CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
BADAI MEREDA SESAAT


__ADS_3

Rumah Hans segera dipenuhi kerumunan reporter dari semua stasiun televisi. Bahkan, para wartawan berbagai media cetak pun ikut menyemut. Reporter utusan Arvida terus mencecar dengan berbagai pertanyaan terutama tentang surat penggeledahan yang tidak ditunjukkan saat penggeledahan dan hanya ada dua asisten rumah tangga saat penggeledahan dilakukan. Jumpa pers dilakukan malam itu juga di gedung KPK. Christian Fernando tidak berpikir jika kejadian ini didalangi Arvida. Setelah mengetahuinya, sumpah serapah terus mengalir dari mulutnya. Padahal, dia bermaksud menjalankan teknik "sekali tepuk, lima nyamuk mati yaitu penangkapan Haris bisa menyentuh Hans Hutagaol si calon kepala pajak, Arvida Simanjuntak si penyiar berita, dan terutama Bambang Marino sang Pangkostrad. "Gol bunuh diri" Arvida menggagalkan rencana besar Christian Fernando.


"Gol bunuh diri terukur, Chris! Kau camkan itu! Berhati-hati jika akan melakukan operasi tangkap tangan lain kali! Renungkan perkataan pengacara si Hans bahwa kita sudah terlalu terlena berpikir kalau orang-orang pintar di Indonesia cuma berasal dari kelompok kita! Kita sudah memandang mereka sebelah mata! Jangan lagi memandang remeh seseorang selemah apa pun dia terlihat."


Nasihat atasannya menyadarkan Christian Fernando. Dia mengingat keangkuhan yang ditunjukkan dirinya dan kawanannya selama ini. Hans terus berhubungan dengan ketiga anggota tim Rico. Dia menjamin jika semua dokumen di kedua kopernya tidak memuat informasi melanggar hukum.


"Untung saja belum pernah ada yang menanyakan kepada Aku mengapa Aku dulu terkesan membela lawan politik sepupuku!"


Kini, Rico dan tim berkonsentrasi mengurus Haris. Rico curiga jika pengacara kebanggaan Haris yang adalah sosok pengacara terkenal itulah yang berperan menjadi dalang penangkapan Haris. Rico tidak mengutarakannya kepada Haris. Dia ingin memusatkan ke penanganan kasus Haris lebih dulu. Dia memilih menghadapi si pengacara terkenal dengan caranya sendiri karena dia memiliki urusan pribadi dengan si pengacara terkenal itu.


Natalia mengobrol lama dengan Farid dan Maruap karena awalnya Natalia menanyakan apa saja yang terjadi selama Indah dan Achmad berbelanja. Farid jadi mengetahui latar belakang Indah yang sebenarnya. Dia mengagumi Indah yang tidak langsung berbuat keributan dengan melabrak suaminya dan selingkuhan suaminya di tempat umum.


"Aduh, Aku, kok, jadi kepikiran sama Wenny dan mbak Indah. Untung, Aku sudah tidak begitu naksir mbak Lia sekarang. Andaikan ketiganya Aku suka, terus apa yang bisa terjadi? .... Tunggu! .... Biar Aku naksir mereka bertiga, tapi kalau satu pun tidak ada yang naksir Aku, berarti Aku ngapain harus kebingungan?"


Reporter dan juru kamera utusan Arvida tiba di kantor. Arvida bergegas menonton rekaman penggeledahan rumah Hans. Berkali-kali dia mengulang menonton beberapa bagian sambil sibuk menulis. Indah melayani berbagai permintaan Arvida termasuk memesan makanan untuk mereka semua.


"Mas Bambang dan Achmad pulang saja. Kalian kelihatan capek."

__ADS_1


"Aku tidak akan pulang, Vid. Aku tidak bakal membiarkan calon istriku bekerja sendirian tengah malam di kantor."


"Aku sama Indah dan para kru, Mas."


Bambang tetap menolak saran Arvida.


