CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
PENGACARA BEROTAK


__ADS_3

Bambang mencium puncak kepala Natalia dan Arvida.


"Mas, I will explain it later. We are still working."


"It is fine, Vid. Lia has explained some!"


"Thank you, Mas. By the way, this is Papa Maruap."


Arvida mengenalkan Maruap kepada Bambang. Maruap menghormat Bambang yang dibalas tepukan Bambang di pundaknya. Bambang mempersilakan Maruap kembali bekerja. Achmad mendampingi Bambang sambil memantau Natalia. Bagaimanapun, Natalia belum melewati masa kritis walaupun kondisi fisiknya bagus. Achmad meminta ijin bicara kepada Bambang. Dia mempermasalahkan keadaan Natalia. Bambang berdiri menuju Natalia diikuti Achmad.


"Lia, if you are not feeling well enough, let me do the rest."


Bambang tidak ingin kondisi Natalia memburuk, namun dia juga tidak enak terhadap Arvida. Dia tidak mau Arvida naik pitam lalu memusuhinya lagi. Arvida mulai mengambil sedikit tempat di hati Bambang seperti dulu.


"It is fine, Papa. If I am not feeling well, I will be stopping directly!"


Natalia menenangkan papanya. Tanpa sadar, Natalia mencubit perut Achmad.


"Tukang ngadu!"


Achmad meringis kesakitan. Bambang gusar melihat sikap Natalia.


"Lia, kenapa kamu cubit perut Achmad? Hormati Achmad! Dia jauh lebih tua dari kamu!"


Natalia segera memohon maaf kepada Achmad dan papanya. Bambang takut kalau setiap orang akan mengetahui hubungan cinta gelap putrinya dengan ajudannya. Meskipun menyukai Achmad, tetapi Bambang tidak pernah terpikir untuk menikahkan putri tunggalnya dengan pria yang tidak sesuai kata hatinya.


"Papa, you should go home now. This condition is full of risks. What if KPK officers come here?"


"l do not care about that, princess!"


"You are right, Lia. Even papa Maruap will get in to trouble, too if Bang Hans is proven guilty!"


"Luckily, so far, bang Hans looks like a good person. I and Maruap finished our recheck and we did not find any weird informations in all of the documents. But, are they truly the whole ones?"


Arvida menganggukkan kepala. Dia sudah bertanya kepada Arvina dan Arvina yakin semua dokumen Hans sudah dimasukkan ke dua koper tersebut.


"Bang, lawyer si Hans datang!"


"Oh, ya? Berapa orang? Siapa?"


"Cuma berdua dengan asisten. 'The ecek-ecek lawyer', Bang."


Seorang petugas KPK menyerahkan kartu nama pengacara yang mewakili Hans.

__ADS_1


"Rico Hutajulu??? Alah, siapa itu orang??? Kalian yang uruslah. Aku lebih pilih mengintimidasi si Hans!"


"Tapi, dia bilang si Hans tidak bisa ditangkap tanpa surat penangkapan resmi dan dia bertanya apa hubungan penangkapannya dengan si Haris karena si Hans ditangkap di BPK bukan di kelab!"


"Wah, nyusahin, tuh, anak ayam."


Christian Fernando mendatangi Rico Hutajulu dengan emosi.


"Ada yang bisa dibantu, Pengacara Rico Hutajulu?"


"Ada, Petugas KPK Christian Fernando!


Christian Fernando mengumpat dalam hati mendengar jawaban Rico.


"Silakan duduk dan bicara!"


"Terima kasih"


Rico Hutajulu duduk.


"Bapak Christian Fernando, Saya, Rico Jansen Hutajulu, pengacara yang mewakili Hans Hatorangan Hutagaol, meminta client Saya dibebaskan karena tanpa surat penangkapan resmi yang kalian tunjukkan saat menangkap Hans di ruangan kerjanya!"


"Alah .... Tidak usah banyak bicara, kawan. Surat penangkapan resmiii .... Kalau penjahat, ya, penjahatlah! Tidak usah sok menuntut surat perintah penangkapan resmi!"


Rico Hutajulu bergeming mendengar tekanan Christian Fernando.


Christian Fernando mengejek.


