CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
KEGILAAN SAFIRA


__ADS_3

Teman wanita Farid menghardik Farid. Indah terkejut lalu mendorong Farid. Wanita itu mendatangi Farid kemudian menamparnya. Indah berpura-pura tidak melihat. Dia berterima kasih atas pertolongan Farid, namun dia tidak suka mencampuri pertengkaran sepasang kekasih. Indah segera meletakkan sisa belanjaannya di bagasi setelah itu dia masuk mobil. Dia menjalankan mobil sambil mengamati Farid dari kaca spion. Wanita yang menampar Farid juga masuk mobilnya dan meninggalkan Farid. Dia seperti sengaja ingin menabrak Farid yang sigap menghindar. Ketika berpapasan dengan Indah, wanita itu mengacungkan jari tengah. Indah menghentikan mobilnya. Dia turun dari mobil.


"Mas Farid, Aku antar!"


Farid tersenyum, tetapi membalikkan tubuh masuk kembali ke hipermarket. Indah mengejar Farid. Ketika tepat di belakang Farid, dia memegang pergelangan tangan Farid yang membuat Farid menoleh. Farid dan Indah saling menatap beberapa detik. Dengan tenang, Farid melepaskan tangan Indah lalu menggandengnya. Farid terus menggenggam tangan Indah sampai mereka sudah dalam mobil. Farid mengantar Indah ke apartemen Arvida. Tadinya, Indah memaksa mengantar Farid ke rumah Bambang, namun Farid menolak.


"Aku pulang naik ojek online nanti, Ndah!"


Sepanjang perjalanan, Indah bercerita tentang dirinya.


Safira menuangkan air minum ke gelas. Dia membawa gelas itu ke hadapan Wenny. Safira mendekatkannya ke mulut Wenny, tetapi Wenny menolaknya.


"Minum, Wen! Meskipun kamu sedang disandera, kamu harus hidup. Kan, kamu selalu bilang begitu. Ingat! Dehidrasi merupakan salah satu penyebab kematian."


Safira tertawa menutup mulut.


"Aku lupa, Wen!"


Safira membuka kain penutup mulut Wenny. Safira menampar mulut Wenny yang hendak berteriak. Wenny terdiam. Dia memutuskan tidak melawan. Safira menyodorkan gelas itu lagi ke mulut Wenny. Kali ini, Wenny menurut. Saat air menyentuh bibir Wenny, Safira menarik gelas itu. Safira menertawakan Wenny yang gelagapan.


"Enak saja kamu minum! Seandainya kamu tidak menjahati Aku, pasti kamu tidak akan Aku masukkan ke daftar orang-orang yang harus Aku hukum karena tega mengkhianati Aku!"


Wenny terisak. Dia tidak menyangka kalau dia mudah terjebak rencana Safira. Padahal, dia sudah berhati-hati selama dua bulan ini. Dia menyesali kecerobohannya yang tidak mengindahkan kecurigaan awalnya. Wenny berpikir keras mencari cara membebaskan diri, tetapi sepertinya pikirannya buntu. Wenny sangat haus. Matanya berkunang-kunang.


"Mbak, Aku mohon beri Aku minum. Aku lemas, Mbak!"


Safira tersenyum tulus. Dia mengangguk, menyiramkan air minum itu ke dinding lalu meludah ke lantai.


"Jilat ludah Aku kalau mau, Wen!"


Safira kembali memasangkan kain penyekap mulut Wenny. Setelah itu, dia berdiri dan berjalan keluar. Safira terbayang wajah Natalia.

__ADS_1


"Wen, sebentar lagi kamu bertemu calon kakak ipar kebanggaan kamu yang bagian intimnya sudah diobral kemana-mana!"


Ucapan Safira membelalakkan mata Wenny.


"Mbak Safira mau menyakiti Aku dan mbak Lia! Bagaimana caranya Aku memberi tahu mbak Lia?"


"Tidak usah berlagak detektif, Wenny. Kamu dan wanita hina itu pasti Aku habisi. Kamu saja terjebak apalagi Natalia!"


Wenny tidak mengira jika selama ini mereka berhubungan dengan wanita yang terganggu kesehatan mentalnya. Penampilan luar Safira sukses membodohi semua orang.


