
Weker di meja samping tempat tidur Bambang berdering memekakkan telinga. Bambang membuka kedua matanya. Pukul 04.00 pagi. Dia bangun sesuai jadwal hariannya. Dia berdoa, bangkit, dan masuk kamar mandi. Tiga puluh menit kemudian, dia terlihat menjalani rutinitas lari paginya ditemani kedua ajudannya, Achmad dan Farid. Tepat pukul 06.00 pagi, dia sudah di rumah. Dia berangkat ke kantor pukul 07.30 pagi. Natalia berangkat ke kantor sewaktu Bambang masih bersiap-siap. Sesudah meraih gelar sarjana hukum dari fakultas hukum Unpad, Natalia mengikuti tes CPNS. Dia dinyatakan lulus. Kini, dia menjadi ASN di Kementerian Hukum dan HAM di jalan HR Rasuna Said. Sebagian besar penampilan fisik dan sifat Bambang terwariskan sempurna kepada Natalia. Hanya saja, hidung Natalia tidak setinggi hidungnya, tetapi kulit Natalia jauh lebih cerah dari kulitnya.
Rutinitas bekerja Bambang dimulai saat dia sudah di kantornya di kawasan Gambir pukul 08.00 pagi tepat. Dia hampir selalu tepat waktu tiba di kantor selama bertahun-tahun bertugas! Kedisiplinan waktu yang diterapkan Bambang terhadap dirinya jadi memaksa siapa pun yang berurusan dengannya di kali kedua pasti menghindari keterlambatan agar tidak mendapatkan teguran pedas sang jenderal. Bahkan, salah satu presiden negeri ini sempat pula diprotes Bambang. Beliau muncul terlambat di pangkalan udara TNI AU Halim Perdanakusumah sewaktu hendak melakukan kunjungan resmi kenegaraan ke salah satu negara di benua Eropa. Rombongan Beliau menginjakkan kaki di lokasi keberangkatan dua jam mundur dari jadwal. Ketika itu, Bambang masih menjadi Dandim 0505 Wijayakarta Jakarta Timur. Natalia sebagai salah satu putri tidur sejati, sudah terlampau sering diomeli papanya karena hobi terlambatnya ketika menghadiri suatu acara atau membuat janji bertemu. Namun, Natalia sudah kebal dan masa bodoh. Nasehat dan omelan Bambang hanya masuk ke telinga kiri lalu keluar dari telinga kanannya. Jika papanya terlalu menekan dia menurutnya, maka Natalia akan berkelit habis-habisan.
Rutinitas Bambang selanjutnya manakala dia menandatangani berbagai macam dokumen sementara dering ponselnya terus terdengar. Panggilan dari banyak orang dengan beragam kepentingan. Mulai dari koleganya sampai dengan para wanita yang mengharapkan cinta Bambang secara tersirat dengan menyajikan isyarat dan tersurat dengan mengungkapkan langsung . Untung, Bambang teguh menjaga nama baiknya. Dia tidak gemar mempermainkan wanita. Dia sangat takut apabila suatu saat Natalia, putrinya, dipermainkan pria. Selain itu, dia pun tak rela menghancurkan karir militernya yang cemerlang hanya karena asmara. Pengalaman perjuangan beratnya agar bisa mengikuti pendidikan di Akmil cukup mengharukan sebab Bambang bukan berasal dari keluarga kaya. Kalau keinginannya sebagai pria normal memuncak, dia memilih melampiaskannya tanpa pasangan. Cara teraman menurutnya yang dia lakukan setelah istrinya divonis kemudian meninggal akibat kanker rahim tiga tahun lalu. Sesudah berjumpa Arvida, barulah dia berani melepas hasratnya dalam pelukan seorang wanita. Arvida tidak pernah gagal memuaskan dahaganya. Dirinya nyaman di dekat Arvida. Dia memercayai Arvida sepenuh hati. Dia yakin jika Arvida tidak seperti kebanyakan wanita yang gemar berkoar ke berbagai media massa ataupun mengorganisir jumpa pers untuk membeberkan detail hubungan romantis mereka dengan pejabat tinggi.
"Ah, Arvida! Padahal, Aku sempat sangat menginginkannya."
