CINTA UNTUK EMPAT TENTARA

CINTA UNTUK EMPAT TENTARA
ORANG KETIGA (3)


__ADS_3

Natalia sedang membaca sebuah buku psikologi di toko buku Gramedia jalan Merdeka, Bandung.


"Bukunya menarik, Lia! Membantu kamu melatih kemampuan otak kiri. Tapi, harganya mahal sekali! Curi saja, Lia! Tidak ada yang tahu! CCTV jauh, kok! Lagipula, kalau ketahuan, kamu tetap selamat, deh. Siapa yang berani tangkap anak Pangkostrad, sih?"


(suara hati negatif Natalia)


Natalia berusaha menahan tidak tersenyum.


"Si Negatif memang jahat, Lia! Dia mau jebak kamu! Untung, kamu lagi membaca. Jadi, nggak ada yang curiga karena dipikir kamu ketawain apa yang di tulis di buku"


(suara hati positif Natalia)


Natalia mengembalikan buku itu ke rak. Isi bukunya menarik, tetapi harganya mahal. Dia berpikir mubazir membeli karena merasa tidak memerlukan. Tidak seperti kebanyakan anak kalangan atas, Natalia tidak terbiasa membeli barang yang disukai padahal tidak dibutuhkan. Tentu saja, dia punya cukup banyak uang. Papanya tetap memberikannya uang bulanan bernominal besar bahkan gaji supir dan uang bensin tetap ditanggung papanya. Empat tagihan kartu kredit miliknya pun rutin dibayar Bambang. Empat kartu kredit adalah jumlah yang sedikit untuk seorang putri jenderal. Namun, Natalia dari kecil diajar mendiang ibunya agar berhemat dengan pengeluaran keuangan, meskipun bukan berarti pelit terhadap diri sendiri. Sama seperti kebanyakan anak gadis lain, dia senang membeli pakaian, kosmetik, parfum, perangkat elektronik, dan berbagai barang konsumtif. Selain itu, dia tidak terlalu suka bergaul dengan sesama anak jenderal yang hobi menikmati gemerlap dunia tanpa memikirkan hari besok. Natalia tidak dipengaruhi hidup over konsumtif.


Carlos mengajak Natalia pergi. Rute perjalanan mereka menunjukkan ke arah Jatinangor. Achmad sabar mengikuti. Akhirnya, mobil Carlos berhenti di pinggir jalan raya di Jatinangor. Carlos menitipkan mobil ke pemilik warung yang kelihatannya akrab dengan Carlos dan Natalia. Achmad terpaksa memarkir mobilnya di warung deretan belakang yang agak jauh. Achmad gesit menyeberang jalan raya dan memasuki daerah pepohonan rindang. Dia berada dua ratus meter di belakang. Setelah tiga puluh menit berjalan, Achmad melihat layar ponselnya. Pergerakan Carlos dan Natalia melambat lalu berhenti. Achmad setengah berlari mencapai lokasi pemberhentian Natalia dan Carlos. Achmad melihat Natalia sangat jelas sekarang. Carlos menggendong seorang anak perempuan berusia tiga tahun sementara Natalia menggoda anak itu dengan ekspresi jenakanya.


Natalia dan Carlos tampak akrab dengan anak itu. Mereka seperti ... keluarga kecil yang berbahagia???


"Anak siapa itu??? Anaknya--"


Achmad teringat kejadian beberapa bulan lalu. Dia disuruh Natalia mengantar sekarung pakaian Natalia layak pakai ke sebuah panti asuhan.


"Pakaiannya ukuran besar semua, Lia. Punya siapa?"


"Punya Aku waktu kuliah! Aku gendut banget dulu, Mad. Kadang gendut ... kadang kurus. Berat badan Aku fluktuatif. Nggak konstan seperti kamu! Pokoknya, kalau kamu kenal Aku waktu itu, kamu pasti nggak bakal mau sama Aku, Mad!"


"Masaaa .... Belum tentu! Kalau kamu hamil anakku, kamu pasti gendut juga."

__ADS_1


"Hadeuh ... nggak nyambung!"


"Tapi, Aku tahu sekarang, Lia. Berat badan kamu tidak konstan sama seperti cinta kamu yang tidak konsisten."


Natalia membelalakkan matanya mendengar perkataan Achmad. Dia menghampiri Achmad dan mencubitinya bertubi-tubi. Achmad berusaha menghindar sambil tertawa.


