CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
AKHIR SEMENTARA KISAH RUMIT


__ADS_3

Nino menunggu Bambang dan rombongannya di lobi rumah sakit UI, Depok. Natalia menghubungi Nino begitu Bambang menginformasikan keadaan Wenny.


"Wenny???"


Pekik tertahan seorang dokter muda. Nino menyuruh brankar dorong Wenny diarahkan ke IGD. Beberapa keluarga pasien IGD dan sejumlah orang yang lalu lalang bingung melihat empat orang bersneli memakai name tag bertuliskan dokter muda di depan nama mereka mendorong pasien di brankar dorong ke IGD dengan panik. Teman Wenny dari fakultas keperawatan yang tengah bertugas jaga, Zakia, segera menghubungi Rotua. Selesai berbicara dengan Zakia, Rotua bergegas menggedor sejumlah pintu kamar tidur. Sembilan orang pergi ke rumah sakit naik motor. Tiap motor dinaiki tiga penumpang. Bis kuning tidak beroperasi lagi karena sudah pukul 11.00 malam. Untungnya, rumah sakit UI berada di lingkungan UI sehingga peraturan dilarang berbonceng tiga dan dilarang tanpa memakai helm terpaksa dilanggar dulu. Kesembilan teman Wenny ditemui Zakia sesampainya mereka di rumah sakit. Nino keluar dari IGD, menyapa semua teman Wenny lalu menghampiri rombongan Bambang. Gatot menunggui Wenny di IGD. Wenny sudah mendapatkan tindakan. Seorang dokter muda membicarakan kondisi Wenny dengan Gatot. Sedih hati Gatot menyaksikan keadaan Wenny, meskipun belum pernah bertemu Wenny sebelumnya. Natalia beberapa kali menelepon Nino. Rotua sesekali melirik Nino.


"Nasib, ya, nasib! Hanya mengagumi pak dokter ganteng dari kejauhan!"


Nino selesai menjawab telepon Natalia. Dia tiba-tiba menatap Rotua yang salah tingkah kedapatan memandangi.


"Habislah sudah perjalanan hidup Rotua, Mak! Si dokter pujaan hati memergoki Aku. Muka Aku harus ditaruh di mana? Hiks ... hiks ... hiks ...."


"Muka Antum masih tetap di posisi sah, Wa!"


Rotua mendelik kesal kepada Fitria, mahasiswi jurusan Sastra Arab. Fitria tahu betul kalau Rotua menaksir dokter Nino dan Fitria pun terbiasa mendengar Rotua mengatakan akan ditaruh di mana mukanya kalau Rotua takut menjadi malu.


Rotua bertemu Nino saat mereka menghadiri perayaan Natal gabungan badan kerohanian Kristen Protestan dan Katolik UI dua tahun lalu.


"Ssttt! Jangan begitu gaya lo, Fit! Nanti, yayang dokter sadar kita gosipin dia."


Fitria geram diprotes Rotua. Dia langsung bergaya berbisik di telinga Rotua lalu berlagak tersenyum membekap mulut sambil sengaja melirik-lirik Nino.

__ADS_1


"Aduh, Fitri kerjai Aku. Dokter Nino sekarang pasti yakin kalau kami ngomongin dia!"


Ketika Rotua hendak menarik bibir Fitria, calon korban telah melarikan diri. Sewaktu mata Rotua menemukan posisi Fitria, Rotua mendapatkan juluran lidah Fitria.


"Tunggu pembalasan Aku, ukhti Fitria!"


Achmad dan semua temannya dalam perjalanan meninggalkan kompleks Telaga Mas. Safira terus melawan dalam mobil. Pistol Gatot yang dicuri Safira, dipegang Peter. Mereka mengantar Achmad ke rumah sakit UI. Gatot dan teman Maruap memohon ijin meninggalkan Bambang dan yang lainnya. Achmad menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya untuk semua pertolongan Gatot dan teman Maruap. Achmad terus memantau kondisi Wenny. Dia belum berani memberi tahu kedua orangtuanya di Solo. Nino menemani Achmad. Dia menenangkan Achmad bahkan mengenalkannya ke semua teman Wenny. Farid menyampaikan kepada Achmad jika Bambang meminta Farid mengantarnya ke rumah Gatot.


"Apa yang akan kau lakukan ke adik iparmu, Gatot?"


"Aku ingin memasukkan Safira ke rumah sakit jiwa, Pak. Papa setuju. Papa yang mengurus Safira dan berurusan dengan orangtua Safira, Pak!"


"Itu dia, Pak! Aku sudah jelaskan ke papa dan mama. Mereka memahami kalau hal itu sangat mungkin terjadi. Ibunya Safina dan Safira saja terus menelepon papa sepanjang malam ini menuntut hak asuh Galuh dan Gayatri karena ibu mereka menganggap sudah tertutup kemungkinan Aku menikahi Safira, Pak!"


"Kalau begitu, jangan bersantai, Gatot! Jangan pandang enteng ibunya Safira!"


"Ya, Pak! Aku akan ingat nasihat Bapak."


Gatot terdiam. Dia ingin menanyakan tentang Wenny. Dia sedikit ragu, tetapi akhirnya memberanikan hati.