"Lepaskan klien Saya, Hans Hatorangan Hutagaol. Kami memiliki bukti CCTV di ruang kerja yang menunjukkan kearoganan para petugas KPK saat menangkap klien kami."


"Hahaha .... CCTV manajemen gedung BPK?"


Christian Fernando masih bersikap melecehkan.


"CCTV yang dipasang khusus oleh Hans Hatorangan Hutagaol dan dipantau langsung bukan oleh manajemen gedung BPK."


Salah satu anak buah Christian Fernando bergegas hendak masuk.


"Tidak dipantau dari ponsel Hans Hatorangan Hutagaol, Bro!"


Ucapan Rico memberhentikan langkah si anak buah. Dia kembali berdiri dekat Christian Fernando. Tindakannya seakan membuktikan tebakan Rico benar bahwa si anak buah ingin memeriksa ponsel Hans.


"Mau bawa ke polisi, he?"

__ADS_1


"Kalau klien Saya tidak dilepaskan!"


"Hahaha ...!"


"Tidak seluruh polisi rekanmu dan tidak seluruh polisi musuhmu, Pak Christian! Pasti ada beberapa polisi yang tidak membencimu, namun menolak berteman denganmu. Dalam organisasi apa pun, selalu tercipta grup A, grup B, dan grup C. Grup A dan Grup B saling bantai, namun grup C menolak terlibat karena bisa jadi di lain waktu, grup A dan grup B malah berpelukan!"


"Menurutmu, Saya di grup apa dalam suatu organisasi?"


"Bisa di grup A, B atau C. Sesuai kepentingan! Hanya Anda yang tahu pasti di grup mana Anda memilih berada! Tapi, Saya yakin jika Anda tidak akan pernah diterima di grup C, meskipun Anda memilih bergabung dengan grup C!"


Hans Hatorangan Hutagaol terpaksa dilepaskan KPK. Hans dalam keadaan baik dan tidak menandatangani surat-surat yang disodorkan Christian Fernando. Para petugas KPK yang bersiap di sekitar rumah Maraden terpaksa pulang. Ponsel Indah berbunyi. Nomor pengasuh Havi tertera. Indah menjawab untuk meyakinkan dulu. Mendengar suara Arvina, Indah memberikan kepada Arvida.


"Arvina, Mas!"


Arvida memberitahu Bambang siapa yang menelepon. Dia merasa lega karena sudah tenang menghadapi kenyataan jika Bambang mencintai sepupunya. Dia tadi sengaja menyebut nama Arvina kepada Bambang untuk mengukur seberapa mampu dirinya menahan kecemburuan saat melihat reaksi Bambang yang mendengar nama Arvina disebut.


"Thank you dear Lord! Bang Hans is on the way to amanguda's home!"


"Then, bang Rico?"


"Bang Haris hired him as his new lawyer. He is still with bang Haris in KPK. Bang Hans is being delivered by the lawyer's two friends!"


"Kak, rumah bang Hans dimasuki KPK diam-diam!"


"Hah??? Tapi, yang ada cuma dua pembantu kak Arvina, kan? Wuih, ceroboh habis! Sudah terlalu besar kepala jadi bergerak serampangan tidak terkendali! Benaran bakal 'dimakan' habis sama bang Rico!"


Natalia berkata takjub. Arvida memicingkan mata lalu menelepon. Dia menyuruh seorang reporter bersama kameramen mendatangi rumah Arvina.


"Tidak apa-apa kamu bilang kalau pemilik rumah itu sepupu Aku. Tapi, rekaman dikasih ke Aku! Aku sekarang ke kantor!"


"Arvida, Aku melarang kamu ke kantor!"


"Sepupu Aku lagi kena musibah!"


Arvida menutup mulut. Dia baru saja membentak Bambang. Natalia menatap papanya dan Arvida.


"Papa dan Achmad temani kak Arvida dan Indah ke kantor sekarang!"


Bambang dan Achmad mengangguk.


"Maruap pulang, deh!"


"Aku pulang besok pagi! Aku di sini sama bang Farid jaga kak Lia. Aku dengar kasus kak Lia. Karena bang Achmad pergi, Aku gantinya!"

__ADS_1


"Oh, so sweet ...."


Achmad menekuk wajah. Farid senyum-senyum mendengar pujian Natalia dan melihat wajah manis Indah.


__ADS_2