
Achmad dan Supardjo berada di rumah sakit sebelum pukul 06.00 pagi.
"Matamu gelap sekali, Mad!"
Achmad tidak mendengar ucapan Farid. Matanya tertuju ke Natalia. Achmad menyapa sang jenderal. Bambang membalas sapaan Achmad. Dia melihat mata Achmad yang gelap.
"Mad, pakai kacamata hitamlah!"
"Siap, Jenderal! Saya ucapkan terima kasih untuk sarannya, Jenderal."
Bambang kasihan melihat Achmad. Dia menyukai Achmad yang beberapa kali menolongnya termasuk menutupi perbuatannya kepada Arvina. Bambang yakin jika Achmad berpotensi menjadi calon pemimpin yang cakap. Itulah sebabnya Bambang ingin menyekolahkannya. Apalagi, dia akan menikahi Safira yang abang iparnya, Kapten Gatot, merupakan putra seorang brigjen purnawirawan. Sangat mudah bagi Achmad melesatkan karirnya ditambah bantuan Bambang pula nantinya.
"Saya menyukaimu, Mad! Jangan berani kecewakan Saya. Gatot bukan tipe pria yang akan diam kalau sampai Safira kamu kecewakan! Lagipula, Saya susah membelamu jika harus bertengkar dengan bapaknya Gatot!"
Peter memberitahu jika Maraden dan istrinya datang.
"Apa kata dokter tentang Natalia, Mbang?"
"Lia didiagnosis keracunan, Kak. Tes darah dan jaringan tubuh Lia sudah dilakukan kemarin. Semoga hasilnya hari ini keluar. Dokter Todjo Simanjuntak, internis yang menangani Lia, sebentar lagi datang!"
"Abang Todjo itu sepupuku, Mbang! Bapaknya bang Todjo adalah abang sepupu kandung bapakku!"
Maraden menjelaskan identitas internis yang menangani Natalia.
"Saya nanti mau bicara dengan abang Todjo, Mbang!"
Bambang mengangguk kepada Koes Andrina.
"Kau tidak bilang kalau calon istrimu boru Simanjuntak ke bang Todjo?"
"Belum sempat, Bang! Semalam, Aku panik sekali, Bang!"
"Kenapa tidak kau bilang, Mbang? Biar Natalia lebih cepat ditangani!"
"Oala, si papa! Tanpa dibilang hubungan saudara pun, pasti bang Todjo akan mendahulukan Natalia. Natalia putrinya Pangkostrad! Tentu saja dia mendapat keistimewaan."
__ADS_1
Koes Andrina tersenyum geli dalam hati melihat gaya suaminya tercinta. Maraden terkadang suka menyombongkan anggota keluarganya yang kaya raya dan berpangkat tinggi. Meskipun begitu, suaminya selalu tanpa pamrih membantu anggota keluarganya yang dari golongan menengah ke bawah tanpa diketahui keluarga lain. Hal ini menambah kekaguman Koes Andrina terhadap suaminya.
Dokter Todjo Simanjuntak akhirnya bertemu dengan adik sepupunya. Dia kaget campur senang. Mereka berangkulan cukup lama.
"Amanggoi, Arvida boru nauli hita i, Den. Boasa gabe olo ibana tu bawa na tua? Nunga ama-ama muse! Dang adong tentara na hum poso sian ibana?"
("Mengapa putri cantik kita si Arvida mau ke duda tua? Apa sudah habis stok tentara muda di Indonesia ini?")
Todjo dan Maraden gencar menggosipkan Bambang di hadapan Bambang menggunakan bahasa Batak. Bambang salah tingkah. Dia tidak mengerti bahasa Batak, namun dia merasa menjadi topik perbincangan kedua sepupu tersebut. Tidak lama kemudian, hasil-hasil tes Natalia mulai berdatangan. Kedua internis tersebut memulai diskusi. Melihat setiap zat asing di darah Natalia, mereka berdua menyimpulkan kalau Natalia keracunan zat Bisacodyl dalam jumlah sangat banyak. Koes Andrina bingung. Jika kandungan zat laksatif itu tertimbun banyak di ginjal, hati, dan darah Natalia maka Natalia bukan keracunan tanpa sengaja.
