
Bambang melakukan sesuatu di depan seluruh orang. Dia meraih lalu menggenggam tangan Arvida sehingga Arvida memandang Bambang sekilas, tetapi dia mencoba tetap berekspresi wajah datar. Dia tidak ingin mempermalukan Bambang. Meskipun begitu, dia bertanya dalam hati apa maksud Bambang. Farid, Supardjo, Peter, Tedjo, dan para istri tersenyum tertahan.
"Waduh, apa maksud Jenderal? Menggenggam tangan Ibu Arvida di depan kami? Akan ada pernikahankah akhirnya?"
Peter berusaha menebak apa yang terjadi.
"Akhirnya, Sang Jenderal takluk juga! La ... la ... la ...."
Farid kesenangan melihat tingkah atasannya.
"Alhamdullilah .... Jenderal akan memiliki pendamping yang sepadan."
Supardjo tersenyum senang.
Sementara Tedjo dan para wanita melebarkan senyum.
"Ibu Arvida memang cocok jadi calon istrinya bapak Bambang."
Wenny menyimpulkan.
Hanya Achmad yang tidak berbicara sedikit pun. Setelah atraksi mengejutkan Bambang, Achmad memperkirakan apakah tepat saatnya memberitahu Bambang perihal penemuan anting berlian oleh bibik Minah. Natalia yang menyaksikan tingkah papanya kegirangan. Natalia berdoa agar kali ini hubungan papanya dan Arvida diakhiri dengan awal kisah bahagia mereka.
Ponsel Natalia berbunyi.
"Ya, Carlos."
....
"Gue di Bandung dari semalam. Cuma, kita janji ketemuannya hari ini, kan?!"
__ADS_1
....
"Lo mau ketemu di rumah Gue? Tapi, bokap Gue di sini. Lengkap sama ajudan, keluarganya, dan calon istri bokap! Mau?"
...
"Okay. Gue tunggu, Los."
Natalia menghentikan drama pertengkaran antar dua kubu suara hati. Dia harus mandi. Carlos berjanji menjemputnya pukul 01.00 siang. Carlos sampai di rumah Bambang tepat waktu. Carlos berkenalan dengan Natalia sewaktu mereka menjalani masa orientasi mahasiswa baru Unpad. Carlos tercatat sebagai anak fakultas kedokteran dan Natalia adalah anak fakultas hukum. Mereka tergabung dalam kelompok orientasi yang sama. Selesai masa orientasi, mereka tetap dekat. Mereka diwisuda di tahun yang sama. Namun, Carlos belum disebut sebagai dokter. Dia wajib menjalani kepaniteraan klinik koas selama dua tahun sebagai dokter muda untuk memperoleh gelar dokter. Carlos baru selesai tugas jaga di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung pagi ini. Bambang sudah lama mengenal Carlos. Sambil menunggu Natalia, Carlos, Bambang, dan Arvida berbincang akrab.
Rumah terasa sepi. Hanya Bambang, Achmad, dan Rocco yang tinggal selain para pembantu dan penjaga rumah Bandung. Achmad meminta ijin berbicara empat mata dengan Bambang di ruang kerjanya yang kedap suara. Achmad menunjukkan anting berlian temuan bik Minah kemudian menjabarkan ke Bambang mengenai rutinitas pembersihan kamar tidur Bambang lalu mengingatkan Bambang tentang kejadian Arvida menerima telepon Arvina saat CFD yaitu Arvina menanyakan mengenai anting berliannya yang hilang dilanjutkan dengan pembeberan fakta sewaktu Arvina menunggu di rumah Bambang, dan terakhir, Achmad membocorkan lokasi penemuan anting berlian itu. Wajah Bambang pucat pasi. Dia sungguh tidak sanggup meneruskan pembicaraan.
"Kamu pasti mengerti yang terjadi, Mad. Tapi, mengapa baru kamu beritahu Aku sekarang?"
"Siap, Jenderal. Saya mohon maaf telah lancang tidak memberitahu Jenderal secepatnya. Saya sesungguhnya masih mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Jenderal. Tapi, Saya putuskan hari ini setelah melihat kemungkinan rencana Jenderal terhadap Ibu Arvida!"
"Siap, Jenderal. Jenderal memegang tangan ibu Arvida di depan kami tadi pagi maka kami menyimpulkan kalau Jenderal berencana serius dengan ibu Arvida."
"Siapa yang tahu tentang anting berlian ini, Mad?"
"Siap, Jenderal. Hanya Saya dan bik Minah. Saya sudah minta bik Minah tidak beritahu siapapun!"
