CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
AKSI SAFIRA


__ADS_3

Bulan Mei 2019.


Tampaknya, semua kembali normal. Achmad sudah menemui Safira. Achmad menunjukkan semua bukti yang mengarahkan Safira sebagai peracun Aku. Awalnya, Safira terus membantah sehingga Achmad tersulut emosi. Untungnya, Achmad mengikuti nasihat papa untuk berhenti menekan Safira. Hubungan Aku dengan Wenny lebih akrab dan Achmad tampaknya senang. Wenny sepertinya menginginkan Aku menjadi pendamping Achmad, meskipun dia tidak menunjukkan secara terang-terangan. Aku suka Wenny karena dia anak yang sopan dan tetap menjaga batas. Tidak pernah bersikap sok akrab. Hubungannya dengan Farid tiada kejelasan. Aku dan Wenny serupa. Gemar menarik ulur. Namun, sebenarnya, Aku tidak bermaksud begitu. Aku mencintai, eh, sangat menyukai Achmad. Tetapi, banyak rintangan muncul di antara kami. Perbedaan agama adalah rintangan pertama. Rintangan kedua adalah papa. Aku tidak tega mempermalukan papa karena putrinya dinikahi ajudannya. Rintangan ketiga yaitu Aku ingin melanjutkan sekolah dulu. Aku ingin mengetahui seberapa bangganya Aku apabila melanjutkan sekolah melalui beasiswa prestasi seperti beasiswa reguler LPDP. Kalau Aku boleh jujur maka rintangan kedua dan ketigalah yang menyebabkan Aku tidak siap menerima Achmad sebagai pendamping hidup. Oh ya, hubungan papa dan kak Arvida semakin dekat, tetapi kali ini Aku melihat kalau papa tulus menginginkan kak Arvida sebagai istrinya sementara kak Arvida justru seperti ogah-ogahan. Mereka terlihat mesra setiap bertemu, tetapi mereka sangat jarang berjumpa. Entah mengapa sepertinya kak Arvida terlalu tampak begitu sibuk setiap kali papa ingin bertemu. Aku selalu berdoa agar pengamatan Aku terbukti salah . Aku menginginkan kak Arvida sebagai ibu tiri Aku. Kak Arvida beranjak tiga puluh satu tahun tiga bulan lagi, sedangkan Achmad genap tiga puluh satu tahun April lalu. Tahun ini, Achmad berencana kuliah untuk meraih gelar strata satunya. Dia beralasan tahun ini cukup uang untuk membiayai kuliahnya karena dia tidak jadi menikahi Safira dan apabila Wira tembus universitas negeri maka dia akan semakin yakin dapat melanjutkan sekolah. Aku memberitahu papa tentang pemikiran Achmad . Papa memanggil Achmad lalu memarahinya habis-habisan. Papa meminta Achmad kuliah tahun ini tanpa mempertimbangkan Wira kuliah dimana karena papa berencana membiayai penuh kuliah Achmad.


"Maaf, ya, Mad karena Aku beritahu papa. Aku ingin kamu kuliah tahun ini."


"Ya, Lia. Aku berterima kasih!"


"Achmad .... Jangan merasa terhina oleh cara Aku yang mengadu ke papa!"


Achmad mengangguk. Matanya tertumbuk ke layar ponsel. Aku mendekati Achmad kemudian mencium bibirnya. Achmad menunjukkan ketidaksenangannya.


"Hargai Aku, Lia!"


Aku tidak memedulikan permintaannya sebab Aku mengerti bagaimana cara menundukkannya. Wenny pernah membocorkannya tanpa sengaja.


"Mas Achmad, bikinin Lia mie goreng!"


Achmad langsung sulit menahan senyum. Dia pasti akan mencium pipi Aku kemudian memasak makanan permintaan Aku. Achmad mengharapkan Aku memanggilnya mas. Dia tidak suka jika Aku memanggil namanya saja apalagi kalau Aku menggunakan gue-elo. Achmad menginginkan Aku bersikap manja terhadapnya. Tentu saja, Aku senang dimanja. Sayangnya, setiap kali Aku ingin dimanja, keadaan malah mengharuskan Aku bersikap tegar jika Aku ingin bertahan hidup normal tanpa mengonsumsi obat-obatan dari psikiater. Meskipun Aku menderita Skizofrenia, Aku mampu hidup normal tanpa sekali pun berkonsultasi ke psikiater. Namun, Aku tidak menganjurkan para penderita Skizofrenia untuk mengikuti langkah Aku yang tidak pernah mendatangi psikiater. Obat-obatan anti depresan yang sesuai dosis sangat diperlukan para penderita gangguan psikiatri yang teringan sekali pun.