"Seperti ada unsur kesengajaan, Drin!"
"Iya, Bang. Natalia seperti ditarget!"
Pernyataan Todjo disetujui adik iparnya. Todjo dan Koes Andrina menyampaikan kesimpulan mereka. Bambang terbeliak sementara Maraden tertegun.
"Jadi, Lia positif keracunan, tapi prediksi dokter Todjo dan Kak Andrina adalah kemungkinan Lia diracun?!"
"Iya, Bambang. Kandungan zat Bisacodyl dalam tubuh Natalia terlalu banyak! Kalau keracunan tidak sengaja karena makanan, tidak mungkin jumlahnya banyak. Lagipula, tidak mungkin keracunan zat laksatif dari makanan! Harus ada yang menvampurkannya."
"Sabar, Bambang! Kita lebih jaga Lia sambil cari tahu yang sebenarnya terjadi."
Maraden berusaha menenangkan Bambang.
Bambang memberitahu semua orang tentang kondisi Natalia. Tidak ada yang tidak terkejut. Achmad tampak paling terpukul.
"Jadi, Lia kemungkinan telah diracun? Siapa yang tega meracuni Lia?"
Achmad refleks meninju dinding membuat semua orang kaget.
"Ssa ... Ssaya mohon maaf! Tangan Saya tidak sengaja terantuk ke dinding. Saya tadi agak mengantuk. Saya mohon maaf, Jenderal!"
Bambang menatap Achmad. Dia sedang mengira-ngira apakah Achmad berhubungan dengan keracunan yang dialami Natalia.
"Kamu ikut Saya dulu ke kantor baru balik ke sini untuk istirahat sambil jaga Mbak Lia, Mad!"
__ADS_1
Bambang menyuruh Achmad ikut ke kantor karena petugas CCTV akan datang menurut Peter. Hati kecil Bambang mengatakan jika Achmad bersih dari tuduhan sebagai pelaku apabila Natalia benar diracun. Walaupun demikian, Bambang tetap waspada.
"Aku harus ekstra berhati-hati karena prediksi hati kecil manusia tidak selalu benar. Tolong, jangan pernah hancurkan kepercayaan penuhku kepadamu, Mad!"
Koes Andrina berangkat ke RSCM. Bambang mengajak Maraden ke kantornya. Akhirnya, tinggal Peter dan bik Ninis yang menjaga Natalia. Dua orang petugas CCTV datang. Tedjo yang diminta datang oleh Peter sudah hadir. Peter cukup memercayai Tedjo, abang istrinya. Mereka mengawasi saksama kedua petugas itu sembari menjaga Natalia yang diurus Bik Ninis. Achmad tidak tenang di kantor. Pukul 11.00 pagi, Achmad memutuskan ke rumah sakit. Bambang menyetujui karena Peter memberitahu jika CCTV sudah terpasang. Dia menyuruh Achmad untuk menyampaikan ke Farid agar datang ke kantor. Setibanya di rumah sakit, Achmad menggantikan tugas menjaga Natalia. Peter mengajak Farid dan bik Ninis makan dulu di luar. Tinggallah Achmad bersama Natalia. Achmad mencium kening, kedua pipi, dan bibir Natalia. Dia menangis menyaksikan keadaan Natalia.
KAMUS
Brigjen
Brigadir Jenderal. Perwira tinggi AD berbintang satu.
Bisacodyl
Zat pencahar yang dijual bebas dalam bentuk obat pelancar BAB dengan berbagai merek dagang.
Laksatif
Zat pencahar. Pelancar BAB.
__ADS_1