CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
LORONG YANG KELAM


__ADS_3

Arvina mengebut pekerjaannya. Hari ini, dia berencana bekerja setengah hari sebab akan bertemu Arvida di rumah Bambang. Dia telah memberitahu Hans semalam supaya tidak perlu menjemputnya.


"Besok hari Sabtu. Jadi, Aku bisa selesaikan sisanya lebih santai di rumah."


Jarum pendek jam dinding ruangannya berhenti di angka sepuluh.


"Hello, Papa ...."


....


"Alright, Papa!"


....


"Ten minutes more? Yes, I am ready, Papa."


....


"I am going there now! I am infront of the lift now."


....


"No, Ardi does not need to wait for me. Arvida has promised to deliver me home. She wants to meet with Havi and Bang Hans."


....


"Papa, where is mama?"


....


"Okay, Papa!"


....


"Thank you, Papa! I love you sooo much. Bye!"


Mobil papanya Arvina berhenti di depan lobi gedung kantor Arvina.


"Di, kita ke Plaza Indonesia dulu!" pinta Arvina.

__ADS_1


"Oke, Mbak!"


Ardi mengarahkan mobil ke jalan M.H. Thamrin.


"Bagaimana keadaan papa dan mama, Di?"


"Baik, sih, Mbak! Tapi, bapak suka dimarahi ibu belakangan ini!"


"Papa pasti makan sembarangan lagi!"


"Iya, Mbak. Kemarin, ibu pesan spaghetti Bolognese untuk bapak dan ibu. Pas pesanan datang, bapak makan tanpa bertanya. Ternyata spaghetti bagian ibu malah dimakan bapak. Padahal, sudah ditandai di tiap kotaknya, Mbak!"


"Jadi, papa makan spaghetti Bolognese punya mama? Terus, bagaimana tekanan darah papa?"


"Naik, Mbak! Makanya, ibu ngomel terus ke bapak. Bapak diam aja! Cuma, dari pagi bapak mogok bicara ke ibu, Mbak!"


"Pantas! Aku tanya mana mama, papa tidak jawab! Yaaa, papaaa ...!"


Arvina tidak berlama-lama di Plaza Indonesia. Dia membeli kue.


"Sekarang, kita ke rumah pak Bambang, Di!"


Arvina sampai di rumah dinas Bambang. Penjaga rumah Bambang membuka gerbang sesudah mengetahui identitas tamu. Bik Yanah, asisten rumah tangga Bambang, memasukkan buah tangan Arvina ke kulkas kemudian menyiapkan sajian untuk Arvina. Arvina menunggu Arvida sambil mengerjakan sebagian tumpukan tugasnya.


"Apa itu Arvida? Kalau ya, pertemuan kami bisa selesai lebih cepat."


Terdengar langkah seseorang menuju ruang keluarga di mana Arvina duduk.


"Tapi, sepertinya bukan Arvida. Bunyi langkah sepatunya berbeda."


"Halo, Arvina!" sapa Bambang.


"Mas Bambang!?" seru Arvina heran.


"Arvida asked me to come to your house. Arvida needs to meet with me!"


Arvina gelisah berbicara dengan Bambang. Arvina sering gugup di hadapan orang yang tidak dikenalnya dekat. Bambang menatap Arvina.


"Cantik! Manis! Aku suka sekali bibir Arvina!"

__ADS_1


"I got fever, Arvina. I have not been feeling well enough since three days ago. Still, I tried to keep going to office. But, I gave up today. I could not continue to stay at office longer!"


Mata Bambang tidak beralih dari Arvina.


"Have you visited your doctor?"


Darah Arvina berdesir. Tatapan mata tajam Bambang meresahkan dirinya. Dia menunduk, melihat ke kiri, ke kanan .... Ke segala arah kecuali ke kedua mata Bambang.


"Pujaan hatiku sangat pemalu! Dia tidak seaktif dan selincah Arvida! Pantas, perjalanan cintanya hanya berakhir di pelukan Hans."


"Yes, I have. My doctor told me to take a rest for a few days. Perhaps, I will start to work again on Monday."


"What are you looking for, Arvina?"


Bambang bertanya sembari menahan senyum.


Arvina gelagapan ditanya Bambang seperti itu.


"Nothing. Why did you ask that, Mas?"


Arvina menebak kalau Bambang mengerti yang sedang dialaminya. Bambang teringat sesuatu. Dia berpura-pura sakit kepala sebab tidak ingin kemarahan Arvina meledak.


"Nanti dia memusuhiku karena merasa dipermainkan!"


Dia pernah mendengar dari Arvida bagaimana Arvina gemar memusuhi seseorang sampai bertahun-tahun jika tersinggung.


"Mas, are you fine?"


Arvina menghampiri Bambang dengan cemas. Bambang mulai nakal. Dia memegangi kepalanya. Arvina berjongkok di hadapan Bambang. Tanpa sadar, dia memegang tangan Bambang. Bambang berhati-hati supaya Arvina tidak menyadarinya sehingga dia tidak melepaskan tangan Bambang.


"I need to lay down in my bedroom. Is it fine if I leave you here, Arvina?"


"Sure. Do not worry, Mas. I am still doing my work while waiting for Arvida."


Bambang berdiri. Mendadak dia jatuh terduduk. Dia berakting cukup baik!


"Oh My Lord! Let me help you, Mas Bambang!"


Arvina membimbing Bambang ke kamar tidur. Berjuta perasaan berkecamuk di hatinya saat berdekatan dengan Arvina. Arvina membantu Bambang berbaring, tetapi Bambang tidak berniat menguasai diri lagi sekarang. Dia menarik dan merebahkan Arvina di peraduannya. Arvina hendak berteriak, namun Bambang terlalu kuat. Arvina tidak habis akal. Dia menggigit tangan Bambang sehingga Bambang terkejut lalu melepaskan Arvina. Tangannya yang digigit Arvina berdenyut nyeri. Sakit hati dan benci rasa Arvina terhadap Bambang. Bambang tidak berhak atas dirinya di hadapan Tuhan. Hanya Hans, suami sahnya, yang pantas memberinya keintiman. Arvina takut memikirkan perasaan Arvida jika mengetahui perbuatan Bambang. Arvina terisak. Dia ingin menjerit dan memukul Bambang, namun Arvina memilih meninggalkan rumah Bambang secepat mungkin. Dia menelepon Arvida kalau dia harus segera pulang. Arvina menunggu di pos jaga sementara salah satu penjaga mencarikan taksi untuknya.

__ADS_1


"Salah apa, Aku? Aku tidak pernah mengirimkan sinyal menggoda!Mengapa Aku mengalami penghinaan ini? Aku tidak mau rumah tangga Aku hancur. Astaga! Aku lupa! Semua kertas Aku tidak dibawa!"


Arvina terpaksa menelepon Arvida.


__ADS_2