
Achmad membangunkan Natalia.
"Kenapa, Mad?" tanya Natalia setengah mengantuk.
"Aku mau keluar, Sayang! Kamu kunci pintu, ya! Bapak sebentar lagi datang. Nanti, bapak mendadak masuk dan lihat kamu begini jadi curiga," bujuk Achmad.
Natalia tetap memejamkan mata, tetapi dia segera bangun dan menjalankan perkataan Achmad. Achmad mencium kepala Natalia kemudian bergegas ke halaman luar. Sebentar lagi, atasannya pulang. Gerbang sudah dibuka. Seluruh penjaga termasuk Achmad berdiri tegap. Beberapa menit kemudian, rombongan Bambang muncul. Semua orang menghormat.
Bambang keluar dari mobil.
"Mad, Mbak Lia sudah pulang?" tanya Bambang.
Achmad merespon atasannya. Bambang masuk ke ruang keluarga. Natalia menyambut papanya. Farid datang membawa beberapa barang atasannya.
"Rid, panggil Achmad!" pinta Bambang.
Achmad cepat menghadap dan memberi hormat.
"Mad, hari Jumat ini, kita semua ke Bandung, ya! Farid dan Peter sudah tahu!" jelas Bambang.
"Siap, Jenderal! Jenderal, Saya mohon maaf. Saya ijin tidak ikut, Jenderal," ujar Achmad.
"Mau ketemu Safira, Mad?" selidik Natalia.
"Hehehe .... Aku mendeteksi nada cemburu dari suara si nona manis."
"Saya mau ketemu Wenny, Mbak Lia."
"Wenny?? Siapa dia???"
"Lia, Wenny adiknya Achmad!" hardik Bambang.
"Maaf, Achmad. Aku tidak tahu."
Natalia merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Mbak Lia."
Achmad sedih karena Natalia ternyata tidak pernah mencari informasi tentang dirinya.
"Kalau begitu, Wenny diajak ke Bandung, Mad! Kamu jemput dia dari Depok Jumat siang!" suruh Bambang.
Natalia bertanya lagi, "Kenapa Wenny tinggal di Depok? Harusnya di Solo, kan?"
Bambang membentak jengkel, "Wenny kuliah di Psikologi UI, Dia masuk lewat SBMPTN. Dia sekarang semester enam! Makanya, kamu sempatkan mengobrol sama semua ajudan Papa biar kenal mereka satu-satu!"
Achmad memandang Natalia iba. Dia menjelaskan apa yang dia janjikan kepada Wenny.
"Uang siapa beli laptop buat Wenny, Mad?"
"Uang Saya, Jenderal."
__ADS_1
"Kamu jemput Wenny Jumat siang terus kalian langsung beli laptop. Tanya Wenny spesifikasi dan merek laptop yang diperlukan! Beritahu ke Saya paling lambat Kamis, Mad!"
Bambang berdiri lalu berjalan ke kamar tidurnya.
"Mad, Aku minta maaf tentang Wenny," ucap Natalia.
Achmad mengangguk. Natalia minta diperkenalkan kepada Wenny. Dia minta diajak waktu Wenny membeli laptop nanti.
"Tapi, Safira ikut, Mbak," kata Achmad menguji.
Natalia melengos. Achmad suka melihat kecemburuan Natalia.
"Kamu kapan menikahi Safira, Mad?" tanya Natalia.
"Saya akan menikah jika wanita yang Saya cintai sudah menikah, Mbak!" ujar Achmad tegas.
Natalia melotot.
"Kamu tidak cinta Safira lagi??? Kamu cinta wanita lain, Mad???"
Achmad terus mengarahkan pandangan ke Natalia.
"Safira cantik benaran!! Kok, kamu tidak cinta dia lagi? Siapa yang kamu cinta, sih? Lebih cantik dari Safira, Mad?"
Achmad tersenyum.
"Manis cuma tidak secantik Safira, Mbak! Tapi, Saya cinta dia!"
"Kamu boleh pergi sekarang, Mad! Tolong panggil bik Ninis, Mad!"