Safira mengirimkan pesan Whatsapp untuk Natalia dari ponsel Wenny. Beberapa menit kemudian, Natalia membalas. Safira merespon balasan Natalia. Safira dan Natalia bercakap-cakap online. Natalia tidak menyangka bahwa dia berbincang dengan Safira karena Safira mengikuti gaya pesan Wenny. Safira teliti mempersiapkan "peralatan memancingnya". Natalia tengah berdiri di tepi jurang kehancuran. Peluang selamat Wenny kian mengecil karena tinggal sedikit langkah lagi, Safira bakal sukses menggiring Natalia ke ladang eksekusi.


"Jadi, Mbak Lia bisa temui Aku di Depok?"


"Kompleks Telaga Mas, Pancoran Mas."


"Aku lagi menginap di rumah teman, Mbak."


"Iya, Mbak. Setingkat Aku."


"Okay, Wen."


Safira bersenandung bahagia. Tingkat kesadaran Wenny kian menurun.


Hari sudah sore. Safira mengintip keluar. Suasana tampak sepi. Kompleks perumahan itu masih baru. Walaupun sebagian besar rumah sudah banyak berstatus berpemilik, tetapi masih tanpa penghuni. Setahu Safira, kebanyakan pemilik termasuk mendiang Safina, membeli untuk investasi. Safira menghampiri Wenny. Dia meraba kening Wenny. Agak panas.


"Aku memang hebat. Aku hampir membunuh Lia. Wenny bahkan Aku sekap. Aku mampu mempecundangi orang lain. Tapi ... tapi ... tapi mengapa Aku tidak bisa membodohi pak lik Sukmo saat akan melecehkan Aku dulu. Mengapa???"


Safira membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Dia merasa pusing, namun dia senang karena dapat menyingkirkan bayangan masa lalunya yang menyakitkan. Wenny terdengar mengigau sebentar.


"Mad, Aku besok janjian ketemu Wenny."

__ADS_1


"Aku tidak diajak?"


"Kamu mau ikut? Okay. Lagipula kalau kamu ikut, papa pasti setuju karena ada yang jaga Aku."


Achmad tentu senang dapat pergi dengan Natalia dan Wenny. Natalia kembali mengirim pesan ke Safira mengabari kalau Achmad ingin ikut. Balasan Safira membuat Natalia bingung.


"Mad, Wenny kayak nggak suka kamu ikut besok!"


Natalia memberikan ponselnya kepada Achmad. Achmad mengernyitkan kening sembari membaca semua percakapan Natalia dan "Wenny". Natalia mengamati Achmad yang mengirimkan pesan ke nomor Wenny. Setiap kali Achmad membaca pesan balasan dari nomor Wenny, ekspresi wajah Achmad aneh.


"Astaghfirullah! Kita tidak mengobrol dengan Wenny, tapi dengan Safira."


"Kamu telepon Maruap, Mad! Aku beritahu papa!"


Natalia meninggalkan Achmad di dapur. Tidak beberapa lama kemudian, Bambang muncul. Achmad sedang berbicara dengan Maruap di telepon. Bambang menyuruh Supardjo menelepon Farid. Bambang berpikir sejenak. Akhirnya dia memutuskan menelepon Gatot.


Tampak kesibukan di rumah Gatot. Bambang beserta ketiga ajudannya dan Maruap dengan dua temannya bertamu ke rumah Gatot. Informasi dari Gatot mengkhawatirkan setiap orang. Salah satu pistol Gatot hilang! Semua orang sepakat berpraduga jika Safira mencurinya! Achmad memikirkan keadaan Wenny. Adik perempuan satu-satunya itu dalam marabahaya. Gatot memeriksa brankas dokumen Safina. Ternyata, Safina memang mencicil rumah di kompleks Telaga Mas. Gatot menyatat alamat lengkap rumah itu. Gatot kecewa dengan perbuatan Safira. Padahal, dia sempat mengharapkan Safira menjadi istrinya.


"Aku salah menilai Bambang dan Achmad. Seandainya mereka jujur waktu itu, kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku harus patahkan lehermu, Safira. Kamu mempermalukanku. Aku memandang remeh si Bambang selama ini. Ternyata, anggota keluargaku sendiri yang malah mencoreng namaku!"