Bambang bersedih saat mengingat Arvida. Dia berpikir kalau dia mengkhianati Arvida walaupun sejujurnya baik dia maupun Arvida belum pernah mengikrarkan diri sebagai pasangan kekasih resmi. Bahkan, meskipun hanya di antara mereka berdua. Arvida dan Bambang memutuskan ingin saling mengenal dekat terlebih dahulu. Bambang mengenal Arvida dua tahun lalu. Waktu itu, dia masih menjabat sebagai Pangdam I Bukit Barisan yang membawahi wilayah provinsi Sumatera Utara, provinsi Sumatera Barat, provinsi Riau, dan provinsi Kepulauan Riau. Keempat provinsi itu dijaga keamanannya dari markas Kodam di kota Medan. Suatu ketika di bulan Oktober, Arvida ditugasksn oleh stasiun televisi tempatnya bekerja untuk meliput hari raya Dipawali di kota Medan. Hari raya Dipawali merupakan salah satu hari budaya bangsa Indonesia. Di kota Medan yang dihuni berbagai etnis, etnis India adalah salah satunya. Di acara pembukaan itulah, Arvida bertemu Bambang yang menghadiri acara pembukaan. Mereka pun bertukar nomor kontak. Begiu balik ke Jakarta, Bambang dan Arvida kerap saling bertelepon. Dua bulan kemudian pada tahun yang sama, Arvida dan Bambang kembali bertemu di Festival Danau Toba, sebuah acara tahunan provinsi Sumatera Utara. Arvida mewawancarai beberapa pejabat tinggi yang hadir di acara pembukaan termasuk Mayjen Bambang Marino. Tetapi, hubungan Arvida dan Bambang berubah lebih akrab setelah Bambang dimutasi ke Jakarta karena masa baktinya sebagai pangdam berakhir. Tidak lama setelah itu, Bambang mengalami kenaikan pangkat dari mayor jenderal menjadi letnan jenderal. Selang beberapa waktu sesudahnya, Bambang digadang-gadang sebagai sosok kandidat terkuat yang akan memangku jabatan pangkostrad. Pencalonannya sempat menimbulkan perdebatan internal berkaitan dengan status dudanya karena memunculkan pertanyaan sensitif tentang siapa yang akan menjadi Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Gabungan Kostrad. Akhirnya, jabatan itu tetap disematkan di pundak Bambang. Saat proses pelantikan Bambang sebagai Pangkostrad oleh KASAD di mabesad, Arvidalah yang memeroleh kesempatan istimewa bersama Natalia mendampingi Bambang.
Beberapa hari sebelum pelantikannya, Bambang diperkenalkan Arvida kepada keluarga besarnya. Di kesempatan itulah, Bambang bertemu Arvina.
Kecantikan Arvida dan Arvina seimbang menurut Bambang. Namun, entah mengapa Bambang terpesona kepada Arvina pada pandangan pertama. Obsesi Bambang terhadap Arvina yang berstatus istri pria lain menguasai pikirannya. Kenyataan kedua yang disesalinya selain fakta pertama bahwa Arvina adalah sepupu Arvida. Bambang senantiasa mengamati gerak-gerik Arvina setiap berjumpa di acara keluarga. Apabila Arvina sedang tidak bergabung dengan anggota keluarga lain, Bambang pasti mengajaknya bercakap-cakap. Saat itulah, Bambang puas menatap Arvina. Menghirup aroma parfum Arvina pun menjadi kegiatan yang digilainya.
"Mengapa Aku harus mengenalmu setelah kau menjadi milik pria lain, Arvina? Kalau saja Aku yang mempunyai kesempatan untuk menempati posisi Hans sebagai pemilik sah dirimu, betapa beruntungnya Aku, Arvina!"
KAMUS
__ADS_1
Akmil
Akademi Militer di Magelang, Jawa Tengah.
Dandim
Komandan Kodim (Komando Distrik Militer)
KASAD
Mabesad
Markas Besar Angkatan Darat.
Mayjen
__ADS_1
Mayor Jenderal AD. Perwira tinggi berbintang dua.
Pangdam
Panglima Kodam (Komando Daerah Militer)
Pangkostrad
Panglima Kostrad (Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat)
Persit
Persatuan Istri Tentara.
Unpad
Universitas Padjajaran di Bandung, Jawa Barat. Sebagian besar mahasiswa sudah di kampus UNPAD Jatinangor sekarang.
__ADS_1