
Natalia bersantai menikmati sarapan favoritnya di Sabtu pagi. Sepiring nasi goreng sosis, setangkup roti bakar berselai campuran coklat dan kacang yang ditaburi parutan keju, secangkir kopi susu panas, dan segelas jus stroberi. Empat menu sarapan untuknya setiap Sabtu dan Minggu. Bambang sudah mandi. Dia ikut bergabung menikmati sarapannya yang terdiri dari sayuran, ikan kukus, dan segelas susu rendah lemak berkalsium tinggi.
"Lia, when will you start to live healthily? You always consume fastfood, fatfood, and high cafein. Besides, you are lazy to exercise and you often sleep late every night!"
"Lia promise! I am going to do Papa's every good advice and ease my every bad habit! It will be started tomorrow, Pa!"
Natalia menunjukkan dua jari kanan tanda bersumpah menanggapi protes papanya. Bambang mengalihkan pandangannya sambil menyuapkan makanan ke mulut.
Natalia melirik papanya lalu memulai percakapan dengan sangat berhati-hati.
"Pa, Lia heard that kak Arvida phoned you last night. Kak Arvida asked to meet with Papa, but Papa refused it. What is wrong , Pa? Seems, both of your relalationship has started to be worse. Is there any big problems to appear between Papa and kak Arvida?"
Bambang tertawa sumbang.
"Who told you that, Lia?"
"I told me, Papa!"
Bambang hampir menyemburkan makanannya mendengar jawaban konyol Natalia.
"Our relationship is fine so far. Last night I refused her request because I was still having fever, Lia."
"Okay. Lia just don't want to find out any troubles between Papa and kak Arvida. I like her! She is the only one whom I allow to get close to you, Papa. Lia trust on her very much! She is a good woman! She is the most suitable woman for Papa will be wife!"
"Hmmm ...!"
Natalia tidak menyukai tanggapan singkat papanya. Sesuatu disembunyikan papanya, tetapi dia memutuskan tidak membahas.
"Pa, kita ajak kak Arvida jalan, yuk, hari ini. Papa temani kami berdua berbelanja."
Bambang malas menyetujui permintaan putrinya, namun akan timbul kecurigaan Natalia kalau dia menolak.
__ADS_1
Bambang, Arvida, dan Natalia mengunjungi Lotte Mall di jalan Prof. DR. Satrio. Arvida dan Natalia memasuki hampir semua gerai perlengkapan wanita mulai dari tas, sepatu hingga baju, namun tidak ada satu pun barang dibeli mereka.
"Apa Arvina seperti Arvida kalau tengah belanja?"
Bambang terbayang wajah Arvina.
"Pa, let us go! We did not find any interesting stuffs!"
Natalia membuyarkan konsentrasi Bambang.
"Mas Bambang, are you still sick?"
"No, I am not, Vid. I stared at nothing."
Bambang takut membohongi Arvida dengan mengatakan dirinya sakit sebab Natalia terus mengamati setiap gerakannya.
"Let us have lunch. It is 12 now!"
"Mad, tadi Bibik ketemu ini waktu rapiin tempat tidur Bapak."
Bik Minah menyerahkan sebuah anting berlian kepada Achmad lalu meninggalkannya. Achmad memandangi anting itu. Mendadak wajahnya berubah. Dia mendatangi Bibik Minah ke dapur.
"Bik, soal anting berlian ini tolong jangan diberitahu ke siapa pun termasuk Bapak. Saya yang akan melakukannya."
Bik Minah menyetujui permintaan Achmad.
Arvina tersadar jika anting berliannya di kuping kiri hilang. Dia mencopot antingnya di kuping kanan. Dia mengingat-ingat di mana anting itu mungkin terjatuh. Sepasang anting berlian itu dibelikan Hans untuk dikenakannya saat acara Martuppol. Arvina sedih membayangkan jika anting itu tidak ditemukan. Tangisan Havi mengagetkannya. Dia mendatangi Havi yang sedang dibujuk menghabiskan susu oleh pengasuhnya.
Rumah Bambang diramaikan ocehan Arvida dan Natalia. Bambang berada di kamar tidurnya menunggu balasan pesan dari Arvina. Gejolak kemarahan karena dua jam menanti tanpa ada balasan Arvina memacunya ingin berada dekat Arvida, tetapi Bambang sungkan dan Natalia memahaminya.
"Kak Arvida, I need to meet with my friend! She suddenly had time as she told me."
__ADS_1
Natalia beralasan ke Arvida. Dia mengetuk pintu kamar tidur papanya dan mengatakan hal yang sama.
Arvida yang merindukan Bambang dan Bambang yang mendamba Arvina membawa mereka menjalani kebersamaan. Bambang dan Natalia meminta Arvida menginap. Secercah harapan manis tumbuh di hati Natalia untuk hubungan papanya dan Arvida.
Natalia tetap mendengkur walaupun terus dibangunkan Arvida. Bambang mendatangi kamar tidur Natalia lalu menimbulkan sedikit keributan supaya putrinya yang nakal itu terbangun. Natalia terpaksa membuka mata.
"Pa, permit me to skip off CFD this morning only, please! I am still sleepy."
Setiap Minggu pagi, pertengkaran kecil terjadi karena Bambang mewajibkan Natalia ikut olahraga. Saat ini, Bambang tengah malas berdebat. Dia langsung mengajak Arvida pergi. Natalia bernapas lega. Dia bisa lanjut tidur.
Arvida dan Bambang ditemani tiga ajudan Bambang yaitu Achmad, Farid, dan Peter, duduk di trotoar selesai lari. Ponsel Arvida berbunyi. Ada panggilan dari Arvina.
"Yes, Vin?"
....
"I do not know, Babe. But, I will ask Roni to look for it. Perhaps, it fell down in my car!"
....
"Yes, Vin. Bye!"
Jantung Bambang berdegup kencang mendengar nama Arvina disebut.
"What happened, Vid?"
"Arvina lost her left earring. She just realized it last morning."
"How is the model?"
"It is a diamond one, but I forgot to ask how the model was."
__ADS_1
Achmad yang sedang minum terbatuk-batuk. Wajahnya merah padam karena penjelasan Arvida tentang anting berlian Arvina sebelah kiri yang hilang membuat air minum masuk hidungnya. Achmad mencuri pandang wajah atasannya.