CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
KONFLIK CINTA YANG RUMIT (1)


__ADS_3

Natalia merasa segar setelah makan dan mandi. Dia meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Sepuluh menit sesudahnya, Natalia membukakan pintu buat Achmad. Natalia menggandeng Achmad masuk lalu mengunci pintu. Natalia melingkarkan kedua tangannya di leher Achmad.


"Sudah enakan, Lia?"


Natalia mengangguk. Achmad menatap Natalia. Dia mengalihkan matanya dari bibir Natalia. Achmad baru menyadari jika Safira jauh lebih cantik daripada Natalia, tetapi otak dan bibir Natalia merupakan dua milik Natalia yang sangat dipujanya. Bahkan, Safira tidak mampu mengungguli. Keegoisannya sebagai lelaki menggiring dia ingin memiliki Safira dan Natalia.


"Terus, kenapa panggil Aku?"


"Mad, kita tidak bisa berteman baik? Aku ingin berbaikan sama kamu!"


"Maaf, tidak akan terjadi, Lia! Nanti, Safira salah sangka! Aku berencana berhenti jadi ajudan papa kamu setelah menikah."


Wajah Natalia kecewa. Dia melepaskan tangannya dari leher Achmad. Dia berjalan ke tempat tidur kemudian duduk. Achmad berlutut di hadapan Natalia.


"Lia, pertemanan murni antara pria dan wanita jarang bertahan. Pertemanan lawan jenis biasanya berubah jadi perselingkuhan di luar mereka saling mencintai atau tidak. Kecuali ...."


"Kecuali apa, Mad?"


Achmad hendak melanjutkan pembicaraan, namun dia memutuskan berhenti.


"Aku harus keluar!"


"Mad, jangan balas dendam ke Aku! Mumpung papa tidak ada, Aku minta kita bicara baik-baik!"


Achmad menatap Natalia mengejek.


"Kok, kamu kerepotan ingin kita bicara??? Aku cuma pacar gelap kamu. Jadi, Aku tidak ada artinya untuk kamu! Banyak cowok lain yang melebihi Aku pasti bersedia jadi pacar kamu!"


Achmad menyerang Natalia habis-habisan. Dia menikmati perubahan wajah Natalia. Rona kekalahan terpancar. Natalia menunduk lalu berbicara perlahan.

__ADS_1


"Memang mudah bagi Aku mencari pacar, tapi kamu harus ingat kalau Aku putri dari jenderal yang memegang jabatan. Bayangkan kalau pacar gelap Aku berlidah lemes! Mengumumkan ke publik tentang affair kami, bagaimana perasaan papa Aku? Kalau ajudan papa ada yang ganteng, mendingan dia saja Aku jadikan pacar gelap karena itu pilihan teraman, Achmad sayang."


Natalia membelai hidung Achmad. Dia suka sekali mengagumi tulang tinggi hidungnya yang sempurna.


"Kalau Aku bocorkan ke publik?"


"Silakan!!!"


"Kamu tidak takut, Lia?"


"Aku takut! Aku pasti malu!"


Achmad menunggu lanjutan kalimat Natalia.


"Tapiii ... kalau kamu bocorkan ke publik, kamu mungkin kehilangan cinta Safira!!! Safira kamu yang cantik! Safira kamu yang putih! Safira kamu yang penurut! Kamu rela menghancurkan masa depan bersama Safira sempurnanya kamu dengan melakukan satu perbuatan bodoh???"


Natalia tersenyum dengan garis bibir menaik melihat Achmad berdiri. Achmad sungguh membenci Natalia. Dia bersumpah tidak akan sudi berurusan dengan Natalia. Kegetiran menguasai Achmad. Perasaan sakit hati dan terhina memenuhi ruang hatinya. Achmad hendak melangkah pergi, tetapi Natalia meraih tangannya.


Achmad menghempaskan tangan Natalia.


"Aku selalu memanjakan kamu, Lia! Apa pun permintaan kamu, Aku lakukan selama Aku bisa! Aku selalu jaga kamu! Tapi, kamu tidak pernah hargai Aku! Kamu malah obrak-abrik hatiku! Kamu bikin Aku seperti eksperimen sa--"


"Eksperimen sa apa, Mad?"


