CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
CINTA SEGITIGA (2)


__ADS_3

Isi tas Natalia berjatuhan. Rocco yang mendampingi Natalia melompat kaget. Natalia lupa memosisikan ritsleting tasnya dalam keadaan terkunci. Dia berjongkok memunguti barang-barangnya. Achmad memalingkan wajahnya. Tetapi, dia tidak tega. Dia membantu Natalia.


"Eh, terima kasih, Mad!" ucap Natalia sembari menerima sebagian barangnya yang dipungut Achmad.


Achmad mengangguk. Dia melihat dompet Natalia yang terbuka di dekat pintu. Dia mengambilnya. Matanya terpaku ke foto dirinya di kantung mika dompet Natalia bersama foto Bambang, foto mendiang mamanya, dan foto Rocco.


"Mbak Lia, kenapa foto Saya ada di dompet Mbak?"


"Oh, itu teman tentara Aku yang wajahnya kebetulan mirip kamu."


Achmad menahan senyum mendengar jawaban asal Natalia. Dia menyerahkan dompet itu ke Natalia.


"Tapi, nama teman Mbak juga Achmad!"


"Kebetulan kalian berdua serupa wajah, fisik, dan nama."


Natalia berlari kecil ke mobilnya. Achmad kian repot mengulum senyum. Sepatu Natalia masih tergeletak. Achmad sedikit ragu, namun diraihnya juga sepatu itu.

__ADS_1


"Mbak Lia ketinggalan sepatunya," kata Achmad menunjukkan sepasang sepatu itu.


Achmad meletakkannya dekat kaki Natalia. Pandangan mereka bertemu. Achmad seperti melihat air mata di mata Natalia. Natalia mendorong Achmad lalu menutup pintu mobil. Tedjo masuk dan duduk di kursi pengemudi. Mobil bergerak keluar dibimbing seorang penjaga. Achmad melihat Natalia menyeka matanya dengan tissue.


Achmad akan mengajukan cuti hari ini. Mungkin tidak secepatnya disetujui. Meskipun begitu, dia tetap berencana menemui Safira minggu ini.


"Aku tidak perlu lagi memikirkan yang seharusnya tidak perlu Aku pikirkan. Aku hanya harus memikirkan kebahagiaanku dan Safira."


Bambang menyelesaikan sarapannya. Peter dan Farid muncul. Peter memberi tanda ke Achmad. Achmad menemui atasannya. Semuanya sudah siap. Achmad dan Rocco menunggui Bambang yang sedang berdoa. Di perjalanan, Bambang mencoba menghubungi Arvida. Indah yang menjawab dengan suara cemprengnya.


"Halo, Indah. Ibu sedang apa?"


"Memang menyenangkan kalau kita punya tangan kanan yang bisa dipercayai."


Bambang menghargai para ajudannya yang selalu dapat diandalkan. Arvida pun sangat memercayai Indah. Arvida kerap memuji performa kerja Indah di depan Bambang. Arvida pernah bertengkar dengan temannya yang seorang anggota DPR. Dia menghasut Indah agar meninggalkan Arvida dan bekerja menjadi sekretaris pribadinya. Indah tidak mau menyampaikan kepada Arvida tadinya karena tidak ingin Arvida mengamuk ke si anggota DPR. Namun karena Indah jengah terus dihubungi, dia terpaksa mengadu ke Arvida. Bambang sampai di kantornya saat Arvida menelepon. Arvida bertanya apakah Bambang punya waktu menghadiri acara makan malam di rumah amangudanya. Bambang setuju. Arvida menutup telepon. Sepuluh menit kemudian, Arvida menelpon lagi. Dia mengabari kalau Natalia juga bisa hadir. Sambungan telepon kembali diputus. Bambang mendadak teringat Arvina.


"Pasti Arvina datang juga nanti malam. Aku jadi gugup."

__ADS_1


Bambang dan Natalia sudah berada di rumah keluarga Maraden Simanjuntak. Maraden dan Andrina bergantian memeluk Bambang dan Natalia. Rona kebahagiaan terpahat di wajah pasangan suami-istri itu. Mereka kelihatan lebih muda malam ini. Hans berkali-kali mengucapkan selamat kepada Bambang sambil mengingatkannya supaya menjaga Arvida selamanya.


Bambang mengedarkan pandangan. Dia menangkap sosok Arvina yang seperti enggan memunculkan diri. Walaupun demikian, dia terlibat pembicaraan akrab dengan Arvida, Natalia, dan Indah. Betapa bara cinta untuk Arvina memenuhi relung hati Bambang. Dia ingin menyapa wanita pujaannya, tetapi menyadari kemungkinan kecil hal itu terjadi. Arvina belum menyapa Bambang sejak kedatangannya dan Natalia. Dia terus memegang Havi padahal pengasuhnya Havi ikut. Arvina seakan menunjukkan jika dia sibuk mengurus Havi jadi tidak akan punya waktu untuk beramah-tamah dengan semua orang terutama dengan Bambang pastinya. Bambang mengawasi setiap gerakan Arvina. Kesempatan yang dinanti Bambang muncul juga. Arvina menggendong Havi yang menangis ke teras. Arvina melarang Havi memakan permen lebih dari dua buah. Arvina tentu saja tidak tega bersikap keras terhadap Havi, namun Arvina menyetujui pendapat bahwa anak seusia Havi, bagian dari the golden ages of a child justru seharusnya mulai belajar mengenal disiplin dan larangan yang sesuai. Arvina tidak ingin Havi tumbuh menjadi anak laki-laki manja, liar, dan tidak tertib. Arvina selalu mengingat perkataan mamanya yang dikutip dari buku Amsal bahwa anak laki-laki harus dididik agar tidak memalukan orangtuanya. Nasihat itu pun berlaku buat anak perempuan. Rupanya, Havi mengerti bahwa sia-sia terus merengek. Perlahan, suara tangisnya berkurang. Akhirnya, Havi berhenti menangis. Bambang terbatuk dua kali. Arvina terkesiap menyadari kehadiran Bambang. Dia bergegas menggendong Havi ingin masuk. Bambang memegang erat tangan Arvina.


"You hurted me, Mas! Just release me now! You have been too far!"


Arvina meronta, namun Bambang menguatkan cengkeramannya sambil menjaga Havi tidak terjatuh.


"Give me a chance to talk, Arvina! You are torturing my feeling!"


"Whattt ...? How could you say that to me? I am the victim. I am myself whose feeling is being tortured by you. But, I did not punish you!"


"It would have been better if you had punished me, Arvina!"


"Just forget what happened between us! Stop becoming a stupid shadow!Please, do not ever dare to hurt Arvida! She is one of this family precious jewelleries!"


"I love you, Arvina!"

__ADS_1


"You hurted my sister whereas she loves you with all of her heart! You are so disguisting! Don't you ever consider how Natalia feeling is if she knows what her father has already done???"


__ADS_2