"Memang romantis sekali kalau calon suami sudi menemani. Sayangnya, sikap romantis kamu ke Aku sudah tidak berguna, Bambang! Entah Aku masih mencintai kamu atau tidak. Pria yang menyebalkan!"


Keesokan paginya sekitar pukul 07.00, Peter menjemput Bambang dan yang lainnya. Peter memrotes keras Bambang yang tidak meneleponnya semalam untuk menemani.


"Aku memang sengaja, Peter. Lagipula, sekarang, terbukti bagus, kan?! Dua dari tiga ajudanku sudah kelelahan. Andai kau ikut semalam, sekarang Aku cuma bisa andalkan Pardjo dan Tedjo serta bintara bantuan dari kantor."


Koes Andrina menanyai Arvina tentang Arvida. Dia bercerita bagaimana pertengkaran antara Arvida dan Bambang terlihat dari kejauhan ketika mereka sedang menunggu mobil di rumah sakit. Bahkan, Indah dan kedua ajudan Bambang turut menyaksikan.


"Aku tidak tahu, Ma. Aku tidak mau bertanya tentang hubungan Arvida dengan Bambang. Itu urusan mereka. Pokoknya, kalau Arvida disakiti Bambang, Aku tidak akan diam!"


"Kita semua tidak akan diam, Sayang! Sebagai sebuah keluarga, kita harus bersatu dan tidak membiarkan siapa pun mengusik kita! Lihat sekarang! Kalau bukan karena Arvida, belum tentu Hans cepat dilepas walaupun dia bersih!"

__ADS_1


Arvina membenarkan kalimat mamanya.


"Kalau si Bambang macam-macam, Aku akan jodohkan Arvida ke pria lain! Banyak pria keren yang mengharapkan Arvida sebagai pasangan. Sebenarnya, Aku menginginkan Arvida dan kak Willy bersatu. Mereka saling suka tanpa saling tahu. Tapi, bagaimana kalau Arvida ternyata masih cinta si Bambang? Nanti, Arvida jadi bercabang hatinya."


Tina mengemasi semua pakaiannya. Pertengkarannya dengan Krisna semalam ditutup sebuah tamparan Krisna di pipinya. Sudah kali kedua Tina merasakan tamparan Krisna. Tina mulai tidak betah. Krisna yang melihat Tina berkemas-kemas segera bersimpuh memohon maaf. Dia bersumpah tidak bakal melakukannya lagi. Tina pun tidak berani meninggalkan Krisna dalam keadaan hamil. Dia tidak akan mampu membiayai dirinya dan bayi dalam kandungannya. Tina harus bersabar. Dia mencintai Krisna dan uangnya. Dia tidak berniat melepaskan Krisna.


Todjo datang memeriksa keadaan Natalia. Masa kritisnya berhasil dilewati, namun saat ini tekanan darahnya sedikit naik dan ritme jantungnya lebih cepat.


"Kamu tidak tidur nyaman semalam, Natalia? Kamu menunjukkan tanda-tanda kelelahan."


Farid menceritakan tentang kejadian semalam.


"Si Hans dan si Haris? Saya tidak lihat berita. Jadi, bagaimana akhirnya?"


"Bapak Hans dibebaskan semalam karena terbukti tidak bersalah, sedangkan bapak Haris, sekretaris pribadi, dan ajudannya masih ditahan, Dok!"


"Syukurlah. Saya telepon dulu adik Saya, si Maraden. Natalia, usahakan tidur sehabis sarapan, ya! Toh, masalah si Hans sudah selesai. Kau juga tidur, Farid! Terima kasih karena bantu keponakanku Hans, Natalia. Hans anak baik. Tidak seperti kedua adiknya terutama Haris!"

__ADS_1


Todjo meninggalkan ruang rawat inap Natalia. Dia menyuruh seorang perawat memantau keadaan Natalia. Tedjo tiba dengan bik Yanah yang akan bertukar giliran dengan bik Ninis. Hans terbukti bersih dari tuduhan sementara Haris tidak bisa lagi menutupi kesalahannya. Arvina membenci Haris karena hampir menjerumuskan Hans.


__ADS_2