisa duduk. Dia sukses melakukannya. Wenny terengah lelah. Tidak sengaja, pandangannya lurus ke depan. Dia melihat Safira tengah asyik menikmati pudingnya. Safira melambaikan tangannya. Wenny melotot marah. Dia kembali meronta kali ini dalam kondisi sangat murka sambil berusaha membuka mulutnya untuk bersuara. Wenny malah terjatuh. Safira tertawa keras menyaksikan kebodohan Wenny. Benar-benar panas hati Wenny diejek Safira. Dia terus mencoba mengeluarkan suara, tetapi hanya suara-suara bergumam yang tidak ada gunanya. Safira tetap menikmati pudingnya. Dia senang menyaksikan penderitaan Wenny.


"Kamu menghancurkan hidupku, Indah! Aku cuma jadi pekerja di perusahaan ayahku sendiri. Apa maksud kamu? Bagaimana caramu membujuk kedua orangtuaku untuk memberimu bagian harta dan saham?"

__ADS_1


Indah sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan Krisna. Dia hanya berusaha melepaskan diri dari cekikan Krisna. Sebuah tinju merobohkan Krisna. Indah menghirup napas lega sambil menangis terisak. Dia berbalik. Farid berdiri di hadapannya. Mereka berdua sama-sama terkejut. Indah tidak mampu mengucapkan terima kasih yang seperti tertahan di lidahnya. Indah masih syok berat. Farid tidak mau menanyai Indah. Dia hanya menunggu Indah sedikit tenang. Wanita di dalam mobil Farid keluar menghampiri Indah dan Farid. Namun, langkahnya berhenti mendadak. Indah menghambur ke pelukan Farid untuk menumpahkan tangis kencangnya. Farid mengusap-usap punggung Indah. Krisna bangkit. Mukanya sakit sekali.


"Oh, sudah punya gacoan baru! Tentara pula! Pantas berani minta cerai! Kapan kalian akan menikah?"


"Menunggu keputusan pengadilan agama. Begitu Indah resmi menyandang status janda, Saya segera menikahinya!"


Wajah Indah terkejut. Dia mendongak untuk menatap wajah Farid yang membuat Farid terdorong mengecup ringan bibir Indah. Krisna memukul jendela mobil lalu meninggalkan mereka. Indah bergerak melepaskan diri, tetapi Farid menahannya. Farid mencium bibir Indah sehingga Indah meronta. Farid tetap memeluknya erat seraya memuaskan hasratnya yang tertahan selama ini untuk menyentuh bibir Indah.

__ADS_1


"Mas Farid, apa yang lagi Mas lakukan?"


__ADS_2