Dua mobil meninggalkan rumah Gatot. Bambang, Gatot, Farid, dan Peter di mobil pertama. Achmad, Maruap, dan kedua temannya di mobil kedua. Gatot memerintahkan ajudannya untuk mengamankan Safira jika muncul.


"Jangan biarkan Safira masuk apalagi bertemu Galuh dan Gayatri. Dia memegang pistol, Dion! Orangtua Safira juga tidak boleh masuk apalagi membawa Galuh dan Gayatri."


Safira mengamati dua buah mobil yang berhenti di rumah sederet rumah Safina berjaraknya tiga rumah. Dari mobil pertama, keluar empat orang. Dua orang menggiring dua orang yang dipakaikan penutup wajah dalam keadaan kedua tangan terikat. Mobil yang kedua hanya berisi satu orang yang keluar juga. Semua orang yang bebas berpakaian hitam-hitam. Dua orang celingak-celinguk melihat keadaan sekeliling seperti memastikan tidak ada yang memergoki sambil menjaga kedua tahanan. Seorang lagi membuka pintu. Safira tidak menghidupkan lampu agar tiada yang tahu jika ada orang di rumah.


"Jangan-jangan, rumah itu punya komplotan penjahat. Aduh, mereka menyandera orang pula! Sial! Kompleks ini memang cocok untuk lokasi kejahatan. Aku harus bersabar. Besok, semuanya akan selesai."


Achmad dan Gatot mengendap-endap. Semua jendela rumah Safina tertutup tirai. Mereka tidak dapat mengintai. Mereka tidak berani menyerbu karena kemungkinan Safira memegang pistol. Gatot melihat tirai di jendela samping nomor dua sedikit bergoyang. Gatot mencolek Achmad kemudian menggerakkan wajahnya ke arah jendela itu. Mereka menunggu. Tirai itu kembali bergoyang sedikit. Achmad menunggu untuk kali terakhir. Gatot melihat denah rumah. Tirai kembali bergoyang sedikit. Achmad merangkak ke bawah jendela itu. Gatot menunggu kode Achmad. Terdengar suara. Achmad menempelkan telinganya untuk memastikan. Suara Safira! Achmad mengode Gatot yang segera membuka pintu belakang. Gatot sudah di dapur. Suasana gelap. Achmad merangkak ke pintu belakang lalu masuk ke dapur juga. Dia membiarkan pintu belakang terbuka agar terjadi pertukaran udara supaya Safira tidak menyadari kehadiran mereka berdasarkan aroma tubuh. Suara Safira bertambah jelas. Gatot dan Achmad menyesuaikan pandangan mata mereka dalam gelap. Mereka menuju ruang makan tanpa menimbulkan suara. Ada satu pintu yang terbuka. Salah satu kamar tidur sesuai peta denah rumah. Achmad mengintai suasana dalam kamar tidur itu. Achmad mengode Gatot kalau hanya terdapat dua orang, penyandera dan sandera. Gatot berdiri dekat saklar lampu ruang makan. Achmad menerjang Safira sementara Gatot menghidupkan lampu. Safira dilumpuhkan! Gatot masuk kamar tidur. Dia menyalakan lampu kamar tidur dan menyingkapkan tirai. Farid ikut masuk ke dapur langsung menuju ruang tamu untuk menghidupkan lampu teras. Melihat rumah Safina sudah terang, Bambang dan yang lainnya yang menunggu di rumah yang Safira pikir adalah tempat kejahatan, bergegas mendatangi rumah Safina. Peter dan seorang teman Maruap membersihkan seluruh jejak di rumah yang menjadi markas sesaat mereka sebelum menutup dan mengunci pintu menggunakan alat khusus.


Gatot memeriksa nadi Wenny. Dia membopong Wenny ditemani Bambang dan teman Maruap yang lain ke rumah sakit. Maruap memborgol Safira. Achmad terpaksa memelester mulut Safira. Pembebasan Wenny berhasil dilakukan tanpa melibatkan pihak berwajib secara resmi sesuai permohonan Gatot.

__ADS_1


__ADS_2