Natalia menolak diantar ke kantor besok paginya. Bambang memaksa. Natalia akhirnya setuju, tetapi dia pilih Farid atau Peter yang mengantar. Achmad kebingungan melihat perubahan sikap Natalia. Ketika Natalia sudah di ruangan kerjanya, dia tersadar kalau sepuluh panggilan tak terjawab dari Achmad terpampang di layar ponselnya.
"Kena lo!!! Makanya, jangan coba macam-macam ke Gue!"
Malam tiba. Achmad mendekati Natalia yang asyik bermain dengan anjingnya, Rocco. Bambang sedang menghadiri acara kantornya.
"Mbak Lia, Saya mau bertanya."
"Ada apa, Mad?"
"Mbak Lia jadi ikut sama Saya dan Wenny besok?"
"Aku tidak bisa, Mad! Lain kali saja!"
Achmad gusar. Padahal, dia senang punya kesempatan jalan bersama Natalia untuk pertama kalinya walaupun dalam rangka menemani Wenny. Ternyata, khayalannya gagal terwujud.
"Kecuali, Safira tidak diajak, Mad! Aku tidak mau ketemu Safira. Aku tidak suka kamu dekat Safira di depanku! Kalau Aku tidak lihat, tidak apa-apa. Bagaimanapun, Safira tunangan kamu!"
Achmad menghela napas lega.
"Safira tidak perlu ikut, Sayang! Aku juga cuma ingin Aku, kamu, dan Wenny yang pergi! Besok, Aku lagi yang antar dan jemput kamu, ya!"
__ADS_1
"Iya! Kita jemput Wenny! Lumayan, dari Kuningan ke Depok Aku puas mengagumi cowok gantengnya Aku!"
Achmad tertawa miris.
"Sejak kapan Aku jadi cowok kamu? Sepertinya kita belum pernah menciptakan kesepakatan!"
Wajah Natalia memerah. Dia keceplosan bicara. Achmad menghampiri Natalia. Dia membelai sayang rambut Natalia.
"Aku memilih menikmati saja kedekatan ini sebelum semuanya berakhir menyakitkan."
"Mad, Wenny kos di mana?"
"Di asrama, Sayang."
Achmad mengendarai mobil di samping Natalia.
"Dia pulang pergi ngampus pakai biskun, dong! Nggak perlu keluar ongkos dan jalan kaki!"
"Biskun???"
"Bis Kuning!"
"Oh ...."
"Cuma, Wenny nggak boleh pulang larut malam. Kan, ada jam malamnya."
"Wenny anaknya disiplin dan tidak neko-neko, Lia!"
" Kayak Mas Achmadnya yang baik, disiplin, dan tidak banyak gaya!"
Achmad tertawa ringan diikuti senyum Natalia seraya membelai pipi Achmad.
Achmad memperkenalkan Natalia kepada Wenny. Wenny menyalim tangan Natalia. Wenny tidak menyukai Natalia. Sebelumnya, Wenny berpikir jika Natalia yang mendekati Achmad lebih dulu. Makanya, dia menghina Natalia. Setelah dia tahu bahwa Achmad yang memulai, Wenny malah semakin membenci Natalia.
"Mas, kita ndak ajak mbak Safira? Rumahnya dekat!"
Wenny sengaja bertanya tentang Safira agar memancing amarah Natalia.
"Tidak perlu, Wenny! Kita mau ke Bandung nanti! Tidak mungkin ajak Safira! Mas sudah bilang Safira! Pulang dari Bandung, Mas ke rumah Safira sekalian antar kamu!"
Wenny menyetujui rencana Achmad. Wenny hendak memainkan kartu truf lain.
"Mas, Aku bawa buku tentang Skizofrenia yang Mas minta! Penjelasannya mudah dimengerti awam!"
Wajah Natalia menegang.
"Jadi, penderita Skizofrenia ...."
"Cukup, Wenny! Mas baca sendiri nanti! Jangan ganggu Mas nyetir!"
"Achmad pasti baca diary Gue! Lancang banget, dia! Benar dugaan Gue! Dia dekati Gue karena punya maksud jelek. Tunggu pembalasan Gue!"
__ADS_1
Achmad serba salah menyadari dua wanita yang dia sayang justru saling membenci. Di mal, Achmad selalu menggandeng tangan Natalia, tetapi dilepas Natalia jika Wenny hampir melihat.