CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
ORANG KETIGA (1)


__ADS_3

"Loh, Lia belum berangkat?" tanya Bambang melihat Natalia masih duduk di beranda.


"Lagi pesan taksi online, Pa," jawab Natalia.


Matanya terpaku ke aplikasi pemesanan taksi online di ponselnya.


Bambang bertanya lagi, "Tedjo mana, Lia?"


"Nggak masuk, Pa! Dia pulang kampung Jumat malam. Sudah minta ijin ke Lia dari Senin minggu lalu! Dia mau ajak istrinya ke Jakarta, Pa," jelas Natalia.


"Di-cancel lagi! Tiga kali cancel! Lia bisa telat!" sungut Natalia.


Bambang menimpali, "Papa lupa! Tedjo juga memang sudah ijin ke Papa."


"Achmad ... Achmad ... Achmad!" panggil Bambang.


Achmad tergopoh-gopoh mendatangi atasannya. Dia memberi hormat dengan tegap.


"Kamu antar Mbak Lia ke kantor sekarang! Tedjo lagi pulang kampung!" perintah Bambang ke Achmad.


"Eh, nggak usahlah, Pa! Lia pakai taksi online aja!" tolak Natalia cepat.


"Achmad, antar Mbak Lia sekarang!" Bambang mengulang perintah kepada Achmad.


Achmad mematuhi atasannya lalu mendekati Lia untuk meminta kunci mobil.


"Kunci mobil di kamar tidur Aku, Mad!"


"Kunci kamar tidur Mbak Lia mana? Biar Saya suruh bik Yanah yang ambil!"


Natalia membuka tasnya. Tetapi, kecerobohannya menyebabkan ponselnya terlepas dari genggaman. Natalia hendak menangkap ponselnya yang melayang jatuh, namun Achmad gesit mengambilnya. Natalia berterima kasih ke Achmad atas tindakannya. Natalia menyerahkan kunci kamar tidurnya. Achmad menerima seraya menatap Natalia sekilas. Tatapan menyukai.

__ADS_1


"Pa, Lia berangkat!" pamit Natalia.


Dia mencium papanya kemudian masuk ke mobil.


Natalia menimbang-nimbang.


"Mad, Aku minta tolong bantu bawa barang-barang Aku ke ruangan," pinta Natalia.


Achmad menyanggupi.


Lift memuat maksimum jumlah orang. Natalia bersender ke dinding bagian dalam lift. Achmad menghadap Natalia. Kedua tangannya penuh buku. Achmad sadar kalau dia seharusnya berdiri membelakangi Natalia, tetapi Achmad memutuskan tidak berganti posisi. Pemandangan indah di depannya enggan dia lewatkan.


Matanya memandang Natalia tanpa berkedip. Desakan membuat Achmad menempel ke Natalia. Achmad dan Natalia saling melihat. Natalia akhirnya tersenyum kepada Achmad. Achmad memperkirakan situasi. Saat lift terbuka, terjadi pertukaran keluar dan masuk orang; Achmad mencium ringan bibir Natalia. Seperti tanpa sengaja. Natalia terkejut, namun dia hanya mencubit perut Achmad. Achmad meringis kesakitan campur gembira.


Lift berhenti di lantai di mana ruangan Natalia berada. Natalia menyapa dan membalas sapaan beberapa rekan kerjanya. Achmad berjalan di belakang Natalia. Achmad meletakkan buku-buku Natalia di mejanya.


"Jam berapa Saya jemput, Mbak?" tanya Achmad.


"Jam 05.00 sore, Mad!" jawab Natalia singkat.


"Kita mau kemana, Mbak?" tanya Achmad.


"Pulang, Mad," jawab Natalia.


Jarak dari kantor Natalia di Kuningan ke rumahnya di Gatot Soebroto sebenarnya dekat. Tetapi, Achmad kesal karena Natalia sama sekali tidak mengajaknya bicara. Natalia dan Achmad tiba di rumah pukul 01.00 siang. Natalia ijin pulang cepat beralasan sakit.


"Achmad, nanti bawa buku-buku dan tasku ke kamar, ya!" pinta Natalia tenang.


Achmad semakin jengkel. Kecewa dan sedih menguasainya. Dia membawa semua barang Natalia ke kamar Natalia.


"Masuk!" ijin Natalia.

__ADS_1


"Taruh semuanya di meja belajar, Achmad!" suruh Natalia.


Achmad berjalan gontai keluar.


"Jangan lupa kunci pintu, Mad!"


Suara Natalia berubah manja. Achmad membalikkan tubuh. Natalia menggerakkan telunjuk kanannya menyuruh Achmad mendekat. Achmad tersenyum. Dia mengunci pintu kemudian menghampiri Natalia.


Achmad rajin mencari informasi penting dari berbagai buku referensi yang membahas gangguan Skizofrenia. Achmad ingin mengetahui setiap hal yang berhubungan dengan Natalia agar tahu cara memperlakukan Natalia tanpa menyakitinya.


Betapa Achmad ingin selalu bersama Natalia dan melindunginya sekaligus menaklukkannya seperti yang saat ini dia lakukan. Dia melupakan Safira walaupun sesaat tentunya. Achmad paham bahwa hubungan asmara gelapnya dengan Natalia tidak mungkin berujung ke pernikahan resmi. Letjen Bambang Marino pastilah tidak rela membiarkan level ajudan menikahi putri tunggalnya. Lagipula, Achmad pun tidak pernah tahu isi hati Natalia sebenarnya. Wanita Skizofrenia yang ambisius dan nyaman hidup di dunia ciptaannya sendiri seperti Natalia mungkin malah tidak mengerti arti cinta. Natalia yang egois, penyendiri, dan wajahnya selalu terlihat berpikir. Terlalu banyak informasi dikelola otaknya. Perlahan, Achmad berubah agresif memperlakukan Natalia. Keagresifan dan kelembutan dihadiahkan Achmad demi membawa Natalia melayang.


"Mad, Aku capek banget! Kamu keluar sana!" rengek Natalia.


"Kasihan .... Tapi, Aku minta sekali lagi, Sayang!" bujuk Achmad yang masih menginginkan Natalia.


"Keluar sekarang, ajudan!"


Natalia menjerit gusar. Achmad tidak berkata apa-apa. Dia bangkit dari samping Natalia dan memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai. Dia hendak mengenakan pakaiannya sambil berhitung. Pada hitungan ketiga, dia berbalik ke Natalia. Kemarahan Natalia kian tersulut. Dia memaki dan mencakar Achmad, namun Achmad mampu menguasainya. Sejam kemudian, Natalia terlelap tenang di pelukan ajudan kesayangan papanya. Dua pesan WhatsApp dari Wenny masuk. Wenny bertanya apakah Achmad bisa menambahi uang tabungannya dari hasil mengajar privat untuk membeli laptop baru.


"Tapi, nambahnya banyak, Mas!"


"Wenny nggak berani pakai uang BIDIK MISI untuk menambah."


"Untuk keperluan sehari-hari."


Achmad membalas pesan adiknya.


"Tabunganmu jangan diutak-atik!


"Mas yang beli laptop kamu."

__ADS_1


"Hari Minggu, Mas jemput kamu!"


"Kita beli sama-sama!"


__ADS_2