
Wenny membawa ponsel Safira ke dapur. Safira masih sibuk memasak dibantu bik Irah.
"Wangi sekali, Mbak Fira!"
Safira tersenyum menanggapi pujian Wenny. Galuh dan Gayatri masuk. Tiba-tiba, ponsel Safira berbunyi.
"Ponsel Aku kamu bawa ke sini, Wen?"
"Iya, Mbak. Siapa tahu Mbak perlu. Aku taruh di meja, Mbak!"
"Tolong lihat siapa yang menelepon, Wen! Sekalian jawab, ya! Aku masih pegang makanan!"
Wenny menuruti permintaan Safira.
TULISAN DI LAYAR PONSEL
Mas Gatot Sayang is calling ....
Wenny tercekat. Dia diam sebentar lalu mencoba berbicara setenang mungkin.
"Mas Gatot yang menelepon, Mbak. "
"Tolong jawab Wen. Bi--"
Safira menghentikan kegiatannya.
"Siapa yang menelepon, Wen?"
Wenny merasakan nada dingin di suara Safira. Dia menelan salivanya.
"Mas Gatot menelepon. Mbak mau jawab atau Aku?"
"Kasih Aku Wen! Biar Aku jawab!"
Wenny berusaha bersikap tenang. Dia menyerahkan ponsel Safira. Setelah mengucapkan terima kasih lalu melihat sebentar layar ponsel, Safira menjawab telepon Gatot. Safira terus menanyakan keadaan Safina. Wenny hanya menunduk tadinya, namun dia memutuskan menatap Safira dengan berani selama Safira menelepon.
"Ada apa menatap Aku seperti itu, Ibu Psikolog?"
Safira bertanya sinis, tetapi dengan nada manis begitu selesai bertelepon. Wenny tertawa renyah.
__ADS_1
"Masih calon ibu psikolog, Mbak."
"Cuma, kamu sudah belajar beberapa kasus, kan?!"
"Tepat sekali, Mbak Safira. Makanannya sudah jadi semua. Aku bantu taruh di meja, ya!"
Wenny bergegas memindahkan seluruh makanan ke meja.
"Mbak Safira, ada Grabcar menunggu di depan atas nama Mbak Wenny."
Dion, ajudannya Gatot muncul di dapur untuk menginformasikan.
"Loh, kamu mau kemana, Wen?"
"Maaf, Mbak Safira! Aku mendadak harus pulang. Lagipula, ada mas Dion menginap rupanya! Besok Aku masih kuliah dan mendadak ada tugas kelompok yang harus Aku kerjakan di kosan teman di Kober"
Wenny mencium pipi Safira, Galuh, dan Gayatri kemudian bergegas pergi. Namun, Safira memanggilnya. Terpaksa Wenny menengok.
"Hati-hati di jalan, Wenny Sulastri!"
"Astaghfirullah al 'Adhim. Tatapan mbak Safira sungguh mengerikan! Pasti dia menyadari kebohongan yang Aku buat. "
Wenny setengah berlari menuju ruang tamu. Dia meminta Dion membantu menaikkan tas pakaiannya ke mobil. Dirinya sudah duduk dalam mobil.
"Terima kasih, Mas Dion. Saya minta maaf karena sudah di mobil. Kaki Saya sakit! Tidak bisa berdiri lama!"
"Tidak apa-apa, Mbak Wenny!"
Wenny menutup pintu mobil dan meminta kepada supir agar berangkat.
"Alhamdulillah .... Hamba-Mu selamat, ya, Allah. Aku benar-benar tidak nyaman berada dekat mbak Safira."
Wenny menghapus air matanya yang meluncur tiada tercegah. Dia memeriksa ponselnya. Dua puluh panggilan tidak terjawab dari Achmad. Dia segera mengirim beberapa pesan kepada Achmad.
"Jangan sampai dugaan Aku ternyata benar kalau mbak Fira si pelaku yang tega meracuni mbak Lia."
Wenny kembali menghapus air matanya. Dia membaca pesan Achmad. Wenny semakin tidak berdaya. Pesan Achmad telah menguatkan bukti tepatnya prakiraan Wenny. Hari Minggu di minggu lalu, Safira menitipkan brownies panggang buatannya untuk Bambang dan Natalia. Safira beralasan karena dia ingin berterima kasih atas pertolongan Bambang yang membelikan Wenny laptop. Tetapi, Natalia menghabiskan kuenya malam itu juga dengan alasan kalau papanya tidak suka manis dan sedang diet.