Achmad menghela napas. Dia bertanya di hati apakah Natalia gemuk waktu kuliah disebabkan hal alami atau karena hal lain seperti hamil? Achmad gelisah. Dia harus mengetahui setiap rahasia Natalia. Achmad terus mengamati. Dia memilih tempat tersembunyi. Natalia seperti ibu yang telaten mengurus anaknya. Dia sabar menyuapi anak itu. Jika anak itu menolak, Natalia membujuknya.


"Hebat!!! Si sadis bisa sesabar itu ke anak kecil!"


Achmad mencoba menelepon Natalia. Natalia membuka tas selempangnya lalu meraih ponselnya. Natalia melihat sebentar, namun kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Achmad mengendalikan emosinya agar tidak mendatangi Natalia. Achmad memutuskan mengirim pesan ke Natalia.


"Lia, kamu di mana?"


"Kamu pulang jam berapa?"


"Jawab, Lia!"


"Aku tidak tenang."


Semua pesan Achmad mendapat dua centang biru. Akun Natalia menayangkan status sedang mengetik.


"Bukan urusan lo!"


"Stop hubungi Gue!"


"Lo itu ajudan bapak Gue!"

__ADS_1


"Lo bukan ajudan Gue!"


Achmad menenangkan diri. Dia sadar kalau Natalia marah atas perlakuannya tadi pagi. Pukul 07.00 malam, Carlos dan Natalia meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan melalui daerah pepohonan yang sekarang gelap gulita. Mereka masing-masing menggunakan senter. Tiba-tiba, muncul tiga berandalan di hadapan Carlos dan Natalia. Mereka mendesak Carlos dan Natalia mundur. Natalia ketakutan. Dia mengerti kalau para berandalan itu bukan hanya ingin merampok. Tatapan mesum para berandalan itu menyiutkan nyali Natalia. Dua orang menyuruh Carlos menyerahkan semua barang bawaan. Satu orang lagi mendekati Natalia. Natalia mulai menangis memohon tidak diganggu.


"Siapa suruh lewat tempat yang gelap, Teh? Lain kali, mah, dihindari, atuh, Teh! Sekarang, Teteh temani A'a dulu!"


"Papaaa ... Achmaaaddd ...."


Natalia hanya mengingat memanggil papanya dan Achmad. Waktu tangan kotor itu akan menyentuhnya, sesuatu membuat tangan orang itu terpelintir. Dia menjerit kesakitan. Kedua penjahat lain pun dipelintir tangannya. Natalia terpana. Achmad berdiri di hadapannya, namun Natalia cekatan mengajak Carlos mengambil kembali tas mereka dan meninggalkan tempat itu.


Mobil Carlos dan mobil Achmad memasuki kawasan Dipati Ukur. Carlos memberhentikan mobil di gedung kosnya. Carlos dan Natalia berbicara agak lama. Akhirnya, Natalia turun dari mobil Carlos. Achmad hendak menghampiri Natalia, tetapi Natalia mendatanginya lebih dulu. Belum sempat Achmad berbicara, Natalia memeluknya sambil sesenggukkan. Achmad mengajak Natalia pulang.


Achmad menghidupkan mobil. Sepanjang perjalanan, Natalia diam. Tetapi, jika sedang berhenti di lampu merah, Natalia menggenggam tangan Achmad.


"Aku sumpah tidak akan mau marah-marah lagi ke kamu, Mad!"


Achmad tertawa ringan mendengar janji Natalia dan caranya mengucapkan. Achmad membelai kepala Natalia.


"Kamu janji menuruti Aku dan tidak cepat ngambek lagi?"


Pertanyaan Achmad dijawab Natalia dengan menunjukkan dua jari membentuk tanda sumpah.


"Tapi, kamu harus dapat satu hukuman."


"Hukumannya apa, Mad?"


"Rahasia!!! Aku beritahu kamu nanti!"

__ADS_1


Achmad tersenyum simpul. Natalia mengelus hidung mancung Achmad. Achmad mencondongkan badan ke Natalia. Natalia menyambutnya mesra. Mereka berdua terkaget karena suara klakson mobil di belakang. Ternyata sudah lampu hijau! Achmad kembali menjalankan mobil. Sepuluh menit kemudian, mobil memasuki rumah Bambang. Natalia turun dari mobil kemudian berjalan melalui pintu belakang karena tidak ingin bertemu siapa pun dalam keadaan mata sembab. Dia langsung masuk kamar tidurnya. Rocco telentang di tempat tidurnya menunggu kepulangan mama Natalia.


__ADS_2