__ADS_1


"Wenny, Aku mohon maaf karena melakukan dua kesalahan besar."


"Aku berusaha celakai Natalia dan coba bermain api dengan menyukai mas Achmad dan mas Gatot."


"Aku berterima kasih sebab kamu dan mas Achmad tidak beritahu mas Gatot tentang ini serta tidak lapor polisi."


"Tolong beri Aku kesempatan buat jelaskan ke kamu, Wen!"


"Mas Achmad sudah tutup pintu, Wen!"


Wenny membaca lima pesan yang dikirimkan Safira, tetapi dia memutuskan tidak membalas. Safina meninggal seminggu lalu karena kanker payudaranya sudah menyerang lebih dari delapan puluh persen organ tubuhnya. Wenny sempat tiga kali bertemu Safina. Wenny turut berduka atas kepergian Safina. Itu juga menjadi salah satu sebab mengapa Wenny dan Achmad memutuskan tidak memperpanjang masalah ini walaupun Achmad, Bambang, dan terutama Natalia sudah dipermalukan. Wenny yakin jika Safira mengalami gangguan mental. Dia tidak percaya apabila tindakan Safira hanya disebabkan dendam semata. Dendam terhadap Natalia hanyalah pemicu munculnya gangguan kejiwaan Safira akibat trauma masa lalunya.


"Aku sudah hancur ditinggal mbak Safina dan kamu serta mas Achmad juga memusuhi Aku."


"Sudah tidak berguna lagi Aku hidup."


"Selamat tinggal Mas Achmad!"


"Selamat tinggal Wenny!"

__ADS_1


Wenny tercekat membaca seluruh pesan terbaru dari Safira.


"Astaghfirullah, mbak Safira. Apa maksudnya bilang selamat tinggal? Aku jadi khawatir. Perasaan Aku tidak enak."


"Mbak Safira, apa maksud Mbak bilang selamat tinggal ke Aku dan mas Achmad?"


"Jangan berbuat nekat, Mbak! Hargai hidup kita, Mbak!"


Safira tersenyum menaikkan sudut bibirnya. Wenny membalas pesannya kali ini! Wenny menelepon Safira terus-menerus. Safira sengaja tidak mengacuhkan.


"Mari kita lihat siapa yang sebenarnya lebih pintar di antara kita berdua, Wenny!"


Wenny mondar-mandir gelisah di koridor kampus. Dia mempertimbangkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya Wenny bergerak cepat. Dia menuju stasiun UI menggunakan bis kuning. Beruntung, bis kuning berhenti di seberang fakultas psikologi sehingga tujuan berikutnya langsung ke stasiun UI sebelum nantinya kembali ke pool di asrama. Begitu tiba, Wenny segera turun dan menyeberang masuk stasiun UI. Wenny memilih tiket kereta jurusan stasiun Depok. Hari ini, Safira sedang berada di rumah yang dibeli Safina di sebuah kompleks di Pancoran, Depok.


"Mbak Safira ... Mbak Safira ... Mbak Safira ...!"


Wenny berulang kali memanggil nama Safira. Ketidakadaan jawaban membuat Wenny nekat masuk. Pintu depan ternyata tidak dikunci. Sempat terbit kecurigaan Wenny karena pintu depan seperti sengaja dibiarkan terbuka, tetapi Wenny mengabaikan kata hatinya. Terpikir pula oleh Wenny untuk mengajak ketua RT menemaninya memeriksa rumah Safina, tetapi Wenny mengurungkan niatnya.


"Takutnya, mbak Safira tidak melakukan apa-apa. Nanti, Aku kesannya mempermalukan mbak Safira kepada banyak orang."

__ADS_1


Padahal, Wenny bisa beralasan bahwa dia khawatir ada penjahat yang menyelinap karena Safira hanya sendiri dalam rumah. Kali ini Wenny bertindak ceroboh tidak menerapkan kewaspadaan.


__ADS_2