"Astaghfirullah .... Seandainya pak Bambang ikut makan waktu itu berarti pak Bambang dan mbak Lia harus dirawat di rumah sakit sekarang!"
__ADS_1
Wenny membalas pesan Achmad dengan menjabarkan analisisnya. Achmad terkejut membaca pesan Wenny. Achmad langsung berpikir keras sambil mengamati Natalia.
"Jadi, kalau benar analisis Wenny, berarti Lia memang diincar Safira termasuk bapak juga. Astaghfirullah, pak Bambang hampir jadi korban dan Lia sudah jadi korban. Untung, dia kuat sehingga selamat. Tapi, apa Safira tahu tentang hubungan Aku dengan Lia?"
"Whattttttt???"
Suara Bambang menggelegar. Achmad sigap mendatangi Bambang karena dia berpikir Bambang ada masalah. Farid, Peter, Supardjo, dan Tedjo memegang ponsel masing-masing sambil menatap Achmad tajam. Achmad merasakan tatapan aneh keempat pria tersebut. Tiba-tiba, Farid meninju perut Achmad. Natalia dan bik Yanah terkejut. Peter dan Supardjo melumpuhkan Farid yang hendak memukul Achmad lagi. Achmad marah dan bingung. Tedjo mendatangi Achmad sambil nemperlihatkan ponselnya. Achmad mengambil ponsel itu untuk melihat sumber keributan yang menyebabkan Farid memukulnya. Achmad hampir pingsan melihat video adegan tidak senonohnya dengan Natalia ada di ponsel Tedjo. Enam video dan beberapa fotonya dan Natalia yang berpose dewasa! Bambang berdiri. Dia menyuruh Tedjo menjaga Natalia bersama bik Yanah lalu keluar seraya memerintahkan Achmad, Farid, Peter, dan Supardjo mengikutinya.
"Ada apa, Papa?"
"Urusan kantor, Sayang! Tedjo will be here. I need to talk to these four men!"
Tedjo memutuskan duduk di luar. Dia tidak ingin detektif Natalia menginterogasinya sampai ke ginjal.
Achmad berjalan menunduk. Peter yang berjalan di belakangnya menahan emosi untuk tidak mengikuti jejak Farid memukulnya. Supardjo merangkul Farid. Mereka menuju mobil. Bambang dan Achmad masuk mobil sementara Farid, Peter, dan Supardjo berdiri menjaga di sekeliling mobil. Di dalam mobil, Bambang menampar Achmad dua kali lalu menendang perutnya.
"Tidak tahu diri kamu, Achmad!"
Bambang membentak sambil kembali menampar Achmad. Yang disiksa hanya diam.
"Menurutmu, berapa orang yang dapat semua video itu?"
"Siap, Jenderal. Mungkin semua kontak Saya, Jenderal!"
"Berapa banyak kontakmu?"
"Siap, Jenderal! Ada 140. Yang berhubungan intens ada dua puluhan, Jenderal!"
"Siapa saja?"
"Teman-teman Kostrad dan beberapa teman dari satuan lain!"
Bambang panik. Dia menendang perut Achmad dua kali lalu membenturkan kening Achmad ke jendela mobil. Ketiga temannya tetap tegap berdiri. Tetapi, Farid sudah hendak masuk untuk memohon Bambang berhenti menyiksa Achmad. Peter memegang pundak Farid. Sedih hati Farid mendengar suara pukulan yang mendarat di berbagai bagian tubuh Achmad. Semarah-marahnya Farid, dia tidak rela temannya disiksa. Peter dan Supardjo pun tidak sanggup mendengar suara-suara itu, tetapi apa daya! Achmad sudah melakukan aib besar! Peter tidak henti bertanya dalam hati.
"Tuhan! Siapa lagi yang dikirimi semua video dan foto itu?"
Tedjo sangat resah. Dia bolak-balik mendatangi Natalia yang memanggilnya berkali-kali. Sampai saat ini, Tedjo masih mampu bertahan tidak membuka mulut.
"Berapa lama lagi Gue harus tersiksa diinterogasi mbak Lia?"
__ADS_1
Natalia menjerit keras. Tedjo tergopoh-gopoh masuk. Natalia sedang melihat ponselnya. Tedjo langsung menelepon Peter. Mendengar laporan Tedjo, Peter segera mengetuk pintu mobil. Bambang menurunkan kaca mobil. Peter melaporkan pemberitahuan Tedjo. Bambang keluar dari mobil. Dia tergesa berlari ke ruang rawat inap Natalia diikuti Achmad, Farid, dan Peter. Supardjo menaikkan dua jendela mobil, menguncinya lalu menyusul.