"Bagaimana nasib adiknya Achmad?"

__ADS_1


"Kau lihat sendiri. Semua teman Wenny berjibaku menolongnya. Semoga dia pulih secepatnya. Natalia dan Wenny adalah dua wanita yang kuat mentalnya. Mereka mampu memulihkan luka fisik dan luka psikologis mereka dengan cara yang benar. Kita tidak perlu takut. Hanya saja kecerobohan dan kemasabodohan mereka yang sangat menyebalkan. Achmad pun sering kesal ke Wenny sepengetahuanku."


Gatot tersenyum lega. Rasa bersalahnya sedikit terobati.


14 Juni 2019


Jantung Aku berdegup kencang saat memeriksa pengumuman di laman LPDP. Aku dinyatakan sebagai salah satu peserta yang lulus seleksi adminisratif! Yesss! Thank you, Lord!" Sebagai pengingat! Bulan lalu, Aku mendaftarkan diri mengikuti seleksi penerima program beasiswa reguler LPDP. By the way, Wenny is far better now. She is a great girl! I trust her! Looking at her always reminds me my real self, LOL! Achmad mendaftarkan dirinya untuk kuliah di jurusan hukum. Farid juga memutuskan kuliah di jurusan dan universitas yang sama dengan Achmad. Kak Arvida mulai kelabakan menghadapi "teror" Aku tentang paksaan menikah dengan papa secepatnya! Aku ingin kak Arvida menjadi istri papa sebelum Aku melanjutkan sekolah ke luar negeri andaikata Aku lulus seleksi wawancara. Aku takut kalau kak Arvida terlepas dari tangan papa. Kak Peter sudah didesak papa untuk kuliah juga, tetapi dia menyajikan seribu satu alasan menghindar. Namun, ketika papa bilang "Kasihan nyonya Madelaine Marino di surga terus menangis memikirkan keponakan bandelnya", akhirnya kak Peter menyerah. Dia selalu lemah kalau disinggung tentang mendiang mama Madelaine tersayang! Mama selalu menginginkan semua orang yang dicintainya tersenyum bahagia. Mama Madelaine pasti menyukai kak Arvida. Oh ya, tante Nuraini kembali ke Indonesia karena suaminya telah menyelesaikan tugas sebagai atase kementerian perdagangan di Swiss. Tapi, keempat anak mereka bermukim di Jerman. Dua anak tertua tante Nuraini menikahi dua gadis Jerman, sedangkan dua anak lainnya masih melanjutkan sekolah. Tante Nuraini setia menjemput Aku di kantor tiga kali seminggu untuk menjejali mulut Aku dengan berbagai masakan lezatnya. Tante Nuraini sudah empat kali mengundang kak Arvida menikmati masakannya. Si tante bertekad mendukung Aku meresmikan hubungan papa dan kak Arvida. For your information! Aku akan segera mempunyai menantu. Kak Peter membawa Rocca, seekor anjing kampung betina, ke rumah. Rocca diselamatkan dari pemilik lama yang sering memukulinya. Rocco langsung mengiba restu Aku, mamanya, untuk mempersunting Rocca. Kasihan papa Bambang! Sebentar lagi, papa akan menjadi opa buyut!


07 Agustus 2019


Aku lulus seleksi wawancara! Pendidikan master Aku akan dibiayai beasiswa reguler LPDP. Kak Arvida mengaku siap melaksanakan pernikahan sehingga dia meminta Aku berkonsentrasi mengurus keberangkatan Aku yang semakin dekat waktunya. Tingkah Achmad seperti biasa. Dia mengucapkan selamat atas prestasi Aku. Gatot sering mengirimi kami makanan. Wenny malah mendapat suplai makanan cukup berlimpah setiap Sabtu dan Minggu dari Gatot. Wenny dan semua anak asrama bersyukur sebab dapat mengurangi pengeluaran kantung ajaib Doraemon mereka untuk urusan perut! Farid sering men-curpan-i Indah, loh! Alias mencuripandangi! Tante Nuraini menenangkan Aku dengan meyakinkan Aku kalau kak Arvida akan segera menyandang gelar Nyonya Bambang Marino! Wira, adiknya Achmad, lulus SBMPTN 2019 di pilihan kedua, jurusan hukum Unpad. Dia jadi adik tingkat Aku! Papa bangga kepada Achmad sekeluarga. Wira rajin menelepon Aku! Wenny bilang kalau Wira sering membanggakan Aku kepada teman-teman orientasinya. Para adik tingkat Aku yang sekelas Wira di jurusan hukum jadi sering berkomunikasi dengan Aku. Nino sudah lama putus dengan Aku. Dia suka Rotua, tetapi dia takut karena Rotua terlalu mandiri. Carlos??? Dia menyukai Rotua pula. Carlos mengagumi keaktifan Rotua di bidang kerohanian. Safira menjadi pasien rumah sakit jiwa.


Arvida mengirim beberapa pesan WhatsApp untuk Bambang.


"Mas Bambang, Natalia sudah berangkat!"


"Aku tidak ingin melanjutkan hubungan kita!"


"Kita jalani hidup sendiri-sendiri!"


"Goodbye, Mas Bambang!"

__ADS_1


__ADS_2