Bambang mengangguk tenang. Dia bersyukur mendapat ajudan berdaya pengamatan baik dan cekatan mengambil keputusan efektif dengan supervisi minimum bahkan tanpa supervisi. Memang Achmad bersalah karena tidak secepatnya mengonfirmasi informasi penting kepada atasannya, tetapi Bambang memaafkannya. Selama ini, semua informasi penting berkaitan pekerjaan selalu diterima Bambang dari Achmad dalam waktu singkat.
"Jadi, apakah saranmu, Mad?"
"Siap, Jenderal. Saya mohon maaf, Jenderal. Saya tidak mempunyai saran. Saya wajib menyampaikan apa yang harus Jenderal ketahui. Itu saja, Jenderal."
Para pelancong domestik kembali membawa seabrek belanjaan terutama para wanitanya. Mereka langsung menuju kamar tidur masing-masing. Seluruh belanjaan Arvida dibawa Achmad untuk diletakkan di kamar tidur Natalia. Dia sekalian hendak memindahkan bawaan Wenny ke kamar tidur besar para wanita sebab Arvida akan tidur dengan Natalia. Arvida membuka kulkas dan mengambil satu minuman kaleng. Bambang memandang figur Arvida yang membelakanginya. Dia tampak menimbang-nimbang.
__ADS_1
"Vid, nanti malam kita makan di luar?"
Arvida membalikkan tubuh. Dia membuka segel kaleng lalu meneguk habis isinya. Dia meletakkan kaleng minuman itu di meja makan. Dia menatap Bambang kemudian menggeleng yakin. Arvida memilih memperoleh penjelasan apa makna Bambang menggenggam tangannya di hadapan semua orang tadi.
"Apa maksud Mas memegang tangan Aku di hadapan semua orang tadi? Itu kali pertama dilakukan Mas yang dilihat orang!"
Bambang paham jika Arvida menuntut penjelasan.
"Aku yakin kalau kamu tahu arti manakala pria menunjukkan kemesraan kepada wanita di depan publik."
Arvida seakan tidak ingin mempercayai pendengarannya. Dia hampir menguburkan harapan mendapat kesempatan bersama Bambang. Tentu saja, dia tidak mungkin melupakan Bambang. Paling tidak sekarang ini. Arvida kembali membuka mulutnya.
"Banyak hal yang Aku pikirkan sebagai kemungkinan alasan dari tujuan Mas melakukannya. Tetapi, Aku menanti pengakuan jujur Mas!"
Bambang salah tingkah. Dia hendak bicara, namun wajah Arvina mendadak muncul. Bambang membeku sesaat. Tetapi, secepat kilat kehadiran wajah Natalia menggantikan wajah Arvina. Bambang menguatkan diri untuk memutuskan sesuatu yang seharusnya Natalia pantas miliki sejak lama.
"Aku tidak berniat sendiri di masa tuaku, Vid. Aku ingin berbagi hidup dengan seorang wanita yang Aku percaya sebagai teman saling membagi ketika datang kebahagiaan dan menguatkan saat muncul kesedihan sampai maut memisahkan. Wanita yang kumaksud itu ialah dirimu."
Arvida tetap bersikap tenang.
"Jadi???"
"Apakah kamu bersedia menjadi pendamping hidupku, Arvida Dahlia Simanjuntak?"
Arvida bernapas lega. Segenap beban beratnya langsung menguap tanpa tersisa.
"Aku bersedia, Mas Bambang Marino!"
Arvida bergegas mengabari lamaran Bambang kepada amanguda dan inangudanya, Hans, dan Arvina. Amanguda dan inanguda Arvida segera repot merencanakan kebaktian pengucapan syukur keluarga besar. Hans tengah berada di provinsi Papua ketika membaca pesan terkirim Arvida sesudah beberapa kali gagal menghubungi Hans. Hans menelepon Arvida begitu berhasil mendapat sinyal. Arvina bergembira walaupun di hatinya dia berharap semoga Bambang tidak mempermainkan Arvida. Arvina sejujurnya tidak menyetujui apabila Arvida dinikahi Bambang. Dia berpikir kalau Arvida semestinya mendapatkan pria yang jauh lebih baik. Lagipula, usia Arvida baru tiga puluh tahun. Namun, Arvina akhirnya memasrahkan setiap sesi hidup sepupunya hanya ke tangan Sang Pencipta. Apa pun masa depan yang dijalani Arvida kelak, Arvina memohon di doanya supaya hal terbaik yang disetujui Tuhanlah yang diperoleh Arvida.
__ADS_1