CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
ORANG KETIGA (4)


__ADS_3

Natalia bergegas menuju apotik. Dia akan membeli alat uji kehamilan. Beberapa hari ini dia sering mual dan pusing. Bahkan, semalam dia muntah-muntah.


"Mati Gue kalau sampai hamil! Tuhan, tolong Lia! Lia nggak jadi jahatin Achmad dan Safira. Lia pasrah kalau Achmad cintanya ke Safira. Tapi, Lia benaran kepingin lanjut S-2 dengan beasiswa bukan uang papa. Tolong beri Lia kesempatan, Tuhan!"


Natalia berdoa dalam hati saat tangannya mendorong pintu.


"Tuhan, mohon dengarin doa Lia! Lia nggak bersih-bersih amat, tapi, kasihan papa kalau Lia hamil."


Natalia kembali memanjatkan doa ketika kasir memroses belanjaannya. Dia celingak-celinguk melihat ke arah pintu. Berjaga-jaga andai orang yang dikenalnya memasuki apotik yang sama. Bukankah sering terjadi di saat kita melakukan sesuatu yang disembunyikan di lokasi yang kemungkinan tidak ada yang mengenali malah ternyata kita harus bertemu orang yang kita kenal dan paling tidak diharapkan bertemu.


Natalia turun dari mobil. Dia melihat Achmad dan Farid berkumpul dengan dua penjaga di pos jaga.


"Mbak Lia telat. Tumben! Dari mana dia?"


Farid melontarkan pertanyaan, tetapi ditegur Achmad.


"Jangan usil, Rid!"


"Semalam, Aku dengar mbak Lia muntah-muntah!"


"Lo mau gosip kalau mbak Lia hamil???"


Adityo bertanya kepada Farid.


"Ngaco! Jadwal mbak Lia kita semua tahu. Dia pulang kerja hampir selalu sama waktunya. Sabtu dan Minggu jalan selalu diantar dan ditunggu Tedjo. Tedjo tahu tentang mbak Lia!"


Achmad memprotes Farid. Hendro menimpali.


"Kalau mbak Lia hamil, pelakunya harus salah satu pria di rumah ini."


Achmad memandangi Natalia yang berjalan masuk. Achmad ijin beralasan mau ambil gorengan di dapur. Dia tahu kalau Natalia di dapur. Orang yang berada di pos jaga bisa melihat ke dapur kendati tidak terlalu jelas. Achmad sudah di dapur saat Natalia muntah-muntah di kitchen sink. Achmad hendak menghampirinya, tetapi dia melihat kotak alat uji kehamilan yang menyembul keluar dari tas plastik kecil di dalam tas Natalia yang ritsletingnya terbuka setengah.


"Mbak Lia kenapa?"


Natalia terkesiap. Achmad berdiri di sampingnya.


"Masuk angin, Mad!"


Achmad menyeka bibir Natalia. Natalia menepis tangannya.


"Lo berani megang bibir Gue! Tangan lo lancang! Gue sudah berbaik hati nggak mau jahati lo, tapi, lo ngeselin!"


"Maksud kamu tidak jahati Aku?"

__ADS_1


Natalia tersadar salah bicara.


"Aduh, kenapa Gue bilang Gue berbaik hati? Jangan sampai Achmad nyecar Gue! Nanti ketahuan kalau Gue mau jahatin dia dan Safira tadinya."


"Wanita yang aneh! Selama ini Aku hanya bertemu wanita berkepribadian hitam atau putih. Tapi, Lia abu-abu! Tidak tertebak."


Achmad menatap lekat Natalia di saat Natalia mendadak mendongakkan kepalanya. Achmad ingin memalingkan wajahnya, namun dia memutuskan menantang. Natalia mendekati Achmad. Achmad bersiaga. Tangan Natalia terulur ke arah Achmad yang bersiap menangkapnya. Achmad terlambat. Tangan Natalia keburu membelai lalu mencium bibirnya.


"Mad, Aku minta dibuatin nasi goreng sosis lagi! Masakan kamu ternyata enak!"


Achmad pergi begitu saja. Natalia pasrah ditinggalkan tanpa sepatah kata.


Achmad mengambil wajan dan sodetnya.


