CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
AKHIR SEDIH PENANTIAN


__ADS_3

Mobil Bambang berhenti di depan halaman sebuah restoran mewah di kawasan Menteng. Arvida dan Bambang keluar setelah pintu mobil dibuka. Seorang pramusaji mengantar mereka berdua ke meja pesanan, sedangkan ajudan Achmad dan supir Supardjo menunggu di mobil pribadi Bambang yang diparkir di jalan raya. Kini, beberapa makanan terhidang di hadapan Arvida dan Bambang.


"Just eat a lot, Vid! You look far thinner!"


Arvida merasa bahagia diperhatikan Bambang. Arvida telah memantapkan hatinya siap menjadi istri Bambang. Dia ingin mendampingi Bambang di masa suka maupun duka.


"Ah, sebagai istri mas Bambang. Hanya saja, kapan itu akan terjadi? Sampai dengan detik ini, Mas Bambang tidak pernah sekali pun menyinggung pernikahan ataupun lamaran!"


Namun, Arvida menunggu sabar kejutan dari Bambang saat ini. Bambang mengamati Arvida. Dia paham kalau Arvida memikirkan sesuatu, tetapi dia memilih mengabaikannya. Dia sendiri sedang mengalami masalah pelik.


"Vid, I did not have enough time to watch for today afternoon news. Achmad also forgot to record you interviewed the guest. Was everything fine?"


Arvida menjentikkan jari mendengar pertanyaan Bambang. Dirinya menyelesaikan kunyahan, meneguk sedikit air putih lalu semangat bercerita.


"Lancar, kok, Mas. Si narasumber termasuk paham manajemen waktu. Hampir setiap pertanyaan Aku dijawab singkat dan jelas jadi Aku tidak perlu sering menyela ucapannya."


"Eh, cuma waktu dia mau pulang, dia mengajak Aku dinner sampai dua kali, Mas! Aku tolak! Mana nada suaranya genit sekali, Mas! Tatapannya pun mesum menakutkan! Aku jadi kesal dibuatnya!"


Arvida menekankan cerita di bagian rayuan yang diterimanya dari sang narasumber. Dia ingin memancing reaksi Bambang.

__ADS_1


"You are beautiful. Therefore, many men like you, Vid!"


Arvida tidak memercayai apa yang dikatakan Bambang. Reaksi pria itu terdengar datar dan ceria. Bersih dan jernih dari nada cemburu. Arvida kecewa sebab dia sempat berangan terlalu tinggi. Dia menghela napas agak terlalu keras. Bambang jelas mendengar, namun dia menguatkan hati bertahan mengacuhkan. Arvida memicingkan mata. Dia yakin Bambang mendengar helaan napas yang disengajanya itu.


"Kenapa mas Bambang tidak bertanya ada apa dengan Aku? Apa dia memang tidak ngeh dengan kode keras yang Aku tunjukkan?"


Selera makan Arvida menghilang. Dia menyingkirkan piring di hadapannya ke pinggir sementara Bambang justru lahap menikmati steak favoritnya.


"Mas, I am tired! After this, I have to go home. I need to sleep faster!"


Bambang terkesiap mendengar keketusan Arvida. Dia berpikir sejenak, tetapi akhirnya mengangguk tanpa berkata apa pun. Ingin sekali Arvida melemparkan garpu ke wajah tampan Bambang. Untung, dia masih mampu menguasai luapan emosinya.


"Just take a rest, Vid!"


Bambang prihatin. Setahun lalu, Bambang yakin ingin melamar Arvida sebagai pendamping hidupnya. Dia menyukai Arvida. Arvida dianugerahi penampilan fisik yang menarik dan hal yang terpenting bagi Bambang ialah Arvida mempunyai cara berpikir yang tidak berpotensi mempermalukan dirinya. Bahkan, Natalia, putri tunggal kesayangannya, terus mendesak Bambang menikahi Arvida.


Sayang, semuanya tidak berakhir mulus. Hari demi hari, Bambang semakin ragu menjadikan Arvida sebagai pelabuhan cinta terakhirnya. Sekarang, terukir kuat nama wanita lain. Dia melunturkan tinta nama Arvida di lubuk hati Bambang. Wanita yang didambanya. Dia terobsesi meraih wanita itu. Bambang masih termenung ketika Arvida mengecup bibirnya perlahan. Bambang tersadar. Arvida memutuskan bergerak. Dia bertekad harus memaksa Bambang memberinya kepastian. Arvida mengkhawatirkan kelangsungan hubungan mereka yang terlalu lama berjalan di tempat.


"Mas Bambang, stay here tonight, please!"

__ADS_1


Arvida memohon sedikit memaksa. Dia tambah liar menciumi bibir Bambang. Bambang berusaha bertahan, namun dia menyerah! Bambang menyambut lihai permainan bibir Arvida. Wajah wanita itu mendadak melintas sekilas di otaknya! Bambang refleks menghentikan aktivitasnya. Dia menatap Arvida penuh sesal.


"I have to attend an important meeting tomorrow morning. So, I shall do a review for some emergency letters."


"Mas Bambang suruh Achmad atau Farid atau Peter jemput semua suratnya sekarang! Sekalian, seragam dan semua perlengkapan Mas terus bawa ke sini! Mas bisa kerjakan tugas di sini!"


Wajah Arvida meradang. Bambang mencoba melembutkan hati Arvida.


"Vid, there are many letters! If I stay here tonight, I am totally sure that I will not concern on them because I prefer concern on you, Sweety."


Bambang mencoba melucu yang ternyata tidak mempan kali ini.


"I am going to help you! You do not need to consider on me! Just, do your job! Importantly, you must stay overnight here! In my apartment!"


Bambang merasa bersalah. Arvida meledak amarahnya di hadapan Bambang.


"Please, forgive me, Vid! I can not! Natalia is coming from Bandung tonight, Vid. I miss her! I want to meet with her!"


Bambang bersyukur. Natalia terbukti sukses menjadi tameng. Natalia memang tugas ke Bandung dua hari lalu dan malam ini, jika tiada halangan, dia akan sampai di rumah. Arvida berangsur melunak mendengar alasan penolakan Bambang yang dikaitkan ke Natalia. Akhirnya, Arvida membiarkan Bambang pulang. Dia tidak lagi berkeras memaksa. Bambang mengecup kening Arvida kemudian pamit. Begitu pintu lift yang akan menurunkan Bambang tertutup, Arvida segera mengunci pintu apartemennya. Dia masuk kamar tidur, membanting tubuh ke kasur, dan menangis tersedu. Semuanya tampak buram bagi Arvida sekarang.

__ADS_1


"Aku merasa kalau hubungan Aku dan mas Bambang tidak akan berlanjut. Tidak akan pernah ada pernikahan impian Aku bersama mas Bambang. Terserahlah! Aku sudah lelah."


__ADS_2