CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
CINTA BERTABIR KELABU (2)


__ADS_3

"Lia, Papa pikir kamu sudah tidur," sapa Bambang dari teras.


Natalia mendatangi Bambang.


"Belum, Papa! Lia harus antar Rocco ke kamar opanya dulu. Iya, kan, Rocco?"


Rocco mengeluarkan gumaman seakan ingin menanggapi pertanyaan tuannya. Bambang tertawa. Dia memanggil Rocco. Rocco mendatangi Bambang lalu duduk di sampingnya. Natalia duduk dekat Rocco. Bambang mengelus kepala Rocco. Merasa tenang dengan perlakuan Bambang, Rocco langsung tidur meringkuk.


"Lia, bagaimana pekerjaanmu?"


"Lancar, Pa. Lia nyaman soalnya deskripsi tugas-tugas Lia sesuai dengan jurusan Lia."


"Baguslah. Kamu tidak ada rencana lanjutkan pendidikanmu?"


"Ada, kok, Pa. Lia minat daftar seleksi beasiswa LPDP. Lia rencana melamar ke uiversitas di Amerika saja. Columbia University School of Law."


"Terus bagaimana hasilnya?"


"Kan, pendaftarannya baru dibuka Mei, Papa. Kalau Lia lulus seleksi administratif, nah, Lia lanjut jalani sesi wawancara."


"Dan jika kamu lulus?"


"Saatnya Lia terpaksa tinggalin Papa karena harus kuliah terpisah dari Papa lagi."


"Mudah-mudahan kamu lolos. Tapi, kalaupun kamu gagal, kamu tetap bisa kuliah kemana pun yang kamu mau, Lia."


"Ya, Papa. Lia tahu itu. Cuma, Lia butuh kelulusan ini untuk nama baik Lia. Lagipula, reputasi Papa tambah naik kalau anak perempuannya lanjut master dengan beasiswa LPDP yang Lia raih secara jujur!"


Bambang tertawa. Cara Natalia persis seperti Madelaine, mamanya.


"But, before it happens, I must see you reaching for your own happiness. How is your relationship with kak Arvida, Pa?"

__ADS_1


"I have prepared for the plan. I will propose then marry her soon! Actually, I meant to ask Arvida to join with us today, but she told me that she was very busy!"


"Oh, I am glad to hear that, Papa!"


Natalia berdiri memeluk papanya.


"Aku akan menikahi Arvida jika hal itu meyakinkan Lia supaya mau melanjutkan sekolahnya. Kebahagiaan Lia jadi tujuan utamaku selamanya!


Natalia membangunkan Rocco. Bambang, Rocco, dan Natalia meninggalkan teras. Bambang terbatuk beberapa kali. Dia alergi debu dan udara dingin.


"I will make you Ginger milk, Papa!" kata Natalia.


Ternyata, Achmad sudah membuatkan Bambang segelas susu jahe kegemarannya.


"Terima kasih, Achmad!" ucap Bambang.


"Lia, come on! Papa will accompany you to your bedroom!" ajak Bambang.


Natalia menguap lelah.


"Mad, Aku mau tidur. Antar aku, dong!" pinta Natalia menguji.


Achmad menurut. Dia mengunci semua pintu dan jendela sebelum mengantar Natalia. Mereka sudah di depan pintu kamar tidur Natalia. Natalia mencium pipi Achmad. Achmad bertahan, tetapi dia sadar tidak ingin menghindari Natalia. Achmad dan Natalia segera terlibat permainan bibir membara. Natalia menarik Achmad masuk kamar tidurnya. Suara tertahan Natalia agar Wenny tidak terbangun berulang kali terdengar. Wenny sibuk menutupi kedua telinganya dengan bantal.


"Mas Achmad bodoh! Mas Achmad dungu! Ampun, Gusti .... Nasibku punya mas baik hati, tetapi otaknya ndak dipakai!"


Wenny seperti menunggu berabad-abad sampai Achmad dan Natalia mengakhiri kegiatan mereka. Semua terasa sunyi. Hanya terdengar bisik-bisik.


"Mad, tidur di sini, ya! Aku masih kangen sama kamu, Mad!"


"Lia, Aku yakin rasa kangenku jauh lebih besar daripada rasa kangenmu, tapi Wenny ada, Sayang!"

__ADS_1


"Malam ini saja, Mad!" rengek Natalia.


Achmad selalu berusaha memenuhi permintaan Natalia. Hanya saja, tidur sekamar bersama Natalia di saat ada Wenny bukanlah pilihan yang bijaksana. Achmad berhenti menciumi Natalia. Dia melepaskan dekapannya. Dia pergi meninggalkan Natalia. Natalia mengunci pintu lalu memutuskan mandi. Wenny menangis terisak. Dia menggigit sapu tangannya supaya isakannya tidak terdengar. Wenny merasa serba salah terhadap Natalia, Achmad, dan terutama Safira. Dia sadar jika kisah cinta segitiga telah tercipta di antara Achmad yang mencintai Natalia dan Safira yang mencintai Achmad.


"Bagaimana perasaan mbak Natalia terhadap mas Achmad sebenarnya? Adakah cinta walaupun cuma sedikit di hati mbak Natalia buat mas Achmad?"


"Selamat pagi, Mbak Lia. Sarapan dulu, yuk!"


Wenny memutuskan ingin mengenal Natalia lebih baik.


"Selamat pagi, Wenny. Aku masih mengantuk. Kamu duluan. Tolong beritahu Papa!"


Wenny mengiyakan permintaan Natalia.


Wenny membuka pintu kamar tidur. Dia terkejut melihat Rocco duduk manis di depan pintu. Wenny berjalan hati-hati karena menghindari dirinya tersentuh Rocco.


"Mau ketemu mamamu, Rocco? Tuh, masih tidur! Bangunin terus ajak sarapan, gih!" suruh Wenny kepada Rocco.


Wenny berjalan menuju ruang makan sementara Rocco menghampiri mama Natalianya. Dia menjilat wajah Natalia. Natalia menjerit terkejut. Melihat Rocco menjulurkan lidah, Natalia menaikkan selimut menutupi wajah. Rocco semakin gencar mengganggu tidur mamanya.


"Rocco, I am still being sleepy. I need to sleep longer. Please, leave me now, Rocco! Ask your opa to feed you!"


Rocco tidak peduli. Dia malah tidur menelungkup di depan perut Natalia.


"Lia, bangun dong, Sayang! Bapak panggil!"


Natalia membuka selimut dan menatap kesal Achmad.


"Papa mau apa, Mad?"


"Aku tidak tahu! Bangun sekarang, Lia! Empat menu favoritmu sudah dibuat. Nanti, kopinya dingin."

__ADS_1


__ADS_2