"Kamu duduk sana, Lia!"


"Mau masak, Mad? Masak apa?"


"Kamu bilang pengen nasi goreng sosis!"


"Hadiah ciuman Aku, ya?"


Achmad tertawa. Natalia duduk menunggu Achmad yang memasak.


Achmad mematikan kompor. Dia menanyai Natalia apakah memilih dibuatkan telur ceplok atau dadar.


"Kamu mau telur ceplok atau dadar, Lia? Lia ...? Lia ...??? Lia ...?????"


Achmad membalikkan tubuh. Natalia menelungkupkan kepala di meja. Achmad mendatanginya. Tiga kali Achmad memangilnya tanpa respon. Achmad menegakkan tubuh Natalia. Mata Natalia terpejam dan bibirnya putih. Achmad berteriak memanggil semua orang seraya menggendong Natalia ke kamar tidurnya. Natalia dibaringkan di tempat tidur. Achmad hendak membuka kemeja Natalia.


"Mad, jangan buka kemejanya Mbak Lia!"


Bik Ninis mengingatkan Achmad yang lalu berdiri dan mempersilakan bik Ninis yang melakukan.


"Kamu keluar, toh, Mad!"


Achmad menolak. Dia mengambil minyak angin dari tangan bik Yanah. Achmad mengoleskannya di sekitar hidung Natalia.


"Keluar, Mad! Biar dada, punggung, dan perut Mbak Lia diolesi."


Permintaan bik Ninis agar Achmad keluar terpaksa diturutinya. Achmad keluar menemui Farid yang menanyakan keadaan Natalia. Achmad tidak dapat memberi informasi. Dia pun tidak paham.


Bik Yanah keluar memberitahu kalau Natalia siuman. Achmad menerobos masuk. Dia tidak sabar ingin melihat Natalia. Bik Ninis pamit ke belakang hendak membuat teh manis panas. Hanya Natalia dan Achmad yang tinggal. Achmad tidak ingin berbicara supaya Natalia tidak tersulut emosinya. Mendadak, Achmad teringat uji tes kehamilan di dalam tas Natalia. Dia mau membuka suara, tetapi membatalkannya.

__ADS_1


"Kalau perlu apa-apa, kasih tahu Aku, Lia!"


Ucapan Achmad mengesalkan hati Natalia.


"Gue nggak butuh pertolongan lo, ajudan! Nggak usah terlalu berlebihan!"


"Kenapa perasaan kamu cepat berubah, Lia?"


"Oh, iya. Aku tidak kayak Safira yang enosinya stabil!"


Natalia menyesali kelancaran lidahnya. Dia malah mengeluarkan kalimat bernada kecemburuan. Natalia memejamkan mata. Dia berlagak tidur.


"Siiiaaal ...! Hari ini, dua kali Gue gagal menjaga lidah ke Achmad!"


Achmad cukup terperanjat mendengarkan ucapan Natalia.


"Lia cemburu terhadap Safira?"


"Kamu mau makan apa, Lia?"


Pertanyaan Achmad tidak dijawab sehingga dia mencolek pipi Natalia.


"Kalau masuk angin, jangan ngambek dulu!"


Kata-kata Achmad membuat Natalia terpaksa menyunggingkan senyum, meskipun matanya tetap terpejam.


"Gue mau yang panas dan asam!"


Achmad langsung berwajah serius mendengar permintaan Natalia. Dia meminta Natalia menunggu karena dia akan ke dapur.


"Mad, bilang ke semua orang supaya papa jangan sampai dengar kejadian tadi! Gue nggak mau papa khawatir! Farid juga diberitahu, Mad!"


"Oke! Aku ke dapur. Kamu minum teh manisnya supaya perut kamu jangan kosong selama menunggu makanan disiapkan!"


"Nasi goreng sosisnya mana?"


Natalia bicara sambil tetap memejamkan mata.


"Nanti Aku buat baru! Minum teh manisnya, Lia!"


"Hmmm ...."


Achmad meninggalkan Natalia. Rocco mendekati Natalia. Dia menjilati pipi Natalia.

__ADS_1


"Do not tell opa about what happened to me today, Rocco!"


__ADS_2