
Achmad mendiamkan telepon dari Safira. Begitu Safira berhenti menelepon, Achmad langsung mengirim pesan kepadanya memohon maaf tidak menjawab telepon karena dia di mobil bersama Bambang.
"Mbak Lia bagaimana keadaannya, Mas?"
"Mbak Lia masih dirawat. Aku bersama Jenderal dan ibu Arvida."
"Si penyiar televisi itu?! Dia pede selangit, Mas! Terus memepet pak Bambang! Mencoba dekati pak Bambang dengan agresif. Padahal, pak Bambang ogah banget sama dia. Tahu, nggak, Mas, pak Bambang itu sukanya sama keponakan ayah Subarkah, tapi ayah Subarkah tidak setuju karena pak Bambang sudah tua dan non-muslim!"
Pesan dari Safira membuat Achmad mengernyitkan kening.
"Dari mana Safira tahu gosip ini? Mas Gatot? Tidak mungkin! Dia termasuk pria yang 'tidak rajin berbicara ngalor ngidul dengan para koleganya."
"Safira tahu dari mana gosipnya?"
"Safira tahu banyak, Mas. Teman Safira banyak yang anak tentara."
"Oh, iya, Mas lupa! Hehehe .... Tapi, Safira mau bicara apa? Mas nanti telepon Safira kalau sudah di tujuan."
"Mbak Fina sakit kanker payudara stadium tiga jadi mau dibawa ayah Subarkah dan bunda Wiwik ke Singapura untuk pengobatan."
Achmad sedih mendengarnya. Safira mengatakan dia tidak ikut mengantar Safina ke Singapura besok pagi karena harus menjaga Galuh dan Gayatri. Achmad meminta Safira mengabari Wenny agar Wenny menginap menemani Safira dan kedua keponakannya. Ternyata, Wenny sudah diberitahu. Dia berjanji akan ke rumah Gatot sepulang kuliah besok. Achmad ingin menemani Safira dan Wenny, tetapi dia tidak mungkin meminta ijin di saat suasana tegang seperti ini. Lagipula, dia pun memikirkan Natalia.
"Seandainya Aku memiliki Safira dan Natalia tanpa halangan dan tentangan terutama dari mereka berdua! Astaghfirullah-al-'Adhim .... Jauhkanlah pemikiran egois itu dari hamba-Mu, ya, Allah .... Aamiin."
Mobil Arvida memasuki gedung kantornya. Dia dan Indah segera masuk diikuti Bambang dan Achmad. Indah langsung menuju dapur. Dia menggunting sekecil mungkin empat pasang sarung tangan bekas mereka kemudian merebusnya. Setelah mendidih, dia menuangkan air rebusan ke kitchen sink lalu membawa potongan semua sarung tangan dalam mangkuk stainless steel ke kamar mandi. Dia menuangkan cairan pembersih porselen ke dalam mangkuk itu. Setengah jam kemudian, dia membuang isinya ke toilet dan menekan tombol flush. Setidaknya, beberapa barang bukti penting sudah dienyahkan. Natalia dan Maruap meminta semua sarung tangan bekas mereka dimusnahkan. Kedua koper sudah diambil tiga anggota tim Rico yang menunggu di parkir rumah sakit.
__ADS_1
"Mungkin mereka sungkan menghadapi Aku!"
"Bukan sungkan, Mas! Mereka besar kepala seperti Natalia bilang! Mereka mau adu pintar sama kita! Mereka mau menangkap kita terutama Mas Bambang dengan cara 'cantik'! Kan, keren kalau mereka bisa menjebak seorang pangkostrad! Aku yakin mereka terus mengamati kita paling tidak dimulai dari rumah sakit sebenarnya. Untung, bang Hans bersih dan pengacaranya tidak bisa ditekan makanya mereka tidak berani petentengan."
Bambang menggeleng-gelengkan kepala tersenyum geli mendengar perkataan Arvida. Bambang mencolek pinggang Arvida.
"Boru Simanjuntak mengerikan juga kalau sedang dipenuhi amarah. Selama jadi pangdam dulu, Aku sangat menyesal karena tidak punya waktu mengenal secara mendalam kepribadian boru Simanjuntak yang mewawancarai Aku di pesta Danau Toba!"