Achmad duduk di samping Natalia. Sambil menggigiti kuku jari, Natalia melirik Achmad.


"Achmad menunjukkan emosi! Sesuatu yang tidak pernah terjadi selama ini."


"Aku selalu bilang ke kamu jangan gigiti kuku kalau sedang berpikir! Orang lain bakal anggap kamu aneh, Lia!"

__ADS_1


Achmad menarik tiga jari Natalia lalu melap ketiga jari Natalia ke kausnya.


"Aku mau tanya sesuatu, Lia."


"Apa?"


Natalia tanpa sadar akan memasukkan kembali ketiga jarinya ke mulut dan Achmad sigap menggenggam tangannya.


"Anak siapa yang kamu temui sama Carlos waktu itu?"


"Ibunya anak itu mantan pasien Carlos waktu dia koas di bagian kulit dan kelamin. Ibunya sekarang TKI di Hongkong. Ibunya anak itu ketular penyakit Spilis dari mantan suaminya. Anak itu dibawa neneknya waktu ibunya dua hari pertama dirawat di Hasan Sadikin. Carlos suka anak itu karena dia tidak rewel meskipun neneknya sibuk layani ibunya. Untung, bibiknya anak itu jemput dia untuk diurus selama ibunya dirawat dan si nenek urus ibunya!"


Hati Achmad lega mengetahui anak itu bukan anak Natalia. Achmad memegang perut Natalia lalu mengelusnya mesra.


"Benar sudah enak perut kamu, Lia? Apa kita periksa ke dokter?"


"Hah??? Perut Aku nggak kenapa, Mad. Aku cuma masuk angin beberapa hari ini! Aku tahan. Tapi, mulai kemarin kondisi Aku tambah tidak kuat!"


Bambang menelepon Arvida, tetapi Arvida mendiamkan. Arvida masih syok dengan pemandangan menyakitkan yang disaksikannya waktu itu. Bambang memeluk Arvina. Merasa penasaran, Arvida mengendap-endap mendekati demi menguping pembicaraan mereka. Penglihatan Arvida memburam mendengar kenyataan. Dengan sisa kekuatannya, Arvida secepat kilat kembali ke dalam sewaktu Arvina akan masuk pula. Sepanjang malam itu Arvida terus berdoa memohon kebaikan Tuhan agar membantu dia tidak gelap mata sehingga melakukan perbuatan yang merugikan dia dan keluarganya. Apa pun yang terjadi, Arvida selalu mencintai amangudanya, inangudanya, Arvina, Havi, dan Hans. Dia yakin kalau perselingkuhan Arvina dan Bambang terjadi bukan karena inisiatif Arvina.


"Bantu Saya, ya, Bapak, untuk tetap berpikir jernih supaya Saya tidak mempermalukan bahkan mencelakakan diri sendiri dan semua orang yang Saya sayangi ...."


Bambang tidak berhenti menelepon Arvida. Kalau Bambang di hadapannya sekarang, Arvida pasti menancapkan pisau tertajam ke ulu hatinya.


"Pria sialan! Sudah diam-diam menyukai sepupu Aku, tapi masih bernyali dekati Aku!"


Lima pesan dari Bambang dibaca Arvida. Arvida telah menghapus nama Bambang dari kontak WhatsApp. Dia menset last seen hanya berlaku untuk kontak walaupun profilnya tetap bisa dilihat umum. Bambang bertanya apakah Arvida bersedia mendampingi dia di ulang tahun Kostrad di markas Kostrad di kawasan Gambir.


"Tentu saja Aku bersedia dan amanguda serta inanguda Aku juga mau! Kalau tentang kemunculan ke publik, Aku tidak akan menolak, Bambang!!! Aku penggemar publisitas pencitraan gratis. Aku jawab besok sajalah!"

__ADS_1


Arvida malah asyik bergosip membahas William dengan Arvina.


__ADS_2