Bambang berbicara menggoda Arvida disambut tawa sejenak Arvida yang lalu kembali bekerja. Reporter yang dikirim Arvida menelepon. Mereka diusir walaupun bertahan. Arvida segera menelepon seluruh temannya sesama penyiar berita dari semua stasiun televisi. Dia menuturkan kejadiannya dengan gamblang termasuk hubungannya dengan pemilik rumah yang digeledah.
"Vid, kamu tidak takut seandainya Hans terbukti bersalah nanti?"
Bambang mengemukakan pendapatnya.
"Aku sudah mempertimbangkannya. Aku berharap bang Hans bersih. Tapi, kalaupun dia salah, paling tidak kita dan KPK berkedudukan seimbang karena kita bisa permasalahkan prosedur penangkapannya dengan bukti CCTV."
"Aku angkat tangan tentang bang Haris! Apa pun yang dilakukannya, hanya dia dan Tuhan yang tahu! Aku konsen ke bang Hans, Mas!"
"Bu, apa mungkin kita bisa nenuntut proses penahanan KPK yang menyalahi prosedur?"
"Bisa, Mad! Cuma, selama ini banyak petugas KPK melakukan kesalahan prosedur penahanan tanpa bukti CCTV karena semua rekaman CCTV berada di tangan mereka. Kita beruntung karena bang Hans orangnya waspada!"
"Tapi, masak pengacara tidak mau membela, Bu?"
"Achmad, kebanyakan pengacara membela client mereka sungguh-sungguh apabila si client punya kuasa, si client memiliki hubungan keluarga dekat dengan si pengacara, dan si pengacara ingin menaikkan nama terutama jika kasus viral! Hans memang calon kepala pajak, tetapi dia tidak dekat dengan penguasa. Dia naik jabatan murni mengandalkan otak dan prestasi."
__ADS_1
"Loh, kan, eyangnya ibu Arvina mantan dubes, Bu!"
"Dubes karir bukan dubes politik, Mad!"
Bambang berdehem agak tersinggung. Kelak, jika dia pensiun dan bergabung dengan sebuah pemerintahan, tetapi tidak mendapat jabatan di dalam negeri, kemungkinan dia pasti ditunjuk sebagai duta besar. Apalagi, bahasa Inggrisnya cukup baik.
"Kamu tahu banyak, Vid!"
"Putri Mas yang bandel itu yang bilang. Aku sering berdiskusi dengannya. Kami sering bertemu, Mas. Sekarang saja, Aku berganti-ganti bertanya ke Lia dan ito Rico tentang masalah bang Hans."
Bambang dan Achmad tidak bisa menahan tawa kali ini mendengar peran Natalia.
"Coba belajar percaya Lia, Mas! Bisa jadi Lia memang manja, tidak masuk akal, dan tidak bertanggung jawab seperti yang Mas sering keluhkan. Tapi, kalau saatnya dia harus menyelesaikan suatu masalah yang berat, dia akan berusaha membereskannya dengan cara yang benar dan menurut hukum sebisa mungkin."
Perkataan Arvida mengingatkan Bambang ke Natalia. Dia mendadak merindukan putrinya. Natalia dan Arvida menjadi dua nama yang spesial untuk Bambang sepanjang malam ini.
"Selesai, Bu!"
"Thank you, Indah. You had a bad day because of your stupid husband. Still, you have to helped me!"
"This helped me forget that bulshit!!! Even though, I hated seeing what happened to pak Hans, Bu!"
"Thank you, Sweetheart."
Bambang menyenggol tangan Arvida ingin mengetahui masalah Indah. Arvida menunjukkan gerakan tangan meminta Bambang jangan mengajaknya bercakap-cakap. Pengasuh Havi kembali menelepon Indah. Kali ini, Hans yang berbicara. Dia berterima kasih atas pertolongan Arvida. Dia bersumpah jika dia tidak terlibat. Ketika itu, sehabis ditelepon pengacara Haris, Hans segera menghubungi Arvina. Begitu selesai, lima orang petugas KPK langsung menerobos ke ruang kerjanya dan membongkar semua barang. Mereka melihat beberapa CCTV, namun mereka tidak meminta dimatikan.
__ADS_1
"Oh, mereka berpikir kalau semua CCTV tersebut merupakan properti BPK jadi mereka tidak mengacuhkan karena berpikir bahwa rekaman CCTV tersebut nanti hendak diambil mereka juga. Makanya, mereka yakin pasti tidak bakal meninggalkan jejak keteledoran."